Keesokan paginya, Kira diantar oleh Tasya pulang ke rumah. Gadis itu tak bisa tertidur dengan nyenyak mengingat ciuman pertama antara dia dan Glen. Sejak pagi tadi pun, Kira tak berani memandangi pacarnya itu.
Melirik bibirnya saja sudah membuat Kira merinding. "Makasih ya Tante sudah repot pagi-pagi begini antar aku ke rumah."
"Nggak papa sayang, Tante pun sudah janji sama Ayah kamu buat nganterin kamu pulang. Dia bilang akan sangat marah kalau Glen yang ngantar kamu. Lebih baik kamu pulang, bersiap ke sekolah yah Tante titip salam buat Ayah sama Ibu."
"Sekali lagi makasih ya Tante. Hati-hati di jalan." Kira keluar dari mobil dan bergerak masuk ke dalam gang menuju kompleks perumahannya.
Jam masih menunjukkan pukul 05.30 tapi suasana dalam kompleks sudah mulai ramai. Beberapa pintu rumah terbuka dan mulai beraktivitas.
Begitu juga rumah Kira, Tampaknya sang Ibu sengaja agar kalau Kira pulang, pintu sudah terbuka. "Ibu, Ayah."
"Eh sudah pulang rupanya," sapa Ibu Kira. "Gimana? Enak tidurnya di sana?" tanya Ibu Kira memulai obrolan mereka.
Kira tertawa renyah. Dia tak bisa tidur dengan tenang sebab masih terbayang-bayang dengan Glen. "Enak kok Bu, aku senang karena aku tidurnya bareng Alice sama Tante Tasya, mereka heboh sekali."
"Baguslah kalau kamu tidur bareng Alice sama Tante Tasya, Ayah khawatir sekali kalau kamu tidur sendiri."
Ibu Kira tertawa. "Asal kau tahu saja Ayahmu nggak bisa tidur soalnya kepikiran kamu terus."
Kira menggelengkan kepala. tak habis pikir betapa cemasnya sang Ayah padahal dia sudah menjelaskan semuanya dan tak perlu berpikiran negatif. "Sekarang ayo siap-siap, kita sarapan terus ke sekolah."
Kira mengiyakan permintaan sang Ibu dan masuk ke kamar. Cepat-cepat dia bersiap untuk ke sekolah dan diantar oleh Ayahnya. Kue kering yang dia buat akan dibawa oleh Glen menuju pada Nadia jadi Kira tak perlu repot lagi.
Semua pikiran Kira hanya tertuju pada Glen. Ciuman panas itu, membayanginya saat tidur sampai sekarang. Dia baru berusia 16 tahun, bagaimana bisa Kira punya pengalaman yang cukup intens seperti itu? Apa dia harus menceritakan ini pada Anggi? Jelas pikirannya sangat sibuk untuk saat ini.
"Kira!" Suara Ayahnya membuat Kira terkejut. Pria itu memandanginya dengan tatapan bingung. "Kok kamu nggak turun? Kamu mau bolos sekolah?" Kira mengerjapkan mata, sadar motor yang dikendarai Ayahnya sudah sampai di gerbang.
Beberapa murid ramai masuk ke dalamnya dan dari mereka ada yang menatap bingung pada Kira. Gadis itu tertawa canggung lalu turun dari motor Ayahnya. "Makasih Ayah, Kira cuma kepikiran tugas aja."
"Yakin?" Kira buru-buru mengangguk. Diciumnya tangan sang Ayah kemudian pergi agar pria itu tak curiga.
Setelah merasa cukup jauh, Kira mengembuskan napas kasar. Dia dengan berjalan pelan kembali melamun sepanjang perjalanan menuju kelas. Dia terlalu banyak berpikir sampai tak sadar Anggi menghampiri dan menepuk bahunya.
"Aduh Kira, aku udah panggil kamu tapi nggak nyahut-nyahut juga kenapa? Kok masam begitu wajahnya." Wajah Kira makin cemberut, matanya terlihat begitu memelas.
"Anggi, gimana ini? Tolong aku..."
"Hah? Kenapa Ra? Kamu punya masalah sama Glen? Di mana bocah tengil itu? Biar aku yang urus!" kata Anggi penuh emosi.
"Aku memang punya masalah sama dia tapi masalah ini lain, dia nggak nyakitin aku kok." Ekspresi Anggi berubah, masih kesal tapi dia juga heran.
"Terus gimana? Coba bilang apa yang terjadi..."
"Jangan di sini banyak orang, ayo ke tempat yang sepi. Perpustakaan udah buka nggak?" tanya Kira.
Anggi berdecak. "Dari pada le perpustakaan mending ikut saja sama aku, aku punya tempat yang lain." Tangan Kira ditarik oleh Anggi, bergegas menuju suatu tempat.
Mereka akhirnya sampai di gudang. Sebuah tempat di mana hanya ada mereka berdua dan kini Kira menjadi gugup. "Ayo katakan apa masalahnya?" desak Anggi langsung pada sahabatnya itu.
"Aku tak tahu harus mengatakan apa tapi sepertinya aku sangat malu sekarang."
"Kira, katakan saja. Aku sebagai sahabatmu pandai sekali merahasiakan sesuatu," lanjut Anggi meyakinkan.
Kira mengembuskan napas panjang. "Baiklah..." Ada jeda sedikit, Kira menatap lurus pada Anggi yang tampak bersemangat. "Aku ciuman sama Glen."
Mata Anggi membulat. Dia mencoba mencerna ucapan sang sahabat sambil terus memandangi Kira yang tampak gelisah. "Sekarang aku tak tahu harus bagaimana melihatnya, Anggi bantu aku. Aku nggak bisa liat Glen!"
"Hah? Kalian berciuman?!" Anggi yang baru sadar menjerit kegirangan.
"Stt, jangan kencang kencang nanti kalau ada orang yang tahu gimana?" ujar Kira sambil melihat pintu gudang yang tertutup.
"Kalau menurutmu kau dipaksa ayo kita datangin dia! Kita minta pertanggungjawabannya karena sudah menciummu tanpa izin."
Kira buru-buru menggeleng, wajahnya memerah. "Aku yang mulai duluan," gumam Kira pelan.
"Hah?"
"Ta, tapi aku cuma cium di pipi kok terus Glen..."
"Dia cium bibir kamu." Kira mengangguk pelan dengan senyum malu-malu. Anggi mengulum senyum dan memeluk sahabatnya itu. "Kalau terjadi sesuatu jangan sungkan hubungi aku. Aku akan langsung datang kalau dia macam-macam."
Kira mengiyakan. Keduanya kemudian menuju ke kelas masing-masing. "Selamat pagi Kira," ucap Beni.
"Pagi juga Ben," balasnya kaku.
"Kok gitu sih? Kira, kamu itu pacarnya Glen dan pacarnya Glen adalah temanku juga." Kira hanya menyunggingkan senyum. Dia benar-benar tak ingin berbicara termasuk seseorang yang ingin dia abaikan.
"Selamat pagi Ben." Suara Glen langsung membuat Kira merinding. Dia buru-buru masuk, mencoba bersikap biasa saja tapi bayangan lelaki itu terlihat jelas berada di depan kelas.
Kira segera mengeluarkan buku mencoba mengulang materi kemarin. "Pagi Kira." Ini dia pacarnya datang.
"Pagi." Kira membalas datar. Tak tersenyum, tak menatap. Glen benar-benar dihiraukan.
"Kok pagi gini sudah belajar? Perasaan kita nggak ulangan hari ini." Bukan Glen namanya yang selalu mengomentari setiap kegiatan Kira seperti yang sudah-sudah tapi sekarang gadis itu tak memedulikannya.
Glen lantas mengambil sebuah kursi yang dekat dari meja Kira agar dia bisa duduk dekat dengan orang yang ia sukai. "Oh ya kata Nadia, kue yang kita buat enak loh. Kayanya ada kabar baik."
"Baguslah, aku tak sabar untuk ikut kegiatan ekstrakurikuler kalian." Kira menjawab tapi perhatiannya terus tertuju pada buku catatan.
Glen bukan orang bodoh. Dia paham betul sekarang Kira berusaha untuk tidak menatapnya. Ada perasaan malu juga saat memandangi Kira, dia juga mengingat apa yang terjadi semalam.
"Kira," bisiknya. Wajah Glen mendekati Kira sampai hanya menyisakan jarak satu centi. "Apa lo malu karena kita ciuman tadi malam?" lanjut Glen bertanya.
Darah Kira berdesir panas. Dia sontak menoleh dan terkejut saat tahu betapa tipisnya jarak di antara mereka. Kira sontak menjerit kaget lalu refleks mengambil salah satu buku yang tidak terlalu tebal untuk menghantamnya ke wajah Glen.
"Dasar mesum!" Kira segera berdiri dan keluar dengan langkah cepat. Beni yang melihat itu hanya bisa menggeleng.
"Glen, Glen, lo keterlaluan sih makanya pacar lo ngambek tuh." Glen berdecak dan mengusap wajahnya yang tidak terlalu sakit itu.
***
See you in the next part!! Bye!!
KAMU SEDANG MEMBACA
SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra
Fiksi RemajaKirana menyimpan rasa suka kepada Bian tapi Biam malah menyukai Anggi, sahabat Kirana siswi "most wanted" di sekolah mereka. Dalam kekalutan hati, muncul Glen Argantara, pemuda menyebalkan yang suka membuat Kirana bingung . Banyak gosip beredar namu...
