Butuh satu jam Kira serta dua teman lelakinya menyelesaikan ruang itu. Mereka memutuskan untuk bersantai sejenak, melepas penat meski hari mulai gelap. Lampu pun mulai menyala menyinari ruang rapat itu. Glen dan Rio banyak membantu membuat segalanya jadi lebih mudah. "Makasih ya karena kalian berdua, pekerjaan kalian cepat selesai."
"Sama-sama," ucap Glen dan Rio bersamaan. Mereka saling memandang, melempar tatapan jengkel satu sama lain.
"Kira, habis ini kita ke supermarket gue mau traktir lo minuman dingin." Rio berkata lebih dulu, buru-buru menyimpulkan jika Kira ingin pulang bersamanya.
"Siapa bilang dia mau pulang bareng lo? Kira pulangnya bareng gue." Bukan Kira yang membalas tapi Glen.
"Lo juga jangan kepedean kali, Kira belum tentu mau pulang sama lo," sambar Rio ikut kesal.
"Eh udah kalian jangan bertengkar. Aku tidak akan pulang bareng kalian soalnya..." Suara langkah kaki menarik perhatian ketiganya. Seorang pria masuk ke dalam ruang rapat.
Baik Glen maupun Rio merasa tegang ketika pria itu menatap mereka penuh penilaian. "Ayah sudah sampai rupanya, aku sudah bilang nggak usah jemput."
Pria itu memandang Kira dan memberikan sebuah helm serta jaket. "Ayo cepat pulang, Ibu sudah khawatir." Kira mengangguk. Dia buru-buru mengenakan jaket kuning favoritnya beserta helm.
"Rio, Glen, aku pergi duluan ya. Kunci ruang rapat ada di pintu, alat-alat bersih taruh di gudang. Kalau mau masuk gudang, sanggah dulu pintunya takut kekunci dari dalam." Sesudahnya Kira pergi bersama Ayahnya yang tidak berucap sama sekali pada mereka berdua.
Glen pun bergegas mengambil tas mengejar Kira dan Ayahnya. "Lo mau ke mana woy? Masa gue harus beresin sendiri?!" tanya Rio setengah berteriak.
"Lo kan pengurus osis gue itu cuma murid sekolah biasa!" balas Glen disertai melambaikan tangan.
***
"Lo udah tidur?" Chat itu berasal dari Glen. Kira yang sedang mengerjakan PR terpaku sejenak sebelum akhirnya membalas.
"Belum, kamu kenapa ngechat aku?" Kira balik bertanya.
"Nggak cuma mau ngobrol sih. Mau basa basi juga boleh, gue lagi suntuk soalnya."
"Suntuk? Emangnya lo nggak ngerjain PR matematika. Besok kan ada matematika juga," tegur Kira.
"Itu bisa dicari nanti, gue rencananya mau nyalin sama lo."
"Nggak, enak aja. Aku yang capek ngerjain kamu cuma terima hasilnya," tolak Kira langsung. Wajahnya tidak menunjukkan kekesalan tapi senyuman penuh arti.
"Cuma bercanda santai."
"Eh gimana sama rencananya Anggi? Dia beli kan baju yang dia suka?" tanya Kira. Dia baru saja teringat dengan Anggi.
Tadi pun saking lelahnya, Kira tidak berniat untuk menghubungi sahabatnya. "Udah, gue nambahin uangnya yang kurang. Dia seneng kayaknya."
"Syukur deh, makasih ya Glen udah nemenin Anggi belanja."
"Ya, sama-sama."
"Soal uang kamu nanti aku ganti ya."
"Buat apa? Nggak usah gue udah bilang sama Anggi buat nggak usah ganti. Kebetulan punya uang agak lebih banyak jadi ya sekalian traktir asal dia mau balas traktir gue."
Kirana diam membaca balasan pesan Glen. Perasaan bersalah semakin larut apalagi mendengar Glen membayar baju Anggi. Harusnya Kirana saja yang menemani sahabatnya itu berbelanja.
"Tapi kalo lo masih keras kepala, lo cukup terima permintaan gue." Glen kembali mengirim sebuah pesan.
"Permintaan apa?" tanya Kira.
"Jauhin Rio. Dia kayaknya nggak punya niatan baik buat deketin elo."
"Tapi Glen dia...."
"Asal lo tahu Kira, Rio itu mantannya Cia otomatis Rio itu satu komplotan sama mereka." Glen mengirim pesan lebih cepat dari biasanya. Tidak mau Kira membalas dengan apapun itu.
"Glen, kamu kenapa? Ada masalah sama Rio? Kok kelihatannya kamu kesal banget sama dia?" Pertanyaan Kira tak dibalas oleh Glen.
"Nggak papa kalau kamu nggak mau cerita. Aku ada di sini kok, aku bakal nungguin kamu sampe kamu mau jelasin semuanya." Kira menaruh ponsel, kembali mengerjakan PR matematika.
Terdengar lagi notifikasi dari ponsel. Kira mengambil kembali dan hanya melirik sekilas. Sesaat Kira memusatkan perhatian pada buku pelajaran. Kali ini bukan suara notifikasi melainkan nada dering telepon.
Kira segera menerima tanpa tahu siapa yang menelepon. "Halo?" sapamya.
"Gue suka sama lo." Suara Glen terdengar begitu serak. Kira sontak berhenti, tidak tahu harus bereaksi apa.
"Mungkin alasan gue jatuh cinta sama lo itu benar-benar klise tapi gue jatuh cinta banget sama lo." Muka Kira memerah, mendengar gombalan Glen itu selalu biasa aja, hanya saja mendengar ucapan Glen yang menggebu-gebu membuat perasaan Kira tak karuan.
"Kamu ngomong apa sih? Jangan bercanda deh," sahut Kira mencoba untuk tidak terdengar gugup.
"Lo itu selalu aja anggep gue nggak serius tapi nggak papa gue juga ngerti kok."
"Ngerti apa?" Kira bertanya.
"Ngerti kalau kamu butuh waktu, gue akan nunggu di sini buat lo, selamat malam." Telepon dimatikan secara sepihak oleh Glen meninggalkan Kira dengan perasaan yang tidak karuan.
Nyaman namun terasa membuncah. Apa ini artinya dia mulai menyukai Glen? Entahlah Kira masih tidak begitu yakin tapi bisa saja suatu saat tak menutup kemungkinan dia akan luluh juga.
***
"Selamat pagi, Ben!" sapa Kira saat berpapasan dengan lelaki bertubuh tambun itu. Beni hanya menggumbar senyum sebagai balasan.
"Glen belum datang ya?" tanya Kira lagi.
"Iya nih pacar lo belum datang." Sontak mata Kira membola mendengar jawaban Beni.
"Ngaco kamu, aku sama Glen cuma temenan."
"Temen apa Demen? Palingan jadian lo sama dia. Cepet atau lambat yakin gue," kata Beni yakin.
Kira tak memerhatikan. Tatapannya tertuju pada Glen yang kini berjalan lurus menuju ke arahnya. Saat mereka bertemu mata, buru-buru Kira berbalik.
"Eh Ben, aku masuk dulu ya." Kira berjalan menuju kelas sementara Glen menghampiri sahabatnya itu.
"Kira kayaknya malu ketemu sama lo. Kapan nih lo nembak dia? Greget gue ngeliatin kalian berdua cuma deket udah kayak pacaran tapi nggak ada kemajuan."
"Ya mau gimana lagi Kira masih belum ngebuka hatinya buat gue. Gue harus bersabarlah," sahut Glen dengan tersenyum.
Keduanya kemudian berjalan masuk menemukan Kira duduk manis sambil membaca buku. Glen segera duduk di samping gadis itu. "Kira, minta tolong dong PR matematikanya."
Kira menatap Glen kesal tapi dengan pasrah memberikan buku catatan serta PR miliknya. "Makasih ya, lo emang teman yang baik."
"Mending cepat sebelum keburu masuk, kamu tahu kan guru matematika kita itu kayak gimana orangnya."
Glen mengangguk. Dia sebenarnya tak memperhatikan, pandangan Glen lebih terpaku pada PR Kirana.
Pada akhirnya bukan hanya Glen yang mendikte PR Kira, tergolong hampir semua murid kelas 2-C mencatat. Kira sendiri tak ambil pusing meski agak jengkel.
KAMU SEDANG MEMBACA
SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra
Teen FictionKirana menyimpan rasa suka kepada Bian tapi Biam malah menyukai Anggi, sahabat Kirana siswi "most wanted" di sekolah mereka. Dalam kekalutan hati, muncul Glen Argantara, pemuda menyebalkan yang suka membuat Kirana bingung . Banyak gosip beredar namu...
