Kira berjalan keluar dari area perkemahan, dengan menenteng tas dan beberapa barang dia menyusuri jalan raya yang sepi. Hanya sesekali kendaraan berlalu lalang tapi tak satu pun yang berhenti untuk menawarkan bantuan. Kira pun tampak diam saja tidak berniat meminta tolong.
Dari area pramuka, sebuah motor keluar berjalan mendekati Kira. Itu adalah Rio yang kemudian menyamakan laju motornya agar bisa mengobrol. "Kira." Panggilan Rio menyadarkan Kira dari lamunan.
"Kenapa bengong gitu? Ayo naik gue bakal bawa lo pulang." Kira mengerjapkan mata, melihat pada Rio sebelum akhirnya menjatuhkan barang-barang yang ia pegang.
Tangannya bergetar hebat sedang kedua mata Kira mulai berkaca-kaca. Rio tertegun, sedikit kaget dengan reaksi gadis itu. "Kenapa? Kok kaget gitu?" tanya Rio.
"Aku tidak percaya, aku bisa melawan Pak Bima. Aku... ini pertama kalinya... bagaimana ini? Aku akan dihukum Ayahku... Aku akan punya catatan merah di rapor." Rio bernapas lega kemudian mendengus geli. Kira tetap saja gadis baik, bodohnya setelah melawan orang yang salah dia memiliki penyesalan. Selalu saja naif.
"Lo nggak usah khawatir Kira." Rio bersuara menyita perhatian Kira yang sejak tadi menggumam tak tentu. "Apa yang lo lakuin itu udah bener kok, sebenarnya banyak pengurus osis yang merasa Pak Bima keterlaluan karena membedakan yang lain dengan keponakannya sendiri tapi sebab Pak Bima itu ditakuti ditambah semua teman Ita itu pengurus inti osis termasuk ketua, mereka diam saja dan kalau dipikir-pikir lo itu hebat banget."
"Benarkah?" Rio mengangguk. Pemuda itu tersenyum lebar dan bertepuk tangan tiba-tiba.
"Selamat untuk Kira, karena sudah jadi anak nakal," lanjutnya menggoda.
"Aku bukan anak nakal!" sergah Kira. Wajahnya memerah menahan malu.
"Iya anak nakal yang baik." Rio tertawa renyah. "Mau naik tidak, kalau enggak gue pergi nih."
"Eh iya tunggu." Kira mengambil barang-barang yang terjatuh dan duduk di jok belakang.
"Kita mau ke mana dulu? Ke rumahmu atau ke rumah temanmu."
"Ke rumah temanku." Rio menganggukan kepala dan menarik gas. Laju motor semakin cepat. "Jangan terlalu cepat, aku takut. Pelan-pelan saja."
"Tenang saja kok, kita bisa cepat sampai pegangan." Kira tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya memegang ujung jaket Rio dengan erat.
Menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, mereka akhirnya sampai di runah Anggi. Dari luar rumah, mereka bisa melihat para tamu yang menghadiri acara ulang tahun dari tuan rumah.
Kira masuk setelah memperbaiki penampilan. Sayang sekali, dia tak memiliki waktu untuk bersiap-siap. Kira bahkan baru melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah, Anggi tiba-tiba keluar dari rumah. Senyum yang paling lebar ditampakkan untuk sahabat seorang.
"Kau lama sekali datangnya, ayo masuk." Anggi lalu melihat ke arah Rio. "Kau juga ayo masuk." Rio hanya mengangguk pelan, meski terlihat canggung.
Di dalam Kira bertemu mata dengan Bian dan Glen. Mereka hanya melempar senyuman. Anggi menempatkan Kira di tengah-tengah semua tamu. "Terima kasih sudah datang, acaranya hampir saja selesai dan sekarang acara potong kue ulang tahun."
Anggi mengambil sebuah piring kecil berisi sebuah kue. "Aku sengaja menyimpan kue ini untuk kamu." Dia menyodorkan potongan kecil kue. Kira menerima kue itu dan kemudian menyodorkan potongan kecil kue untuk sahabatnya itu.
Tak berapa lama acara itu selesai, para tamu mulai pulang satu demi satu menyisakan Anggi beserta para teman dekat. Di sana ada juga Rio yang duduk berjauhan tanpa memiliki minat bergabung. Ia di sana hanya untuk Kira.
"Aku hampir saja berpikir kalau kau tidak akan datang jadi bagaimana kau bisa keluar dari kegiatan pramuka?" tanya Anggi penasaran. Dari tatapan Bian dan Glen pun ikut tertarik pada pertanyaan sahabat mereka itu.
Sementara Kira terlihat canggung saat ingin menjelaskan, Rio berdecak kesal. Meski dia duduk agak berjauhan, suasana yang sunyi cukup membuat suaranya terdengar. "Dia memarahi Pak Bima."
Kedua temannya membulatkan mata sedang Glen memandang tak suka pada Rio. "Diam lo, kita tuh lagi bicara sama Kira bukan sama lo."
"Terus gimana? Kamu nggak akan punya masalah, kan?" tanya Anggi prihatin.
"Dia bentak Pak Bima di depan semua orang menurut lo, dia bakal di hukum atau nggak?" Rio bersuara lagi. Kali ini bukan hanya Glen yang melotot tapi Bian juga.
"Intinya adalah aku akan tetap punya masalah. Aku akan meminta bantuan Ayahku dan ayo kita lihat apa aku bisa keluar dari masalah ini."
"Lalu bagaimana dengan Ita dan temannya yang lain? Mereka tidak boleh keluar dari masalah setelah kau mendapat masalah?! Aku tak terima dengan hal ini, ayo ganti bajumu dan kita labrak mereka!" Anggi beranjak dari tempat duduknya, wajahnya begitu marah setelah tahu apa yang menimpa Kira.
"Anggi jangan gegabah dulu!" cegat Kira, dia menarik tangan gadis itu dan menuntunya kembali ke tempat duduk. "Aku tahu kamu lagi marah tapi tenangkan dirimu sedikit. Kita harus punya bukti supaya menguatkan dugaanku. Ok, aku bisa membuat Pak Bima terdiam karena mereka tahu juga bagaimana Pak Bima memperlakukan kita yang bukan keluarganya beda dengan Ita tapi Ita kita harus memiliki sesuatu yang lain, yang cukup mereka mendapat masalah bukan hanya sekolah tapi orang tua mereka juga harus tahu."
Glen membentuk senyuman. Sebuah senyum bangga. "Gue nggak nyangka cewek baik kayak lo bisa merencanakan hal jahat seperti itu. Lo orangnya menarik juga ya."
"Hei itu harusnya jadi kalimat gue kenapa lo ambil," ucap Glen ketus pada Rio.
"Serah gue mau bilang apa emang Kirana menarik." Rio menimpali secara langsung.
"Dia itu cewek gue, nggak boleh digodain sama cowok lain apalagi cowok kayak lo," balas Glen masih tak terima.
"Kalian berdua jangan bertengkar, Kira sekarang punya masalah dan ini bukan saatnya untuk kalian lalu sejak kapan dia pacaran sama kamu?" Anggi menunjuk Glen geram.
"Sudahlah Gi, emang kayak gitu si Glen dia selalu saja membuat candaan yang berani."
"Gue nggak bercanda Kira," potong Glen.
"Dan ini bukan waktunya untuk bercanda. Rio..." Rio bergumam sebagai jawaban. "Ayo antar aku ke rumah." Kira dan Glen sontak berdiri. Dia berjalan menghalangi jalan gadis itu.
"Gue nggak mau, bareng gue aja." Kira menggeleng tegas.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan dan aku memang memerlukan bantuan Rio, permisi." Kira lantas berpamitan pada Anggi serta keluarga termasuk Bian kemudian keluar dari rumah sahabatnya itu.
Rio sendiri tersenyum mengejek pada Glen, puas dengan semraut wajah kusamnya. Dia melenggang pergi mengikuti Kira dari belakang.
"Kira, gue nggak ngerti deh lo mau minta bantuan apa sama gue?" tanya Rio begitu menyamakan langkahnya dengan Kira.
"Sebenarnya tadi aku mendapat notifikasi dari Ita, dia memintaku datang ke sebuah lokasi dan mengirimkannya padaku. Aku tidak tahu apa maksudnya tapi firasatku tidak enak, aku meminta bantuanmu karena kamu yang paling tahu soal mereka juga sebenarnya aku ingin kau menjelaskan segalanya sama Ayahku. Dia akan lebih percaya padaku kalau aku memiliki bukti sekaligus orang yang terpecaya menurut dia."
"Jadi lo mikir gue bisa dipercaya?" tanya Rio meragu.
"Iya, selain kamu itu pengurus inti osis aku tahu kamu orang yang baik ya cuma pergaulannya saja yang buruk." Kira menjawab.
***
See you in the next part!! Bye!!
KAMU SEDANG MEMBACA
SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra
Ficção AdolescenteKirana menyimpan rasa suka kepada Bian tapi Biam malah menyukai Anggi, sahabat Kirana siswi "most wanted" di sekolah mereka. Dalam kekalutan hati, muncul Glen Argantara, pemuda menyebalkan yang suka membuat Kirana bingung . Banyak gosip beredar namu...
