Glen Best Friend

18 5 0
                                        

Rapat tak langsung itu berakhir dengan ucapan terima kasih dari Ayah Kira. Baik Glen maupun Rio, dia senang mereka menceritakan semua tanpa beban dan jujur sebagai teman Kira itu tandanya mereka peduli.

Ayah Kira pun juga akan berjanji jika suatu saat mereka dijadikan saksi ketika kasus Kira diselidiki lebih lanjut, mereka akan mendapat perlindungan dari wewenang perusahaan milik Ayah Kira. "Semua bukti sudah saya taruh di sini, jika Om butuh bantuan saya bersedia kok ngelakuin sesuatu supaya masalah ini terbongkar secepatnya."

"Iya, iya Om tahu kok. Kalian bertiga sekarang pulang sudah larut malam, orang tua kalian pasti khawatir lagi pula besok kalian harus sekolah."

"Kalau begitu kami pamit dulu ya Om, Tante, Kira." Sebenarnya Glen terlihat keberatan tapi Ayah Kira menunjukkan ketidaksukaan jika mereka masih berada di sini. Istilahnya di usir secara halus.

"Aku ikut antar kalian sampai ke depan." Mereka kemudian keluar dari ruang tamu.

"Karena udah nggak ada keperluan gue pulang dulu ya." Rio yang pamit duluan. Dia memang sudah tak ada kepentingan dan malas berbasa-basi.

"Kira, gue juga pamit. Sampai jumpa besok." Glen ikut pamitan, entah sebabnya apa padahal lelaki itu betah berlama-lama dengan Kira.

"Kalau gitu gue pamit dulu ya, istirahat sana. Tenangin pikiran lo," ucap Mahen.

"Tunggu dulu, aku belum selesai ngomong," kata Kira mencegat. Mahen menoleh lagi, dengan tatapan heran. "Makasih ya kak," lanjutnya dan Mahen semakin tak mengerti.

"Untuk apa lo berterima kasih?"

"Karena kakak sudah nelpon Glen dan minta dia buat datang di tempat itu kalau nggak bisa jadi...."

"Hah? Bukan lo yang nelpon dia?" Kira mengerjapkan mata, bingung dengan ucapan Mahen.

"Kalau bukan Kakak yang telpon berarti Glen..." suara motor Rio menyita perhatian keduanya. Saat itu Kira menyadari sesuatu. "Glen ditelpon sama Rio?" tanya Kira entah pada siapa.

***

"Rio, tunggu bentar." Rio berhenti, dia menatap Glen.

"Mau apa lo?" tanya Rio tak bersahabat.

"Gue pengen bicara sama lo. Ayo ke tempat yang cuma hanya kita berdua."

"Aduh, sorry ya gue pengen pulang cepet buat nongkrong sama temen-temen gue. Gue juga lapar banget soalnya siang tadi gue cuma makan sedikit." Rio langsung menolak tegas, tak memberikan Glen waktu.

"Gue bisa traktirin elo makan bakso atau nasi goreng favorit lo. Gue pengen kita cuma ngobrol sebentar tapi bukan tempat ini, gue nggak mau Kira ikut terlibat pembicaraan kita."

Rio diam, meneliti sesaat wajah Glen berpikir bisa saja dia berbohong mengingat lawan bicaranya ini tampak kesal setelah tahu Rio mendekati Kira dengan maksud tertentu. Hasilnya nihil.

Glen jujur dengan ucapannya. "Ok tapi gue nentuin kita makan di mana." Rio menyalakan mesin motor, berjalan keluar dari lorong kecil itu menuju jalan raya lalu diikuti oleh Glen dari belakang.

Tak jauh dari kompleks perumahan Kira, motor keduanya singgah di sebuah angkringan jalanan yang sepi. Cocok untuk menjadi tempat mereka berdua berdebat.

Setelah memesan makanan, keduanya diam memandangi satu sama lain. Tidak ada suara selain suara bising dari pedagang yang sibuk memasak pesanan mereka.

"Katanya mau bicara kok diam aja sekarang." Rio mulai berbicara itu pun karena tidak suka dengan keheningan yang ia rasakan. Begitu sesak, mengingatkan dia dengan rumah sendiri.

"Gue mau ngucapin makasih." Glen membalas. "Makasih karena udah nelpon gue di saat itu, kalau nggak gue nggak bakal bisa selamatin Kira dari dua orang sialan itu!" lanjutnya.

"Heh, santai aja lagi. Kira tuh temen gue wajar gue nolongin dia."

"Tapi gue nggak nyangka lo masih simpan nomor telpon gue, padahal udah setahun lebih setelah insiden itu."

"Ya buat jaga-jaga doang, nggak boleh simpan nomor lo?" tanya Rio sedikit kesal.

"Agak keberatan sih sebenarnya tapi karena lo hubungin gue buat nolongin Kira gue maafin lo. Anggap saja hadiah dari gue ditambah gue udah traktirin elo jadi kita impas," jawab Glen lagi-lagi terkesan narsis.

Rio memutar matanya bosan sambil mendengus sebal. Dia mengembuskan napas sebentar dan berujar lagi, "Lo salah."

"Hah?" tanya Glen mengkerutkan alisnya, tak mengerti.

"Gue emang dikasih uang sama Cia tapi alasan gue deketin Kira itu karena elo."

"Karena gue?" Lagi Glen bertanya dan Rio membenarkan.

"Hubungan kita setelah insiden itu nggak berakhir dengan baik. Gue ngerasa tertekan banget saat itu. Nilai gue anjlok, sementara Bokap pengen gue punya nilai sempurna dan tetep di kelas A. Ita bikin kelemahan gue sebagai ancaman, asal gue ngelakuin apa yang dia minta kursi gue di kelas A bakal aman. Gue sebenarnya pengen banget bela elo waktu itu tapi gue nggak punya kesempatan buat ngelakuin. Yang gue tahu elo dipindahin dari kelas A ke kelas C saat kenaikan kelas."

"Maafin gue Glen, gue nggak ada di waktu elo butuh gue." Glen termenung begitu juga Rio setelah penjelasan. Penyesalan akan selalu ada meski semua diceritakan, rasa sesaknya masih ada dan memberikan luka yang dalam bagi keduanya.

"Akhirnya setelah sekian lama... Kenapa baru sekarang lo jelasin sama gue kalau lo juga diancam sama Ita? Apa karena Kira nenangin lo dengam kata-katanya yang bijak?"

"Bukan gitu..."

"Satu tahun Rio, gue nungguin penjelasan lo," potong Glen. "Lo itu sahabat gue dari kecil, gue nggak masalah orang lain bilang apa tentang gue, mau mereka bilang gue bodoh, si tukang contek semuanya nggak masalah tapi nggak dengan lo. Di masa itu gue mencoba banget buat deketin lo, gue berusaha agar menjelaskan semuanya dan apa yang lo buat lo jauhin gue! Gue mikir apa lo malu punya sahabat kayak gue? Lo malu sebab punya sahabat yang nggak betkompeten kayak gue!" Napas Glen tersengal-sengal menahan emosi. Tidak memukul Rio itu sudah merupakan usaha yang baik menahan amarahnya.

"Tapi semua udah selesai, gue nggak butuh penjelasan dari lo sebab sekarang gue bahagia dengan hidup gue sendiri malahan gue ngerasa bersyukur banget sebab gue ketimpa masalah itu. Kalau bukan karena itu mana mungkin gue tahu kalau orang tua gue sayang banget sama gue. Dari dulu gue pikir gue akan berusaha jadi yang terbaik, jadi pintar supaya bokap sama nyokap bisa bangga sama gue. Biar mereka nggak perlu berantem kayak dulu tapi nyatanya mereka cerai. Bokap pergi ninggalin nyokap dan gue, bikin gue ngerasa sendirian. Lo tahu setelah itu apa? Bokap nelpon gue, bilang kalau dia tahu semua masalah gue. Dia minta maaf dan nyesel nggak ada waktu buat jadi bapak yang baik."

"Jadi dengerin gue baik-baik, gue nggak maafin lo entah sampai kapan tapi untuk sekarang gue nggak bisa maafin lo. Andai waktu itu lo jelasin,  kita masih tetap jadi sahabat. Gue ngerti keadaan lo sama bokap lo sendiri tapi lo malah milih buat diamin gue jadi gue pun milih untuk jauhin lo. Mulai sekarang kita itu hanya orang asing dan tetap jadi teman Kira, nggak ada pertamanan apalagi yang namanya sahabat. Teman-teman gue itu anak kelas C dan juga Anggi serta Bian. Lo nggak ada di hidup gue entah dulu mau sekarang. Kita udah putus hubungan." Glen berujar menekan setiap kata agar terus diingat oleh Rio. Dia pun memilih berdiri, makan di meja lain menyudahi perdebatan mereka yang begitu memuakkan.

***

See you in the next part!! Bye!!

SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang