Suka Padamu

13 4 0
                                        

Meski ada beberapa keributan mengenai sirine polisi, semua kelas langsung kondusif karena guru menertibkan semua murid. Ada beberapa lainnya keluar dari kelas mengajar untuk mengetahui sesuatu yang terjadi.

Beni pun memutuskan untuk keluar, melihat-lihat sebentar. "Kenapa tiba-tiba ada polisi?" tanya salah seorang murid.

"Entah, mungkin ada penyuluhan gerakan anti obat-obatan terlarang atau penyuluhan berkendaraan dengan baik." Baru mendapat jawaban, terdengar suara Beni berlari dari luar.

Napasnya ngos-ngosan tapi masih sempat berteriak, "Ita dan teman-temannya ditangkap sama polisi!" Para murid langsung bergegas keluar, termasuk Kira dan Glen.

Benar ucapan Beni, Ita dan teman-temannya dipasang borgol pada kedua tangan. Ada yang tak terima dan memberontak, Ita pun terkesan tenang saat seorang polisi mengiring ke dalam mobil tahanan.

Dia menatap Kira dari dalam keramaian. Pandangan iba ke arahnya dari Kira hanya membuat Ita tersenyum dan berganti dengan tatapan tajam. Ita tahu bahwa sebab Kira dia ditahan oleh polisi.

"Gue dengar dari gosip, Ita nyewa dua orang dewasa buat maksa siswi kelas 2-C minum bareng mereka."

"Hah? Yang bener? Udah gila sih!"

"Lah gue denger Cia yang lakuin itu." Ada begitu banyak spekulasi dan semuanya sibuk membicarakan hal ini. Bahkan ketika para guru meminta semua murid untuk ke kelas masing-masing, mereka tidak mengindahkan permintaan tersebut.

"Kira..." suara Anggi membuyarkan lamunan Kira. Raut wajah sahabatnya itu tampak panik saat mendekat. "Kamu nggak papa, kan?" Kira menggeleng.

"Ayo ke tempat yang lebih sepi, sumpek di sini." Anggi menarik tangan Kira keluar dari keramaian yang sesak itu. Kantin sekolah tampak sepi. Hanya ada beberapa siswa di sana untuk mengobrol ringan termasuk Bian dan Glen.

"Lo nggak papa?" tanya Glen begitu Anggi dan Kira duduk bergabung bersama mereka.

"Nggak sih, cuma kaget saja Ayah berani banget tahan Ita sama teman-temannya," jawab Kira.

"Ayahmu begitu ya karena dia sayang sama kamu. Andai saja Ita nggak lancang juga bikin kamu kena masalah, Ayahmu nggak akan bertindak," bela Anggi.

"Jadi gosip itu benar? Kamu yang dipaksa minum sama orang dewasa?" tanya Bian setelah agak lama diam.

"Iya juga, kok kamu nggak ngabarin sih kalau kamu ada masalah? Aku baru tahu pas Glen ceritain tadi. Jadi itu sebabnya Ayahmu bawa mobilnya buat ngurusin kasus kamu?" tanya Anggi ketus. Dia tak terima Kira merahasiakan ini semua darinya. Apalah artinya sahabat jika tidak berterus terang.

"Maaf, aku sangat ketakutan kemarin. Saat itu terjadi, aku tidak bisa memikirkan apapun apalagi menghubungi kalian berdua." Kira menjawab dengan sungkan.

"Santai aja asal mulai sekarang, kamu nggak boleh merencanakan sesuatu apalagi yang bahayain kamu. Nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti kalau kamu sendirian." Kira mengangguk saja menanggapi ucapan Bian.

"Beruntung Glen geraknya cepat, jadi aku bisa selamat. Kalau dia nggak datang, aku nggak tahu harus buat apa kalau sampai di tangkap mereka." Glen tersenyum, tatapannya lekat pada Kira begitu juga dengan gadis itu. Dia tersenyum penuh arti.

"Aduh, Bian ayo ke kelas yuk kayanya Bu Rahma udah ke kelas!" ujar Anggi mendadak.

"Hah? Bukannya pelajaran kita dipending dulu ya guru-guru, kan..."

"Udah ikutin aku aja nggak usah banyak tanya." Anggi memotong Bian, memaksa pemuda itu untuk mengikuti.

Kini hanya tinggal Kira dan Glen yang sama-sama tersenyum seperti orang kasmaran. "Kamu mau aku pesenin makanan atau apa?" tanya Glen.

SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang