Suasana haru menyelimuti kediaman Gavin dan Kanaya, setelah prosesi ijab khobul semua orang tersenyum haru, hanya Al yang diam menatap Mama dan Papa nya dengan wajah sedih. Anak itu sejak tadi terdiam menyaksikan semuanya, ia bahagia namun ia tidak tau ada apa dengan perasaannya rasanya ia ingin menangis namun menahan diri karena malu dilihat oleh keluarga besar Mama dan Papa nya.
Acara pernikahan Mama dan Papa nya berlangsung sederhana, hanya acara makan biasa bersama keluarga dekat dan teman-teman Papa juga Mama. Tidak ada yang istimewa, hanya Mama nya saja yang tampil sangat cantik hari ini karena kembali menikah dengan Papa nya. Al tidak mengerti kenapa mereka menikah lagi tidak rujuk saja seperti biasa. Yang jelas Al mengikuti saja, yang penting Mama dan Papa nya lengkap sekarang.
"Sayang... kok melamun?" Tanya Kanaya mengelus bahu Al karena sejak tadi anak itu menyendiri dan tidak mau makan. Kanaya mulai khawatir.
Al tiba-tiba memeluk sang Mama.
Kanaya mengelus punggung anaknya, "Kenapa sayang? Al gak suka ya Mama sama Papa menikah?"
Al menggelengkan kepalanya, "Aku suka, aku bahagia kok, cuma aku gak nyangka aja Mama ada disini sama aku sama Papa."
Kanaya menarik nafas pelan, mata nya mulai berembun, ia mengelus punggung putra nya sayang, ia bersalah, ia sangat bersalah pada anak nya, pada darah dagingnya sendiri.
"Maafin Mama, nak."
Al menggelengkan kepalanya, ia melepas dekapannya menatap Mamanya yang meneteskan airmata, "Jangan nangis, Ma. Ini hari bahagia Mama." Ujar Al mengambil tisu di dekatnya lalu menghapus pelan airmata di pipi Mama nya, tidak mau membuat make up di wajah Mama nya menghilang.
"Udah Ma, nanti aku dimarahin Papa kalau buat Mama nangis."
Kanaya terkekeh kecil, "Gak ada yang boleh marahin anak Mama, termasuk Papa kamu, kalau dia marahin kamu, kasi tau Mama, biar Mama jewer."
Al tertawa kecil, "Bahagianya ada Mama. Ada yang konterin Papa deh." Ujar Al
"Apa kamu bilang?"
Suara bariton menggema, Al menyengir menatap Papa nya, "Ini hari spesial, gak usah ngamuk kali Pa."
"Mulai berani ya kamu." Ujar Gavin menarik telinga Al.
"Mama~~" rengek Al yang dibalas golesan di kepala oleh Gavin lalu menarik anaknya untuk ia peluk.
Al terdiam sebentar sebelum membalas memeluk Papa nya.
"Anak nakal, Papa masih gak rela kamu lebih suka Mama mu daripada Papa. Kita sudah tinggal bersama 16 tahun, tapi sekarang kamu lebih sayang Mama mu hah!"
Al tertawa kecil, "Makanya jangan kayak kulkas 10 pintu." Ujar Al yang membuat Gavin terkekeh lalu memeluk Al sambil menggelitiknya tak membiarkan anak itu lolos. Alhasil Al harus tertawa sambil memberontak meminta di lepaskan.
"Papa minta maaf, nak. Papa sayang sama kamu, dari dulu sampai sekarang. Maaf karena Papa belum bisa jadi Papa yang baik untuk kamu."
Al menggelengkan kepalanya, ia mendorong tubuh Papa nya agar melepaskan pelukan mereka, "Papa gak perlu minta maaf, kalau gak ada Papa aku mungkin gak akan bisa hidup sampai sebesar ini, Papa yang merawat aku dari kecil, walaupun Papa sedingin es tapi aku tau kok kalau Papa selalu mengawasi aku dari belakang. Makasih ya Pa, karena sudah merawat Al dari kecil, Papa pasti mengalami banyak kesulitan."
Gavin tersenyum dengan mata berlinang, ia mengusak rambut putranya, "Anak nakal Papa sudah besar. Tumbuh jadi lebih baik lagi nak, sama Papa dan Mama."
Gavin menarik Al dan Kanaya dalam dekapannya, mereka berpelukan bersama menyambut kehidupan baru yang akan mereka arungi bersama.
***
Kehidupan baru yang Al miliki kali ini sangat istimewa. Mendapati Mama dan Papa nya di meja makan menunggunya adalah mimpi nya sejak lama. Sarapan bersama lalu berangkat sekolah diantar kedua orang tuanya hingga suasana rumah yang penuh kehangatan membuat Al bahagia.
"Sayang, nanti Mama agak telat jemput, nanti Al barengan sama Nino ya?"
Al mengangguk, "Mama ada kerjaan?"
"Iya nak, Mama sama Papa ada sidang nanti, mungkin agak lama selesainya."
"Oh gitu, kasusnya Nino kah?"
Gavin dan Kanaya saling menatap, kasus itu kini sampai di tahap akhir, persidangan nanti akan menentukan siapa yang patut dihukum atas kejahatan yang terjadi pada Nino dan keluarganya.
"Iya, tapi Al gak boleh ngomongin ini sama Nino ya nak?"
"Iya Mama. Siap."
Kanaya tersenyum, ia menatap Al yang lahap makan, sesekali ia membersihkan sudut bibir Al yang selalu belepotan setiap sarapan karena terburu-buru. Namun senin kali ini, ia tidak sendiri, ada Mama dan Papa nya jadi Seninnya tidaklah setidakmenyenangkan dulu.
"Ayok Pa, Ma, aku sudah telat!"
Gavin menggelengkan kepalanya, "Makanya, bangun cepat kalau hari senin."
"Papa gak bangunin aku sih."
"Bamgun sendiri lah, kamu udah gede."
"Eleh bilang aja masih tidur sama Mama."
Gavin melotot sementara Al menjulurlan lidahnya jahil. Kanaya yang kini setiap hari mendengar perdebatan Gavin dan Al merasa terhibur, akhirnya Al dan Gavin berdamai dengan keadaan.
"Udah udah ayok, kita berangkat."
Keseharian mereka kini lebih berwarna, Gavin dan Al yang terus berdebat, Kanaya yang mengomel hingga mereka bertiga yang berakhir saling menertawakan menjadi salah satu rasa syukur yang patut mereka panjatkan.
Kehidupan sederhana seperti inilah yang bisa membangun kebahagiaan yang sebenarnya.
_The End_
Thank you sudah membaca cerita ini. Semoga cerita ini bisa menghibur kalian semua
Salam hangat
_Watermelonsugar_
KAMU SEDANG MEMBACA
Tempat Pulang
FanfictionAlvaero Nathaniel Gavindra selalu berusaha menjadi anak baik untuk sang ayah, tak pernah membuat masalah, selalu berusaha menjadi yang terbaik di sekolah, patuh dan tak banyak tigkah. Selama 16 tahun hidup berdua dengan ayah, Al tidak pernah menunt...
