Jebakan Ita

17 5 0
                                        

"Kamu udah pulang? Bukannya acara pramuka itu masih beberapa hari lagi ya?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Ibu Kira. Dia terkejut dengan kehadiran putrinya yang tiba-tiba.

"Bu, aku tidak punya banyak waktu nanti ya aku jelasin." Kira menjawab lugas dan juga terburu-buru. Dengan beberapa peralatan yang dia bawa, Kira menaruh di lantai dan menuju kamar menyisakan Rio serta Ibunya.

"Ah kamu lagi, mau minum apa? Biar Ibu buatin."

"Eh nggak usah repot Bu cuma mau tunggu Kira, dia pasti nggak bakal lama." Rio membalas sungkan.

"Nggak usah sungkan, semua teman Kira diterima baik kok disini. Ibu buatin kamu teh ya." Ibu Kira sudah berlalu begitu saja sementara Rio diam merenung sendiri.

Teman? Dirinya bekerja sama dengan Ita dan teman-temannya saja sudah jelas hubungan Rio bersama Kira itu bukanlah teman tapi dengan ini pula dia bingung.

Jika Kira mempercayainya lalu mereka itu apa sekarang? Rio tidak sepantas itu untuk mendapat kepercayaan dari Kira setelah dia menerima uang imbalan dari Cia. Kepercayaan yang diberikan oleh Kira untuknya tampak berat menekannya.

"Ini ada teh buat kamu dengan sedikit cemilan, di makan ya." Rio tersadar dari lamunan saat Ibu Kira datang menawarkan beberapa snack. Dia hanya tersenyum mengambil satu cemilan menyenangkan hati sang Tuan Rumah.

"Sudah kenal lama sama Kira?" Rio menggeleng sebagai jawaban disertai senyum tipis. "Wah ini artinya Kira punya banyak teman, baguslah Ibu tuh pernah punya rasa khawatir soalnya Kira itu pendiam sekali sama orang baru. Untung ada Anggi yang selalu nemenin sekarang makin banyak juga teman Kira, jangan sungkan ya kalau datang ke sini rumah ini selalu terbuka buat teman-teman Kira."

Rio menyimak saja penuturan Ibu Kira tanpa berniat memotong. Kira akhirnya keluar dari kamar, pakaiannya sudah lebih rapi dan sedikit berdandan. "Ayo kita pergi, keburu Ita sama teman-temannya pergi."

Tangan pemuda itu di tarik agar berdiri sedang Rio buru-buru pamit pada Ibu Kira. "Kau serius mau datang ke sana? Bagaimana kalau ada sesuatu yang terjadi?"

"Nggak usah khawatir, Kak Mahendra bakal datang juga aku sudah sharelocation sama dia."

"Mahendra? Mantan ketua osis kita?" terka Rio bingung.

"Iya, dia itu kakakku. Sepupu lebih tepatnya." Rio tertegun tapi dengan kondisi yang sekarang, dia belum bisa mencerna ucapan Kira sebelum akhirnya mengerjapkan mata. Mereka sudah berada di depan motor Rio.

"Hati-hati di jalan tolong jaga anak Ibu ya." Ibu Kira menasehati.

Keduanya akhirnya pergi meninggalkan gang itu. Rio awalnya memang tak setuju tapi mendengar Kira punya rencana cadangan dia sejenak lega setidaknya harus ada yang membantu jika terjadi masalah.

Kini langit mulai gelap, Rio dan Kira akhirnya sampai di sebuah bangunan. Dari arah pintu terdapat banyak orang lalu lalang. Tampak bangunan itu sudah ramai meski rasanya terlalu awal di hari itu.

Bangunan itu merupakan tempat karaoke ditambah diskotik yang membuat banyak pengunjung datang. Rio pun sangat mengenal tempat di hadapannya ini. Biasanya dia beserta beberapa teman termasuk gengnya Ita sering kumpul-kumpul di sini sekadar untuk nongkrong atau pun karaoke.

Intinya, bangunan itu bisa dimasuki siapa saja termasuk remaja seperti mereka. "Lo yakin ini tempatnya?" Kira mengangguk membenarkan.

"Feeling gue nggak enak banget, gimana kakak lo? Dia udah sampe di mana?" tanya Rio lagi.

"Katanya macet di jalan, dia bakal lama datangnya." Tepat saat Kira selesai menjawab sebuah panggilan diterima dari ponselnya. Itu dari Ita.

"Halo," ucap Kira kaku.

"Halo, Kira? Udah sampai mana?" tanya Ita tenang, sangat tenang untuk seseorang yang punya masalah besar.

"Aku sudah ada di depan, hanya saja aku...."

"Bagus, Cia udah mau ke depan dia bakal jemput kamu, tenang saja aku tahu kamu takut kalau masuk sendirian." Benar saja, Cia keluar dari bangunan menghampiri keduanya.

"Ayo Kira, Ita udah nungguin lo." Rio lekas menarik Kira agar menjauh. Tatapannya galak.

"Kira akan di sini sama gue setidaknya sampe kakaknya datang," ucap Rio tegas.

Cia pun tak ingin kalah. Matanya melotot kesal. "Nggak usah ikut campur! Ingat ya lo itu gue bayar buat deketin Kira."

"Kamu dibayar sama Cia?" ulang Kira.

"Aku bisa jelasin!" Cia langsung menarik tangan Kira yang masih termenung. Dia tak tahu harus bereaksi apa sementara pikirannya sendiri mengingat tentang Rio yang mencoba mulai dekat.

Cia akhirnya menyeret Kira masuk tanpa perlawanan berarti. Sementara Rio sendiri yang ikut berjalan harus tertinggal sebab petugas keamanan melarangnya masuk.

Semua ini jelas rencana Ita agar Rio tak bisa ikut campur. Dengan cepat Rio mengambil ponsel miliknya, dia tak bisa mengatasi semua ini sendiri dan hanya satu orang yang dapat membantu.

***

Kira terhuyung beberapa langkah saat Cia mendorongnya maju ke depan. Dia memandangi Ita dan beberapa temannya yang menatap tak suka. "Kamu akhirnya datang juga, ayo duduk sini kita ngobrol sebentar." Ita mengajak sambil tersenyum. Sayangnya Kira tahu bahwa Ita hanya mencoba untuk membuatnya lebih tertekan.

"Aku akan berdiri saja, aku di sini pun tak akan lama. Aku cuma mau meluruskan masalah di antara kita," sahut Kira menolak.

"Kita tidak punya masalah."

"Jelas kita pumya, kamu sengaja buat aku dimarahin sama Pak Bima dan memaksa aku untuk bantu kegiatan pengurus osis karena kamu tahu aku akan menurut pada Pak Bima sebab dia seorang guru dan aku tak bisa membantahnya. Semua itu dilakukan sebab kamu ingin mengendalikanku bahkan kamu membayar Rio untuk mendekatiku. Semua alasan itu hanya karena aku dekat dengan Glen, benarkan?" tutur Kira panjang lebar.

"Heh? Omong kosong apa macam itu?! Masa teman kami yang cantik begini suka sama tukang contek jelek kayak Glen!" Suara Cia menghardik keras ucapan Kira.

"Diam kau badut!" balas Kira mengejek. Tatapannya tajam tertuju pada Cia. "Kau pikir wajah kau itu bisa nutupin kelakuanmu, enggak bego! Kalau kau bukan teman Ita dan nggak masuk pengurus osis kau itu bukan siapa-siapa, nggak bakalan ada yang mau deket sama kamu! Asal kamu tahu saja kamu itu sering diobrolin sama laki-laki di tongkrongan! Tahu nggak apa yang mereka bicarain soal kamu? kamu itu aib bagi mantan kamu, sok cantik, sok kecentilan, najis dan nggak ada satu pun hal yang baik soal kamu! Makanya kalau punya mulut tuh di jaga cuma cantik percuma kalau mulutnya kayak ember sama kosong pikirannya jadi diam saja."

Cia tertegun sedang yang lain menutup mulut. Tak disangka untuk seorang Kira yang dikenal pendiam bisa melontarkan beberapa kata yang pedas. Amat pedas.

***

See you in the next part!! Bye!!

SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang