Kira menatap Ayahnya yang mendengus sebal. Mereka telah tiba di sekolah, keesokan pagi hanya saja suasana hati Ayah Kira sedang tak baik sebab perbincangan malam tadi.
Sengaja Ayah Kira datang membawa mobil mewah miliknya yang sudah lama ia titipkan di perusahaan agar Kira tidak lagi dipandang sebelah mata dan itu bukanlah penyebab wajah Ayah Kira muram.
"Bapak, ini sudah setengah jam kita diam di dalam mobil. Bukannya Bapak sendiri yang bilang mau berkoar-koar di depan Pak Bima, kenapa terlihat kesal sekarang? Apa Bapak muak?" tanya Hikael seorang advokat muda bawahan Ayah Kira sekaligus kepercayaannya.
Ayah Kira tak menjawab malah memandangi Kira yang sudah bersiap untuk keluar. "Kalau Ayah masih di sini, aku akan ke kelasku. Bye om." Kira berjalan keluar dari mobil, menghampiri Anggi yang hendak masuk ke gerbang sekolah.
Anggi pun sama seperti yang lain. Dia menatap takjub pada mobil mewah dan lebih kaget lagi ketika melihat Kira keluar dari mobil itu. "Loh Kira, mobil ini..."
"Punya Ayahku. Ayo masuk." Kira menarik tangan Anggi, bergegas masuk ke halaman sekolah.
"Bukan gitu. Sebenarnya semalam setelah saya tahu Kira dibuli, dia minta izin sama saya." Ayah Kira terlihat gelisah, merasa tak yakin untuk membicarakan hal ini pada Hikael.
"Minta izin?" ulang Hikael.
"Iya, dia minta izin sama saya buat punya pacar." Hikael menganggukan kepala. Ayah Kira berdeham sebentar. "Saya udah tolak itu tapi alasan Kira adalah dia menyukai seseorang dan merasa lelaki yang dia sukai itu menyukainya juga. Dia juga bilang kalau lelaki itu juga baik tapi saya sangsi."
Ayah Kira lalu berbalik memandangi Hikael yang diam. "Menurutmu gimana? Apa saya setuju saja dengan permintaannya?" tanyanya meminta saran.
"Iya." Hikael menjawab singkat, padat dan jelas.
"Tapi..." kata Ayah Kira tertahan. Dia tampak menolak masukan Hikael.
"Bapak kalau nggak terima masukan dari saya nggak usah minta usulan saya dong. Percuma!" kata Hikael tenang, tapi jelas ada rasa kesal.
"Saya hanya mau yang terbaik buat putri saya dan usulanmu itu buat saya gundah."
"Bapak, saya baru ditolak cinta pertama saya yang sudah saya sukai selama bertahun-tahun, mengundurkan diri dari perusahaan saya sendiri hanya untuk kuliah di fakultas hukum dan bekerja di perusahaan Bapak."
"Karena saya lihat potensi kamu sebagai pengacara, kalau tidak mana aku mau memperkerjakan seseorang yang angkuh dan semaunya sendiri sepertimu," sahut Ayah Kira ketus.
"Intinya adalah saya akan memihak putri Bapak. Saya pernah salah mengambil langkah dan semuanya tidak dibawah kendali saya lalu semuanya berantakan. Orang yang saya cintai pergi meninggalkan saya, meski begitu saya tidak punya penyesalan. Kami jujur dengan perasaan masing-masing dan mencoba membenahi masalah kami, hanya saja kami berada di waktu dan tempat yang salah. Jangan sampai putri Bapak mengalami apa yang saya alami. Mungkin sekarang Bapak masih ogah-ogahan terima kenyataan kalau Kira sudah besar dan mulai tertarik sama lawan jenis tapi ke depannya kalau Bapak masih bersikeras, bukan hanya Kira yang sedih."
Suara lonceng sekolah tanda masuk memecah keheningan setelah pergulatan batin Ayah Kira yang panjang. Hikael pun hanya menunggu langkah dari pimpinannya. "Ayo masuk, kita temui bajingan yang ingin membuli putri kesayanganku."
***
Pak Bima memelankan langkah, pikirannya mendadak pusing saat salah seorang staf sekolah datang mengatakan bahwa Kepala Sekolah mencarinya. Dia teringat dengan gadis bernama Kira itu. Agak menjengkelkan tapi kata-katanya merasuk dalam pikiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra
Teen FictionKirana menyimpan rasa suka kepada Bian tapi Biam malah menyukai Anggi, sahabat Kirana siswi "most wanted" di sekolah mereka. Dalam kekalutan hati, muncul Glen Argantara, pemuda menyebalkan yang suka membuat Kirana bingung . Banyak gosip beredar namu...
