Korban

11 3 0
                                        

Kira akhirnya berada di depan ruang kantor guru. Dia mengatur napas sejenak, bersiap untuk ikut dalam keterlibatan panjang. Kira tahu jika tindakan Ayahnya akan menimbulkan sebuah permasalahan baru.

Baru satu langkah, Kira mendapati banyak orang tua protes bahkan ada yang menangis sebab tahu anak mereka digiring ke kantor polisi.

"Tidak saya tidak akan mencabut laporan, enak saja! Anak-anak kalian senang melihat anak saya menderita. Tadi malam saja kalau bukan saya dan istri saya tidur menemani anak kami, dia tak bisa tidur!" Suara Ayah Kira menghardik keras seiring dengan banyaknya protes yang ada.

"Nah ini nak Kira, ke sini ada sesuatu yang perlu kita bicarakan." Pak Kepala Sekolah meminta Kira untuk mendekat. Setiap mata pun memandanginya dengan tatapan aneh dan bukan sebuah tatapan yang bersahabat.

"Tak perlu libatkan anak saya. Anak saya yang jadi korban di sini dan dia berhak untuk diam!"

"Bagaimana kami tidak bisa dia libatkan, dia itu anak Anda?!" Ayah Kira hendak mengeluarkan protes. Jika saja Kira tidak menghentikannya.

"Saya minta maaf di sini karena sikap Ayah saya yang keras kepala tapi dia begitu karena mau melindungku sama seperti kalian Bapak, Ibu yang ingin menyelamatkan anak kalian," ujar Kira.

"Kamu nggak papa, kan sekarang? Terus kenapa masih manggil polisi? Oh saya tahu pasti kamu sengaja bikin rencana supaya anak saya bisa masuk penjara?!"

"Dengan segala hormat ya Pak! Saya di sini sekarang punya trauma sama pelaku yang menarik paksa saya untuk minum! Bagaimana bisa saya membayar orang untuk memaksa saya minum?! Itu tidak logis sama sekali! Saya pun datang ke sana karena anak kalian hubungin saya untuk ke sana! Masih anggap saya pura-pura!"

"Alah nggak usah ngeles kamu sengaja sebab iri sama anak-anak kami! Kamu itu anak kelas 2-C yang bodoh, nggak bisa naik kelas A seperti anak-anak kami."

Mendadak TV dinyalakan, sebuah video diperlihatkan tentang Ita dan teman-temannya yang merencanakan sesuatu pada Kira di tempat karaoke itu. Bahkan ditampakkan juga beberapa chat Cia dan dua orang dewasa yang mencoba menyerang Kira.

"Tenang aja kok Bapak, Ibu saya punya banyak bukti yang bisa memberatkan anak-anak kalian." Mahen berjalan masuk mendapat perhatian dari banyak orang. "Dan sebenarnya juga video itu sudah saya posting media sosial. Sekarang banyak orang yang tahu kelakuan anak-anak Bapak, Ibu bagaimana."

"Silakan kalau kalian mau bayar uang tebusan di polisi, Anak kalian mungkin bisa keluar tapi mereka tidak akan bisa lolos dari pengadilan. Saya sebagai kuasa hukum keluarga Indrawan tidak akan tinggal diam jadi kalian tak perlu berkoar-koar di sini. Percuma saja, jadi sampai jumpa di pengadilan." Hikael menutup perbincangan tak enak itu selesai begitu saja. Kira ditarik lembut oleh Ayahnya untuk keluar dari kantor yang sesak itu.

Saat Kira menoleh kembali pada mereka, dia bisa melihat wajah pucat pasi dan kesedihan mendalam. Ada juga yang tak kuat lalu pingsan di tempat. Mereka sangat terpukul.

"Kasihan sekali mereka." Kira berucap tanpa sadar.

"Biarin, itu sebabnya nggak boleh terlalu manjain anak-anak. Bukan hanya pergaulan, lingkungan yang memengaruhi sikap anak-anak tapi cara orangtua mendidik anak-anak mereka juga penting." Mahen membalas dan dibalas dengan anggukan.

"Kira," panggil Ayahnya. "Ayah akan pergi mengurus beberapa hal. Kamu belajar saja, nggak usah memikirkan apapun soal kasus ini. Ayah janji akan  menyelesaikan semuanya, kau tidak akan bertemu dengan dua orang brengsek itu."

"Baik Ayah, aku tahu Ayah bisa menyelesaikan semua ini." Ayah Kira tersenyum tipis. Dia kemudian keluar dari sekolah bersama dengan Hikael. Pria itu hanya melambai singkat lalu mengikuti Ayah Kira dari belakang.

Mahen menoleh ke depan, menemukan Lili berdiri tak jauh dari mereka. "Kira, gue pergi dulu ke kelas ya." Kira mengiyakan Mahen dan akhirnya tinggal Kira sendirian berjalan menuju kelasnya sendiri.

"Hai, Kira." Kira menoleh, dia tersenyum pada Rio. "Gimana? Udah selesai masalah lo?" Kira menggeleng.

"Orang tua mereka tidak terima kalau anak-anak mereka dimasukkan ke penjara. Agak kasihan sebenarnya tapi harus tegas. Pasti mereka membenciku."

"Nggak papa dibenci orang, nggak semuanya juga harus suka sama kita. Kita cukup jalani aja dan abaikan mereka."

Kira mengembuskan napas panjang. "Omong-omong, makasih ya sudah telepon Glen waktu itu. Kalau bukan karena kamu, aku nggak tahu harus bagaimana."

"Santai aja, gue tahu dia bisa diandelin makanya nelpon dia. Gue pun lega banget ngeliat elo baik-baik aja."

"Tapi aku penasaran, kok kamu punya nomor telepon dia padahal kalau aku perhatikan kalian itu saling musuhan, tiap ketemu saling ngejek satu sama lain."

Rio tersenyum getir. "Kami teman dulunya, tapi karena ada masalah besar dia nggak bisa maafin gue dan gue terima hal itu. Gue terima kalau kami nggak bakal jadi temen lagi."

"Kamu nggak papa?" tanya Kira prihatin.

"Ya, gue baik. Sudah lama juga masalahnya, Lo nggak usah bilang ya sama dia kalau kita bicarain hal ini. Dia sensitif banget soalnya."

"Ternyata kamu pengertian juga sama Glen." Rio tersenyum tipis, kali ini tidak lagi terlihat hambar. Dia tulus.

Rio pun pergi setelah berpamitan singkat sementara Kira berjalan menuju kelasnya. Di kantor yang sesak itu, Rio melangkah masuk dan melewati banyak orang menuju sebuah meja.

Di hadapannya kini masih ada Pak Bima yang terlihat gelisah. "Kamu serius mau keluar dari pengurus osis? Saya tahu sikapmu kemarin tidak baik tapi saya masih bisa memberikan teguran."

"Itu tidak perlu, saya sungguh mau keluar dari pengurus osis." Rio kemudian mengeluarkan sebuah surat pengunduran diri. "Semoga hari Anda menyenangkan."

Rio pun berjalan pergi tanpa ambil pusing dengan keramaian yang ada. Benar ucapan Kira, mereka terlihat menyedihkan.

***

"Gue ngucapin makasih ya kalau bukan karena lo yang peringatin gue, mungkin insiden itu bakal jadi masalah besar untuk Kira." Mahen menoleh pada Lili. "Lo kok mau bilang rencana mereka sama gue?" tanya Mahen lagi.

"Ita sudah keterlaluan, kalau tidak ada yang bisa hentikan dia, pasti akan ada banyak masalah ke depannya. Aku ngelakuin hal ini supaya dia tahu batasan." Lili menjawab sekenanya.

Mahen memincingkan mata, masih tak mengerti. "Aku sayang sahabatku, itu sebabnya aku melakukan semua ini. Dia terlalu dimanja oleh kedua orangtuanya. Mereka tak memberikan batasan apapun dan bersikukuh untuk membela putri mereka satu-satunya apapun itu."

"Lo nggak takut dibenci oleh Ita?"

"Sejujurnya tidak. Aku sudah mengenal dia sudah sedari lama. Kalau dia membenciku maka itu terserah dia." Sekali lagi Lili menjawab lugas. Tanpa ada keraguan sama sekali.

"Gue pikir lo bakal diam aja. Ternyata lo cukup menarik," sahut Mahen.

"Terima kasih. Aku anggap itu pujian."

***

See you in the next part!! Bye!!

SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang