Kanaya terus melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 7 malam dan Alvaero belum juga pulang, ia dan Gavin sudah mencoba mencari anak itu di sekolah namun nihil, sekolahnya sudah sepi, semua rumah teman-temannya pun sudah mereka sambangi tak ada yang tau kemana Alvaero pergi.
"Dia gak biasanya begini kan Vin? Duh Al kemana ya? Apa jangan-jangan karena ucapan kamu? Tapi dia kemana?"
Gavin terdiam, apa ia sudah terlalu menyakiti anak itu hingga Al tidak pulang? Tidak mungkin, semarah apapun ia pada Al anak itu pasti akan tetap pulang, memangnya mau kemana dia pergi?
Namun nyatanya hingga pukul 9 malam anak itu belum juga kembali. Gavin sudah berkeliling mencari keberadaan Al namun nihil, berkali-kali Gavin mendial nomer Al, namun anak itu tidak mengangkat. Untuk pertama kalinya Gavin menghubungi Al lebih dari 2 kali karena biasanya anak itu akan langsung mengangkatnya
Sementara dibelahan dunia lain, Al menatap seseorang yang baru saja melemparnya dengan botol minuman bekas, ia sedang duduk diam sendiri di taman namun tiba-tiba beberapa orang datang dan tiba-tiba melemparnya dengan botol naas nya ia mengenal siapa orang itu.
"Ow ada anak manja lagi nangis disini, kenapa? Lagi kabur dari rumah? Lo lagi berantem sama Papa lo?"
Al tak menanggapinya, ia berniat pergi dari tempat itu namun orang itu menghentikannya, Al menepis kasar tangan orang itu.
"Gue gak minat buat masalah, mending lo minggir" ujar Al dengan wajah datar, ia tidak ingin di ganggu karena emosinya sedang tidak stabil.
"Tapi gue minat, ngecengin anak mami, upsss lo kan gak punya mami"
Al menatap seseorang yang bernama Raka itu dengan tatapan tajam, ia mengepalkan tangannya, ia melihat satu persatu orang-orang yang tertawa di depannya, ada 3 orang dan semua adalah anak-anak sekolahnya.
"Kasihan banget, anak mami tapi gak punya mami"
BUGH
Al memukul Raka dengan keras, lalu tak lama Raka membalas, bahu hantam terjadi, Al melawan 3 orang, dengan gerakan cepat ia memukul ke tiga temannya itu membabi buta, namun 3 lawan 1 tidaklah adil, berkali-kali Al mendapat bogeman keras hingga wajahnya babak belur namun ia tidak mau berhenti dan terus menyerang ketiga temannya hingga ke tiganya menyerah, Al berteriak marah.
"GUE EMANG GAK PUNYA MAMA!! GUE JUGA GAK PUNYA PAPA!! GUE GAK PUNYA SIAPAPUN DI DUNIA INI!! BRENGSEK!! AKHHHH"
Ketiga anak itu kaget, mereka bahkan saling menatap saat Al jatuh terduduk lalu menangis pilu. Ketiga menjadi iba pada Al, merasa bahwa sepertinya Al tengah menghadapi masalah yang sangat berat.
Ketiga anak itu terdiam, mereka ikut terduduk menyaksikan Al yang menangis.
"Woi, Alvaero, gue punya Mama sama Papa tapi kayak gak punya, mereka selalu sibuk dan gak pernah pulang, lo gak sendiri" ujar Raka dengan wajah datar, ia melirik Al yang masih menangis.
"Gak usah nangis lah, kayak cewek lu" ujar Dion salah satu temannya.
"Papa gue gak tau kalau gue anaknya, nyesek gak tu?" Ujar Dani salah seorang diantara mereka.
Niat hati ingin menjahili Al tidak jadi, ternyata mereka senasib, memang dunia orang dewasa itu sangat menyebalkan, masalah mereka akan menjadi momok terbesar bagi anak-anak yang tidak berdosa, tanggungjawab menjadi orang tua memang tidaklah mudah. Contohnya mereka, anak-anak korban dari egoisan orang dewasa yang tidak bertanggungjawab.
"Lo kenapa? Lagi berantem sama Papa lo?"
Al mulai tenang, ia menatap ketiga anak seumurannya yang ikut duduk di rumput.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tempat Pulang
FanfictionAlvaero Nathaniel Gavindra selalu berusaha menjadi anak baik untuk sang ayah, tak pernah membuat masalah, selalu berusaha menjadi yang terbaik di sekolah, patuh dan tak banyak tigkah. Selama 16 tahun hidup berdua dengan ayah, Al tidak pernah menunt...
