"Cukup, kalian berhenti bertengkar." Ita melihat sebentar pada Cia memberikan isyarat agar dia pergi dari tempat itu agar masalah tak sampai berlarut-larut. "Awalnya aku pikir kau itu lemah dan bisa dikendalikan begitu saja tapi ternyata kau tangguh selera Glen memang bagus."
"Intinya adalah aku ingin kalian tak menggangguku lagi. Aku akan dengan senang hati membantu sebisaku tapi setelah tahu aku dimanfaatkan aku tak bisa menolerir semua perbuatan kalian kepadaku!" Kira menjelaskan masih dengan emosi yang sama. Lugas dan serius.
Ita sendiri dilain pihak hanya tertawa kecil, penuh ejekan dan meremehkan lawan bicaranya itu. "Aku senang dengan semangatmu itu, tapi kau juga harus sadar siapa lawanmu. Pak Bima, Pamanku dia bukan orang sembarangan yang bisa kau kalahkan dengan mudah. Dia adalah seorang yang berpengaruh dalam sekolah jadi sebelum kau menegurku tolong pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu jika melawan Pamanku..."
"Justru karena dia orang yang berpengaruh, Pak Bima harus menjadi contoh baik bagi siswa dan rekan kerja. Dia seharusnya tak bias pada setiap siswa terutama padamu yang adalah keponakannya. Dengan semua saksi dan bukti yang ada mengapa juga aku harus takut, aku tidak salah di sini tapi kalian yang salah. Jangan hanya karena aku itu kelihatan lemah bukan berarti aku tidak bisa melawan kalian."
"Benarkah? Wah aku tak sabar melihat bagaimana kau bisa mengalahkan Pamanku, itu pun kalau kau bisa," cibir Ita mengejek.
"Terserah kamu saja tapi sekarang aku tahu satu hal mengapa Glen tidak pernah menyukaimu." Sesaat dalam ruangan sunyi, entah kenapa suasana terasa mencekam dan sesak ketika Kira mengucapkan satu nama. Ita yang awalnya sering senyum langsung muram begitu mendengar nama orang itu.
Orang yang memberikannya rasa suka sekaligus kebencian mendalam. Kedua rasa itu selalu beriringan tanpa salah satu mengalah. Ini membuat Ita bingung sekaligus menikmati sensasinya. Rasa sakit sebab tak bisa memiliki dengan hati membuncah hangat saat mendengar nama itu selalu unik.
"Dia tak akan pernah menyukaimu sebab Glen tahu kau itu bukan orang yang baik, egois dan manipulatif. Kau lebih mencintai dirimu sendiri ketimbang orang lain, bahkan sebenarnya perasaanmu pada Glen bukanlah sebuah cinta melainkan obsesi. Obsesi yang tidak akan pernah puas bahkan sekalipun kau memiliki Glen."
Pembicaraan mereka berakhir tak baik. Bagi Ita, Kira telah menjatuhkan harga dirinya di depan teman-temannya. Sudah pasti ada harga yang harus dibayar. Ita melirik pada Cia. Meski mata gadis itu sembab sebab menangis, dia menganggukan kepala tanda mengerti.
Mengetik sebentar lalu mengesat air mata. Cia memandangi Kira yang baru saja keluar dari ruang karaoke. Pembalasan dendam Cia dan Ita dimulai.
***
Kira mengembuskan napas panjang. Dia pikir tidak akan bisa berbicara panjang lebar tapi begitu mendengar nama Glen disebut, tak sadar Kira langsung emosi. Ada perasaan bersalah tapi Cia pantas mendapatkan kata-kata yang tajam itu.
Selalu saja sombong dan menganggap dirinya tinggi padahal kalau dilihat lebih teliti lagi dia itu tak ubahnya dayang Ita yang selalu mengiyakan apapun keinginan Ita. Dia itu penjilat handal.
Selain itu Kira pun kasihan padanya. Selama ini selalu jadi kaki tangan Ita tanpa sadar Cia pun dimanfaatkan oleh Ita sendiri. Mengotori tangan sia-sia hanya untuk kemudian hari akan disalahkan. Entah kapan Cia akan sadar jika dia dibodohi.
Kira yang larut dalam pemikiran tiba-tiba saja dikagetkan oleh sebuah tangan melingkar di leher. Secara otomatis, Kira langsung mendorong mundur si empunya tangan. "Eh gadis cantik, jangan takut kami cuma ingin kamu temani kami untuk minum." Seorang lelaki matang dengan suara parau mulai berbicara. Dari gaya berbicara dan sikap, pria itu habis minum.
KAMU SEDANG MEMBACA
SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra
Teen FictionKirana menyimpan rasa suka kepada Bian tapi Biam malah menyukai Anggi, sahabat Kirana siswi "most wanted" di sekolah mereka. Dalam kekalutan hati, muncul Glen Argantara, pemuda menyebalkan yang suka membuat Kirana bingung . Banyak gosip beredar namu...
