Ciuman Pertama

31 5 0
                                        

Suara deru mobil terdengar dari luar, Glen langsung mengecilkan kompor dan berjalan keluar sambil membawa payung. Kira tidak mengikuti dia hanya ingin menunggu kue kering yang dia panggang itu.

Anak perempuan itu datang lagi setelah mengganti pakaian dan rambut yang dibaluti handuk. Dia mengambil kue kering buatan Glen lalu menyantap sambil duduk santai di depan Kira. "Kakak pacarnya Kakak Glen ya?" tanya anak kecil itu.

"Itu..."

"Nggak usah bohong, Kakak Glen itu cuma ceritain satu cewek doang. Aku ingat malah beberapa hari lalu dengan semangat bilang kalau dia itu udah punya pacar dan mau dikenalin sama Mama, jadi pasti Kakak." Kira tertawa gugup. Anak sekecil itu bisa langsung membaca situasi. Mengingat dia adalah adik kandung Glen yang cerdas jelas baginya mudah.

"Kenalin kak, aku Alice." Anak perempuan itu menjulurkan tangan dan diterima oleh Kira. "Nama Kakak Kira, senang berkenalan denganmu."

Alice menanggapi dengan anggukan pelan. Dia kembali mengambil dua kue kering buatan kakaknya untuk dicicipi. Kira lantas mengambil piring kecil, diambilnya beberapa kue yang kemudian ia beri pada Alice.

"Makasih kak," ucapnya singkat.

"Sama-sama." Kira dan Alice lalu duduk bersebelahan. Sama-sama memakan kue buatan Glen yang memang enak. Kira menghela napas, masakan apapun itu tidak mengecewakan lidah. "Jadi gimana rasanya pacaran? Terutama sama kakakku? Dia nggak aneh-aneh, kan?" tanya Alice penasaran.

"Aku rasa tak seharusnya anak kecil sepertimu bertanya soal pacaran. Belajar dulu yang rajin, nanti kalau udah besar baru boleh pacaran." Kira membalas santai.

"Bukan gitu," gumam Alice. "Setiap hari Kakakku selalu berbicara tentangmu. Dia sangat bersemangat dan Mama ikut penasaran soal Kakak,  tidak ada tiap hari tanpa membicarakan Kakak sampai Kakak Rehan bosan banget."

"Kak Rehan? Kakakmu yang satu lagi?" Alice membenarkan.

"Dia itu baik kok cuma emang orangnya lebih terus terang. Aku dengar Kak Rehan sempat ngomel kan sama Kak Glen, ya?"

"Iya, iya, Glen terlihat nggak suka kalau Rehan ngomongin soal kamarnya yang berantakan."

Alice tersenyum. "Soalnya Kak Rehan itu tukang kebersihan di sini. Segala sesuatu yang kotor dia beresin sampai bersih. Kalau Kak Glen itu chef maka Kak Rehan tukang cleaning service. Nggak jarang kamar Kak Glen itu diberesin sama dia, katanya kalau nunggu Kak Glen bantalnya udah lumutan."

Mendengar itu Kira tertawa, dia sudah bisa membayangkan bagaimana nada Rehan saat mengomeli Glen seperti ibu-ibu yang lelah sama kelakuan anaknya. Saat itu juga seorang wanita bersama dengan Glen datang menghampiri. "Eh ada tamu." Wanita itu berjalan mendekati Kira, menatapnya dengan senyum ramah.

"Halo Tante, saya..."

"Kira ya? Tante dengar banyak soal kamu dari Glen. Kamu cantik sekali tapi kok bisa ya kamu pacaran sama anak saya?" Senyum Kira mendadak hilang, tidak mengerti. "Iya apa sih yang kamu lihat dari Glen? Kamu tuh bisa dapetin yang lebih baik," lanjutnya menggoda Kira.

"Mama!" hardik Glen kesal.

"Maaf cuma bercanda, gitu aja udah marah sensi banget. Kira ke kamar tante yuk, Ada piyama yang cocok banget buat Kira."

"Eh nggak usah Tante habis kuenya matang aku bakal pulang kok."

"Ngapain? Nginap saja di sini. Kamu bisa kok tidur bareng Tante."

"Alice juga pengen tidur bareng Mama hari ini." Alice ikut menimpali tidak mau kalah.

"Boleh, boleh, pokoknya malam ini kita tidur bareng." Alice bersorak gembira. Rumah yang awalnya sunyi kini dipenuhi riang gembira dari penghuni rumah yang berkumpul.

SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang