Mahen berjalan keluar, menghampiri ketiganya. "Semua sudah diatasi, akan ada polisi yang datang untuk mengamankan mereka dan mereka akan butuh keterangan lo. Orang tua lo juga bakal ambil bagian apa mereka akan diminta melanjutkan kasus ini atau tidak."
"Aku nurut saja yang penting aku tidak harus berhadapan dengan dua pria itu. Mereka sangat menakutkan." Mahen mengangguk paham.
"Ayo kita pulang, polisi akan menghubungi kita untuk kelajutan kasusnya tapi kita bisa pulang sekarang." Kira mengangguk, dia melempar lagi pandangan ke arah Rio.
"Kamu harus ikut, Ayahku butuh penjelasanmu juga," pinta Kira padanya.
"Gimana dengan gue? Gue juga pengen nemenin lo." Glen membuka suara setelah lama diam. Wajahnya terlihat memelas, minta dikasihani.
"Lo bisa kok ikut bareng kita, biar rame." Mahen kemudian masuk ke dalam mobil bersama Kira sementara Glen dan Rio mengendarai motor masing-masing mengikuti dari belakang.
"Lo beruntung banget ya." Mahen memulai obrolan setelah kendaraannya masuk di jalan raya. Kira yang awalnya melamun, bingung dengan ucapan Kakak sepupunya itu.
"Maksudnya apa?"
"Iya lo beruntung banget dapat pacar kayak Glen. Dari tadi kalau terlambat sedikit Glen datang, Kakak nggak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Glen sudah di sana, berantem sama dua om-om yang nggak jelas itu dia juga pinter banget narik beberapa orang buat bantuin dia. Pokoknya pas Kakak sampai mereka udah diamanin."
"Pacar?" ulang Kira tersenyum geli. "Kami nggak pernah pacaran, hanya teman kelompok aja."
"Teman? Yakin? Setelah semua yang dia lakuin sama lo?"
"Dia pernah bilang kalau dia suka sama aku tapi Kakak tahu sendiri bagaimana Ayah. Dia tak mau aku berpacaran sampai aku lulus SMA."
"Terus lo gimana? Suka nggak sama Glen?" Pertanyaan Mahen tidak langsung dijawab. Kira cukup lama berpikir sekalian melamun. "Gimana? Kamu suka nggak sama dia?" ulang Mahen mendesak.
"Menurut Kakak gimana? Glen itu orangnya baik, supel, ramah suka bantuin orang..."
"Terutama lo," potong Mahen. "Dia sangat menjaga lo buktinya Glen datang di saat yang tepat." Tidak ada jawaban dari Kira.
"Kira, gue tahu kalau lo itu anak yang nurut banget sama orang tua tapi masa SMA itu nggak bakal datang dua kali. Jadi lo nikmati aja waktu yang sekarang bisa aja kedepannya lo nggak bakal dapat pengalaman hidup yang sama kayak gini. Suka sama orang, cinta monyet, temen-temen yang lo dapetin di sekolah suatu hari mereka bakal punya kesibukan sendiri lo akan jarang ketemu mereka. Lo memangnya mau hidup dalam penyesalan di mana lo cuma sendirian dan nyadar lalu bilang gue harusnya nikmatin semua waktu di SMA dulu, gue mau pacaran sama orang yang gue suka. Nggak ada yang tahu ke depannya Kira, bisa saja hari ini lo seneng dan besoknya lo sedih."
Tepat saat itu mobil berhenti di lampu merah. Kira membuang napas panjang. "Aku tahu kok kak, dan jujur aku suka sama Glen. Sangat suka tapi aku sadar aku nggak semenarik itu untuk disukai dan dicintai sama dia. Dia itu lebih pantas punya seseorang yang jauh lebih dari aku."
"Gimana lo bisa mikirnya begitu sementara lo tak pernah tanya sama dia? Pernah nggak sih lo mikirin perasaan Glen? Gue yakin dia milih lo sekarang atau pun yang dulu, Glen itu cuma agak lambat kenal sama lo. Sebab lo terlalu insecure sama diri lo sendiri."
"Bagaimana kalau nanti dia selingkuh atau ngelakuin sesuatu gitu yang ngerugiin aku?" tanya Kira.
"Kan ada gue sama Bapak lo. Kalau Glen ngelakuin sesuatu bilang saja sama kami berdua, jangan takut. Tapi dia bakal bonyok sih kalau dia ketahuan sama gue duluan," kata Mahen bercanda. Kira akhirnya tertawa setelah terlihat tegang agak lama. Suasana pun menjadi lenggang untuk sesaat.
"Ingat ya Kira, gue sama Om dan Tante bakal selalu ada di bekalang lo buat ngedukung elo. Jangan takut buat ngambil keputusan. Kalau lo mau ngelakuin sesuatu lakuin aja, asal jangan sampe ngerugiin orang lain atau lo sendiri. Paham?" Kira mengangguk.
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Mahen kembali menyalakan mesin mobil dan meluncur menuju rumah keluarga Kira. Tidak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai, Mahen mencari dulu tempat yang bagus untuk memarkirkan mobil.
Di sana sudah Ayah Kira dengan wajah datar namun terkesan muak. Rio dan Glen tampak tertekan. Aura di rumah Kira yang tampak hangat kini jadi pengap. "Dari pada buang-buang waktu ayo jelaskan secara langsung, lugas dan tak boleh menutup apa-apa dari saya."
Mahen yang memulai berbicara sebab dia paling tua di antara mereka. Dia menceritakan semua yang dia tahu termasuk saat insiden ulang tahun Ita soal Kira yang tercebur.
Dia juga memperlihatkan bukti-bukti. Rio ikut nimbrung, kali ini soal Pak Bima. Segala hal termasuk biasnya Pak Bima sebagai guru yang mengistimewakan Ita dan kawan-kawan.
Glen juga berbicara tentang dirinya yang terkena kasus bagaimana Ita membuat citra namanya terkesan tidak baik dan harus turun dari kelas A ke kelas C. Semua itu hanya karena cintanya ditolak. Jangan lupakan juga Pak Bima yang mendukung Ita dan menekan Glen ke titik paling ujung sampai hampir Glen berpikir tak ingin ke sekolah sampai tak ingin hidup.
Ayah Kira lantas melihat ke arah Kira yang menunduk. Tak mau menatap Ayahnya. "Kau dibuli seperti itu kamu nggak bilang sama Ayah? Kok bisa sih sampai seburuk ini?" tanya Ayah Kira kesal.
"Aku tak tahu kalau mereka mau membuliku. Aku pikir semua itu akan baik-baik saja kalau aku bisa jaga jarak tapi aku nggak habis pikir kalau mereka bisa sekejam itu."
"Dia sewa orang buat gangguin kamu? Orang dewasa pula buat maksa kamu nemenin mereka minum?! Itu keterlaluan sekali! Tidak, Ayah tidak akan maafkan mereka." Ayah Kira langsung merogoh ponsel hendak menelepon.
"Halo, apa kita menerima laporan tentang kasus pelecehan anak di bawah umur tempat karaoke?" Ayah Kira diam mendengar jawaban dari lawan bicaranya. "Bagus, kirim Hikael ke sana, buat mereka mengaku mereka disuruh seseorang, cari transaksi rekening mereka akhir-akhir ini. Pekerjaan, keluarga, semua tentang dua orang itu pokoknya besok harus ada di meja saya. Lalu tolong cari latar belakang tempat karaoke dari tempat kejadian. Cari CCTV yang bisa memberatkan kasus ini, kalau perlu cari semua rahasia gelap tempat karaoke itu sebagai pemaksaan agar mereka bisa bekerja sama. Jika tidak kita akan tuntut mereka sampai mereka merugi."
"Ayah tolong ini berlebihan," pinta Kira. Dia merasa tak enak dengan tatapan aneh Glen dan Rio saat memandangi Ayahnya.
"Diam kamu, nggak ada yang boleh nyakitin kamu. Kamu itu putri kesayangan Ayah, siapa suruh mereka cari gara-gara sama kita!" balas Ayah Kira emosi.
Glen beralih pada Mahen begitu juga dengan Rio. "Kak, gue penasaran sama pekerjaannya bokap Kira, sampai sebegitunya dia marah-marah nggak jelas."
Mahen mengkerutkan dahi. "Loh kalian nggak tahu? Ayahnya Kira itu sering nongol di tv."
"TV?"
"Iya, kalian tahu kasus korupsi besar-besaran di bank itu, kan?"
"Oh iya, iya, yang banyak sekali korban itu. Untung aja pengacara yang dipilih sama para korban berhasil menangis kasus." Rio menyahut ikut dalam percakapan.
"Nah tuh tahu, Ayah Kira itu pengacara yang menangin kasus besar itu. Pengacara Indrawan." Glen dan Rio terhenyak.
"Kirana Indrawan..." bisik Glen sadar nama panjang Kira.
"Jadi selama ini Kira itu anak..."
"Iya, Kirana itu anak pengacara Indrawan sekaligus pewaris dari perusahaan Firma Hukum Indrawan." Mahen lalu menunjuk beberapa foto di dinding ruang tamu. Di sana ada beberapa foto keluarga Kira yang latar belakangnya adalah perusahaan milik keluarga Kira.
***
See you in the next part!! Bye!!
KAMU SEDANG MEMBACA
SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra
RomanceKirana menyimpan rasa suka kepada Bian tapi Biam malah menyukai Anggi, sahabat Kirana siswi "most wanted" di sekolah mereka. Dalam kekalutan hati, muncul Glen Argantara, pemuda menyebalkan yang suka membuat Kirana bingung . Banyak gosip beredar namu...
