Papa dan Ceritanya

1.2K 115 2
                                        

Sudah lebih dari dua minggu Al dirawat di rumah sakit, ia sudah bisa duduk namun masih belum bisa berdiri, ia menjalani terapi beberapa kali karena dislokasi pada panggulnya dan berkali-kali harus menjalani rehabilitasi hingga dikunjungi psikolog.

Tidak ada perubahan yang signifikan akan keadaan Al membuat anak itu frustasi sendiri, ia merasa bersalah pada Papa dan Mama nya yang selalu menjaganya di rumah sakit, bahkan berkali-kali harus terganggu tidurnya karena kepalanya yang kadang sakit tiba-tiba.

Seperti hari ini, Al mengeluh nyeri pada bekas operasinya, dokter berkata itu wajar karena operasi yang ia lalui memang operasi besar, dan ia hanya diberikan obat penghilang rasa sakit tapi Papa stand by di sampingnya sejak jam 6 pagi dan harus absen dari pekerjaannya karenanya.

"Pa"

"Ya? Kamu butuh apa?"

"Papa ke kantor aja, Al udah gak apa-apa, udah gak sakit"

"Papa gak ada kerjaan mendesak di kantor, Papa sudah izin ke Rendi"

Al menghela napas pelan, ia menatap sang ayah yang terlihat menunggu apa yang akan ia ucapkan.

"Papa, aku ini anak Papa kan?"

Gavin menyerngit mendengar ucapan sang anak, bagian mana dari sikapnya yang membuat anak itu bertanya seperti itu. Atau mungkinkah Alvaero sudah mengingat semua perlakuannya dulu hingga anak itu bertanya seperti itu?

"Kenapa nanya gitu?"

Al menggelengkan kepalanya, "Setiap aku lihat Papa, aku selalu sedih, gak tau kenapa"

"Al"

"Apa mungkin hubungan kita gak terlalu dekat ya sebelumnya? Atau apa Al buat kesalahan sebelum kecelakaan? Kata Mama, Papa sama Mama nyari Al sebelum kecelakaan, Al ini anak yang nakal ya Pa?"

Gavin menghela napas pelan, ia menggelengkan kepalanya, "Kamu bukan anak yang nakal, kamu anak baik, patuh sama apa yang Papa katakan, gak pernah membangkang atau membuat Papa kerepotan, kamu mandiri nak, bukan kamu yang membuat kesalahan tapi Papa. Kita... punya hubungan yang gak akan pernah dimiliki orang lain, kamu dan Papa, kalau ingatan mu kembali kapanpun itu. Kamu harus ingat kata-kata Papa nak. Kamu sama Papa, kita berdua itu partner hidup terbaik, kamu untuk Papa dan Papa untuk kamu, dan kamu harus tau kalau alasan Papa bertahan hidup sampai saat ini cuma kamu, semua kesalahan yang Papa lakukan dulu karena kebodohan Papa. Dan apa yang kamu lalui dulu itu juga karena kebodohan Papa, yang harus kamu ingat cuma satu Al. Papa sayang sama kamu nak, lebih dari apapun, hidup Papa cuma untuk kamu"

Al terdiam, ia melihat kesedihan dan penyesalan besar di wajah sang ayah, bahkan laki-laki berumur yang berwajah tegas itu tampak berlinang menatap ke arah. Al menjadi penasaran, apa yang telah terjadi padanya dan Papa sebelumnya.

"Pa"

"Hmmm"

"Papa mau nya Al ingat lagi atau gak?"

Gavin terdiam, ia dalam dilema, jika Al tidak mengingat semua kenangan bersamanya maka ia akan kehilangan anaknya, kehilangan Alvaero nya yang ceria, penuh perhatian, dan patuh. Namun kalau Alvaero mengingat segala yang terjadi, mungkin saja anak itu tidak akan mau memaafkannya, mungkin saja anak itu akan kembali kabur dari nya.

"Kalau dengan kamu mengingat semuanya kamu bisa sembuh dan sehat lebih baik kamu mengingat semuanya nak. Papa gak bisa lihat kamu kesakitan kayak tadi lagi"

"Aku pengen ingat Papa sama Mama, jadi Pa, tolong bantu aku ya"

Gavin mengangguk sambil menyentuh bahu anaknya pelan, "Pasti nak"

***

Hari terus berlalu, keadaan Al semakin membaik, terhitung sebulan sudah ia di rawat di rumah sakit, akhirnya setelah penantian lama, ia akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, pulang bersama Mama dan Papa nya. Walau masih harus rutin ke rumah sakit seminggu dua kali, Al senang, ia akhirnya tidak akan bosan lagi terkurung di ruang rawatnya.

Tempat PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang