Susah Payah

20 5 0
                                        

Kira mengembuskan napas panjang. Lagi dan lagi ia mengikuti kegiatan seperti sekarang, dua hari dia membantu kegiatan pramuka yang dilakukan oleh sekolah lain. Panitianya sendiri terdapat beberapa orang di sekolahnya termasuk Ita dan beberapa teman.

Adapun Ayah Kira mengiyakan kegiatan ini dengan tanda tangan surat izin yang diberikan oleh Kira sendiri. Ayahnya masih kesal sebab Kira pulang bersama Bian tanpa menghubunginya.

"Kenapa Ra, mau gue bantu?" Rio berjalan menghampiri, memberikan tawaran untuk mengangkat dos berisi minuman.

"Makasih ya Rio." Rio menggumam sebagai jawaban.

"Lo mau mandi? Gue bisa temenin lo kok." Kira menggeleng.

"Aku cuma pengen pulang cepet aja, sore ini ulang tahun Anggi. Aku mau ngerayain juga tapi Pak Bima pasti marah. Aku takutnya kena marah lagi sama seperti lusa kemarin."

"Tch, ngapain minta izin kabur aja langsung." Kira mendelik pada Rio yang tersenyum. Dia kemudian mengembuskan napas.

"Kalau kamu bikin kasus nggak usah ngajak-ngajak, aku emang ngeluh tapi nggak bakal aku pergi tanpa izin dari Pak Bima."

Rio lantas berdecak. "Ngapain sih harus minta izin, ayo Kirana sesekali harus jadi nakal juga dong." Kira tak menjawab hanya melempar pandangan masam.

"Kira nggak asik, pantas nggak punya banyak teman," ucap Rio meledek.

"Biarin yang penting happy," sahut Kira meledek.

"Jadi menurut lo punya teman yang banyak itu nggak bikin happy?" tanya Rio.

"Bukan gitu sih, menurutku sah sah saja punya teman banyak lebih ke arah nggak ada drama, bayangin kalau tiba-tiba di antara temanmu yang banyak itu ada dua orang yang bertengkar terus diminta untuk memihak salah seorang kan jadi serba salah lebih buruk kalau kita bilangnya kita di pihak si satu dan setelah kita berhadapan yang lain kita memihak dia bukannya membaik malah kita yang dimusuhi."

Rio tertawa kecil. "Benar juga ya, gue bahkan nggak kepikiran ke sana."

"Aku hanya ingin tidak punya masalah makanya circle pertemananku hanya Anggi, Bian sama Glen." Rio yang awalnya tersenyum seketika berubah kosong. Dia meneliti seksama Kira yang kini tersenyum.

"Maksud lo yang bantuin kita ngebersihin ruang rapat?" Kira mengangguk. "Emang sejak kapan lo dekat sama dia?" tanya Rio lagi menyelidik.

"Kami satu kelompok tugas Bahasa Indonesia, emang sih awalannya nyebelin tapi Glen baik kok. Dia bisa diandalkan, saat kelompok kami presentasi dia yang presentasi sekaligus menjawab pertanyaan aku hanya mencatat saja."

"Wah, jangan-jangan Glen suka lagi sama lo?" Rio menyahut dengan tawa mengejek.

"Soal itu, dia memang pernah bilang suka sama aku." Baik Kira dan Rio sama-sama menghentikan langkah.

"Terus lo bilang apa sama dia?" Nada Rio terdengar mendesak.

"Aku bilang aku nggak bisa, Ayahku itu pengen aku nggak boleh pacaran sampai aku lulus katanya supaya aku bisa fokus belajar." Rio mengembuskan napas lega. "Kenapa sih? Kok khawatir gitu?" tanya Kira. Dia sadar Rio tampak aneh.

"Nggak papa kok. Yuk jalan."

"Tapi serius aku ingin pulang lebih cepat, kapan sih aku bisa pulang?" Kira tetap menggerutu, berharap ingin cepat pergi dari tempat ini.

"Kan sudah gue bilang kita keluar saja  nggak usah minta izin."

"Nggak mau, aku nggak pengen punya catatan merah di raporku."

"Ya sudah serah Lo aja deh."

"Oh ya dua hari ini aku tidak lihat Ita sama teman-temannya mereka ke mana?" Rio mengkerutkan dahi.

"Lo nggak tau ya, Ita sama teman-temannya cuma jadi panitia satu hari saja. Mereka pulang tadi malam."

Kira membulatkan mata. Apa maksud Rio? Jadi selama ini mereka yang datang ke rumah meminta izin meninggalkan dia sendiri? Kira menjatuhkan dos berisi minuman itu, dia langsung berjalan cepat menuju tempat panitia.

Rio tidak berkata banyak. Dia mengikuti gadis itu dari belakang sambil terus meneliti Kira. Di tenda panitia, Kira mengambil ponsel dan membereskan barang-barangnya.

Beberapa pengurus osis yang ada di tempat itu hanya melihat saja tanpa ada niatan untuk berbicara. "Ada apa ini? Kenapa kau merapikan barangmu?" Suara Pak Bima dengan bariton yang khas terdengar.

"Tentu saja aku akan pulang." Kira membalas, tatapannya lurus langsung kepada Pak Bima.

"Kira, Bapak sudah memperingatkanmu kalau kau tidak bisa bertanggungjawab maka kau akan kena hukuman, apa kamu mau nilai kepribadianmu jadi alasan kamu tinggal kelas?" Kira menghentikan aksinya, menoleh dengan tatapan tajam.

Dengan semua perlakuan Pak Bima dan Ita, Kira sudah tak tahan. "Bertanggungjawab?" ulang Kira mendengus. "Jangan bawa-bawa tanggungjawab kalau Bapak sendiri tidak bisa bertanggungjawab sama tugas Bapak sendiri."

"Kamu!" Sebelum sempat Pak Bima melangkah lebih dekat, Rio berdiri tepat di antara mereka berdua. Dia pun menatap tak suka pada pria itu.

"Bapak mau pukul saya? Silakan Pak, tapi jangan kasar ke perempuan."

"Dia itu sudah kurang ajar sama saya dan kamu mau membela dia!" bentak Pak Bima.

"Saya kurang ajar sama Bapak karena Bapak sendiri tidak berlaku adil pada kami. Pekerjaan kami banyak, para lelaki sibuk membuat tenda sementara kami yang perempuan membersihkan halaman yang begitu luas tapi Bapak mengizinkan keponakan Bapak untuk pulang tidak membantu kami! Itu yang namanya keadilan, keluarga sendiri dimudahkan sementara kami wajib melakukan semuanya padahal Ita sendiri adalah pengurus osis inti yang seharusnya berada di tempat ini." Kira bertutur panjang lebar.

"Itu karena alasan kamu tak masuk akal?! Kau pulang hanya untuk ulang tahun temanmu yang tidak punya kepentingan apa-apa!" Pak Bima membela diri sendiri, dia berusaha menyalahkan Kira.

"Saya sudah datang beberapa kali mengatakan tegas jika nanti ketika acara sudah selesai saya akan datang lagi tapi Bapak tidak mau memberikan saya izin padahal saya sendiri bukan pengurus osis, kalau memang ini kewajiban kenapa tidak melibatkan seluruh siswa? kenapa hanya melibatkanku saja?" tanya Kira.

"Kau ini sudah salah masih menyalahkan orang lain apa ini didikan orang..."

"Biar saya beritahu alasannya." Pak Bima lantas terhenti dan saat itu suasana yang tegang mendadak sepi. "Ini semua dikarenakan Ita yang mengadukan saya, saya sudah bilang padanya baik-baik jika saya tak mau membantu kenapa saya dipaksa seperti ini? Pak Bima, Anda sudah menyalahgunakan kekuasaan untuk menekan saya, itu sudah termasuk pembulian."

Terdengar beberapa bisikan dari para panitia. Gosip yang tak enak didengar, segala kelakuan Pak Bima mulai satu per satu terkuak sebab Kira membuka salah satu penyebab dari banyaknya masalah.

"Dasar anak kurang ajar! Tunggu saja aku akan melaporkanmu ke orang tuamu!" hardik Pak Bima memecah kesunyian.

"Terserah ingin Bapak melakukan apa asal Bapak tahu, saya juga bisa melaporkan tindakan Bapak ke Kepala Sekolah atau bila perlu ke Dinas Pendidikan bukan cuma Bapak yang punya wewenang untuk melapor saya sebagai siswa pun bisa melakukannya tapi kali ini keputusan saya bulat, saya akan pulang dengan atau tidak izinnya Bapak."

Kira kembali mengambil barang-barangnya. Dia lalu bergerak keluar dari tenda panitia tanpa mengambil pusing dirinya diperhatikan oleh orang banyak. Rio ada di sana menatap sebentar pada Kira kemudian teralih pada Pak Bima yang diam tapi ekspresinya menunjukkan kemarahan.

Untuk beberapa saat dia menatap lama sampai pria tua itu menoleh menemukan senyum sinis Rio tertoreh untuknya. "Kenapa kamu memandang saya seperti itu?! Kau mau berakhir seperti dia?!" ujarnya membentak sembari menunjuk Kira yang sudah menjauh.

Senyum sinis itu makin lebar saja. Rio mengambil sebuah lolipop di saku dan membuang kemasannya di tanah tepat depan Pak Bima. "Bacot," ucap Rio lalu pergi menyusul Kira.

***

See you in the next part!!! Bye!!

SCHOOL SERIES : Teman Tapi Mesra Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang