Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas malam dan David Mahendra masih menunggu kepulangan ketiga putranya di ruang tengah. Televisi dia biarkan menyala meskipun fokusnya tidak berada di sana. David sedang tenggelam di dalam rasa gugupnya sendiri.
Malam ini juga dia bertekad untuk menjelaskan tentang Ardian kepada Aksa dan Arka. David tidak ingin menundanya lagi, Aksa dan Arka harus tahu mengenai keberadaan Ardian sebagai kakak mereka.
Mungkin Aksa dan Arka tidak bisa menerimanya, mungkin mereka juga akan marah dan kecewa kepadanya. David akan menerima semua itu, karena memang dialah yang bersalah di sini. Aksa dan Arka berhak marah kepadanya.
Di tengah kegelisahan yang berkecamuk di hatinya, pintu ganda rumah itu terbuka. Samar-samar, David bisa mendengar suara tawa renyah Arka. Belakangan ini Arka memang terlihat lebih bahagia, dia lebih banyak tertawa lepas dan David sangat mensyukurinya.
Sejak kecelakaan yang menimpa Aksa tempo hari, Arka perlahan kehilangan senyumannya. Sebagai putra bungsu, Arka selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Setelah kejadian itu, David menyadari perubahan di dalam diri Arka. Dia menjadi lebih sensitif, pendiam, dan juga protektif jika itu menyangkut soal Aksa. Kadang, Arka akan menatap Aksa dengan pandangan yang dalam, seolah dia merasa takut kehilangan.
"Papa kok belum tidur sih? Udah malam nih. Ingat umur, kalau kena rematik gimana?" oceh Arka ceria memecah kebisingan pikiran David, dia melempar kantung belanjaannya ke sofa.
Aksa dan Ardian mengikutinya untuk duduk di sisi sofa yang lain. David memasang senyuman lembutnya untuk menyambut mereka bertiga.
"Bukannya tadi Ardian yang mau belanja, kok jadi belanjaan kamu yang lebih banyak?"
Arka tertawa kecil, "Ya mau gimana lagi, aku suka ya aku beli."
"Terserah kamu aja deh."
David tertawa kecil lalu berdehem pelan dan mulai mengumpulkan keberaniannya. Jantungnya berdebar dengan keras.
"Kalian belum ngantuk kan? Papa mau ngomong sama kalian berdua, sama Ardian juga."
Seolah sudah menantikannya, Arka menatap David dengan sepasang bola matanya yang jernih itu, ini adalah hal yang telah dia dan Aksa nantikan, sejak lama.
"Emangnya apa yang mau Papa bicarain sama kita? Kayaknya itu penting banget." tanya Arka, berpura-pura tidak tahu.
Aksa tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Dia hanya menatap David dalam diam, sorot matanya tidak terbaca.
"Aksa, Arka, sebelumnya Papa mau minta maaf sama kalian berdua. Setelah ini, kalian boleh marah sama Papa. Kalian juga boleh benci sama Papa. Papa akan menerimanya karena bagaimanapun juga, Papa bersalah sama kalian. Papa juga udah bohong sama kalian," ucap David dengan suara bergetar.
"Kesalahan dan kebohongan apa emangnya yang udah Papa lakuin?" tanya Arka lagi.
Ada jeda sebentar sebelum David melanjutkan kalimatnya.
"Ini tentang keluarga kita."
"Ada apa emangnya sama keluarga kita?" pada akhirnya suara Aksa terdengar.
"Dulu sebelum Papa menikah dengan Mama kalian, Papa memiliki seorang anak dengan perempuan lain,"
Berbeda dengan ekspektasi David, Aksa maupun Arka sama sekali tidak terlihat terkejut.
"Lalu?" respon Arka.
"Dan Papa baru bisa menemukan kakak kalian itu beberapa tahun yang lalu. Pada awalnya Papa hanya ingin mengawasinya dari kejauhan, tapi Papa nggak bisa nahan diri, bagaimanapun juga dia adalah darah daging Papa. Papa juga ingin memberinya kasih sayang yang sama dengan kasih sayang yang Papa berikan kepada kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
STRANGE LIGHTS
FanfictionKepindahan Aksana Mahendra ke SMA Harapan membuatnya terlibat dengan geng Platinum. Hidup Aksa yang semula terasa kelabu sedikit demi sedikit mulai lebih berwarna lagi. Tetapi bagaimana jika sebenarnya Aksa mempunyai sebuah tujuan tersembunyi di bal...
