Ekstrakurikuler

10 1 0
                                        

"Jadi saya tidak akan berurusan dengan Bapak kalau saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler?" ulang Kira pada Pak Bima. Dia tersenyum cerah mendengar itu.

Pak Bima mengangguk. "Kamu itu belum punya ekstrakurikuler mana pun, jadi sampai jumat nanti kamu harus punya kegiatan kalau tidak kau akan tetap bersama pengurus osis."

"Baik, saya terima ini, kalau begitu saya pergi dulu ya Pak." Pak Bima mengangguk saja, tak mau mencari gara-gara dengan Kira lagi. Bisa saja dia akan bernasib sama dengan keponakannya.

Dua hari telah dilewati. Ita dan beberapa sebagian teman yang lain telah bebas tapi ada beberapa yang masih mendekap di penjara terutama Cia. Rupanya Ayah Kira tak mau melepas dengan mudah gadis itu.

Ita mungkin adalah otak dari bagian rencana jahat tapi Cia adalah orang yang mengeksekusi semua rencana tersebut. Ayah Kira dengan sengaja membuat berita miring tentang perusahaan milik keluarga Cia dan berujung dia tak bisa berbuat apa-apa selain diam di balik jeruji.

Bukan hanya itu, Cia sengaja di tempatkan dengan beberapa orang yang bisa menekan dia. Pernah Kira datang berkunjung, Cia langsung meminta ampun. Penampilan cantik dan modisnya tak terlihat lagi. Hanya Cia, seorang gadis lemah tidak berdaya di hadapan seorang Kira.

Kira sendiri meminta Ayahnya untuk jangan terlalu keras tapi pria itu bersikeras agar tetap menekan Cia sampai ia menyerah dan berpihak pada mereka.

"Kira," panggil Anggi. Kira akhirnya sampai di kantin menemui teman-temannya yang sudah berada di sana termasuk Glen. Dia kemudian mengambil tempat di sisi pacarnya itu untuk makan siang.

"Jadi gimana kamu nggak diajak berdebat sama Pak Bima?" Bian bertanya lebih dulu.

"Nggak, dia cuma minta aku untuk gabung kegiatan ekstrakurikuler. Aku bingung mau masuk apa." Kira menyahut terlihat bingung.

"Kamu itu pintar Ki, kenapa nggak masuk anggota olimpiade matematika atau fisika gitu." Anggi memberi usulan.

"Enggak deh, kalau masuk olimpiade kayak gitu aku pernah di SD dan SMP."

"Oh iya juga..." ucap Anggi singkat.

"Kalau gitu gimana anggota debat? Lo kan jago banget debat buktinya Pak Bima lo lawan." Semua mata memandangi Rio yang berada di samping Bian.

Sudah dua hari ini Rio ikut duduk bersama mereka. Meski tidak dianggap oleh Glen tapi perlahan pemuda itu bisa akur dengan Anggi dan Bian.

"Diam lo temannya Kira!"

"Lah gue emang temannya Kira, wajar dong gue ngeluarin pendapat." Rio membalas dengan nada enteng.

"Tapi pendapat lo nggak dibutuhin di sini, gue sebagai pacarnya nggak mau dia ngikutin arahan elo."

"Iya, iya yang baru jadian dua hari. Terserah lo aja, gue akan ngedukung apapun keputusan teman gue."

"Nggak mau!" tolak Kira. "Aku memang jago soal itu bahkan Ayahku selalu mengajarkan aku untuk tidak takut berterus terang tapi aku rasa aku sudah cukup baik toh nantinya kelanjutan perusahaan keluarga akan diberikan padaku jadi tidak."

"Kamu juga nggak mau, kan dengan ekstrakurikuler olahraga terus maunya apa?" Kira diam, mengiyakan ucapan Anggi.

"Kalau gitu gimana dengan ekstrakurikuler masak?" tanya Glen memberi ide.

"Ekstrakurikuler memasak? Bukannya ketua klub si Nadia ya, anak kelas 3-B." Glen mengangguk, membenarkan ucapan Anggi.

"Kenapa dengan ekstrakurikuler itu?" tanya Kira tak mengerti.

"Supaya seimbang. Gue bisa masak lo juga bisa masak jadi kalau ada satu orang yang terlambat yang satunya nggak bakal kesusahan buat masak kalau kita hidup bersama nanti," jawab Glen dengan senyum tengilnya.

Anggi memutar mata bosan sementara Kira menggelengkan kepala. "Bagaimana Kira, mau apa?" Kira membuang napas. Dia yang memang tidak tertarik dengan kegiatan ekstrakurikuler sekarang hanya bisa pasrah.

"Aku pilih saja ekstrakurikuler Glen saja, toh selain itu aku memang tidak tertarik apapun."

"Nah gitu dong, gue chat Kak Nadia dulu supaya formulirnya bisa lo dapat." Glen berujar dengan semangat. Dia sangat senang Kira mendengarkannya.

"Loh bukannya Nadia itu paling anti ya nomor teleponnya dibagi sama orang lain apalagi orang kayak lo. Dia kok mau kasih nomor teleponnya sama lo?" Setelah lama diam, Rio akhirnya bersuara.

"Ya iyalah gue itu Glen, tiap orang yang gue temuin pasti bakal kasih nomornya sama gue. Btw, ngapain sih gue jawab pertanyaan dari lo."

"Sudah, sudah. Jadi gimana? Sudah dapat dapat kabar dari Kak Nadia."

***

"Jadi kalau masuk ke kegiatan ekstrakurikuler kami itu simpel saja cukup buatin kami kue kering untuk bisa dinikmati tiap anggota." Kini Kira berada di depan Nadia sekarang, ketua klub memasak. Untuk kegiatan ekstrakurikuler, ruangan klub memasak begitu bersih dan luas. Beberapa meja yang terbuat dari beton panjang tersusun rapi dilengkapi dengan alat memasak. Ada lemari penyimpanan celemek dan alat-alat makan juga. Sebuah wastafel tempat cuci tangan dan alat cuci piring canggih pun ada di sana.

"Kue kering? Tapi saya belum pernah coba masak kue kering." Kira memang pernah bantu ibunya untuk membuat kue tapi sebagian besar ditangani oleh Ibunya sendiri jadi untuk membuat dan mencampurkan bahan Kira belum paham sepenuhnya.

"Jangan khawatir, Glen bisa bantuin kamu. Dia itu anggota kami yang paling handal, jadi good luck." Nadia tersenyum memberikan semangat. "Oh ya, by the way kamu ya pacarnya Glen?" tanya gadis itu tiba-tiba.

"Kakak tahu dari mana?" Kira balik bertanya. Ada perasaan tak enak disertai dengan senyum hambar.

"Tentu saja kami tahu, Glen sering banget posting foto kamu di grup. Pamer kalau kalian jadian, posting kalau kalian jalan-jalan berdua padahal kalian baru jadian dua hari yang lalu. Semua media sosial pun sekarang dia ganti foto profilnya yang ada bareng kamu. Sekarang kamu dikenal banyak orang loh! Ternyata bener apa yang dia posting kamu itu lucu banget!" Nadia yang gemas mencubit pipi Kira singkat.

"Mulai sekarang kita temen, temennya Glen itu teman aku juga begitu juga tiap anggota di sini. Nanti kalau udah selesai datang bawa ke sini ya." Kira yang masih kaget berjalan keluar dari ruang klub memasak. Glen sudah menunggu di luar dengan senyum manis.

"Jadi gimana?" tanya Glen penasaran.

"Dia bilang bikin kue kering buat tiap anggota. Kamu posting aku ya di media sosial?" Kira balik bertanya.

"Emang kenapa? Kita pacaran wajar kan kalau gue posting pacar gue sendiri."

"Gara-gara kamu, pipi aku jadi sakit. Kak Nadia cubit aku dibilangnya aku imut." Glen tertawa kecil.

"Iya, iya maafin gue. Sini gue lihat pipinya, masih sakit nggak?" Kira sontak mundur.

"Nggak usah, udah mendingan sekarang. Bantuin aku untuk cari resep kue kering yang mudah dibuat biar aku bisa masak. Bantuin aku juga soalnya masak kayak gitu aku nggak tahu takarannya kayak apa."

"Iya, iya bawel," ujar Glen sambil menepuk kepala Kira.

***

See you in the next part!! Bye!!

SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang