quarantatré

55 37 15
                                        

• SELAMAT MEMBACA •

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

• SELAMAT MEMBACA •

°°°°

Di bawah langit senja yang membiru, Iris berdiri di depan makam Bara, mengenakan kebaya biru yang cantik. Hari ini adalah hari wisuda kelas 12, dan seharusnya Bara ada di sampingnya, merayakan pencapaian mereka bersama. Tapi Bara tidak ada. Sudah setahun sejak Bara pergi karena penyakit ataxia, dan Iris merasakan campuran kemarahan dan rindu yang mendalam.

Iris memandang batu nisan di depannya, yang dikelilingi oleh bunga-bunga segar. Dia mengeluarkan seikat bunga mawar putih dari tasnya dan meletakkannya di samping batu nisan. "Lo tahu gak, Bara?" Iris memulai, suaranya bergetar. "Hari ini adalah hari wisuda gue. Dan lo seharusnya ada di sini, ngerayainnya sama gue." Ada nada kemarahan yang jelas dalam suaranya, mengungkapkan betapa dia merasa dikhianati oleh kenyataan yang pahit ini.

Dia duduk di atas rumput di samping makam, mencoba menenangkan dirinya sambil menatap batu nisan yang dingin. "Gue tau kita sering banget berantem, tapi lo tahu kan, gue pengen lo ada di sini. Kita seharusnya berantem soal siapa yang lebih keren, siapa yang lebih pintar, atau siapa yang lebih layak dapet penghargaan. Tapi sekarang, semua itu nggak berarti apa-apa karena lo nggak ada di sini."

Dia mengangkat tangannya, memperlihatkan selembar kertas yang penuh dengan nama-nama orang yang sudah mendukungnya. "Gue harus ngucapin terima kasih sama orang-orang ini, tapi seharusnya lo juga ada di daftar ini. Lo bikin hari ini jadi terasa kosong. Lo bikin semua yang gue capai rasanya hampa. Lo pernah bilang, kita harus saling dorong, saling tantang. Dan sekarang, gue merasa kehilangan tantangan itu."

Iris menyeka air mata yang mulai mengalir di pipinya. Kebaya birunya, yang biasanya menjadi simbol kebanggaan dan keberhasilan, terasa seperti beban berat hari ini. "Gue nyari semua kenangan buruk dan baik yang kita lewatin bareng, dan entah kenapa, semua itu bikin gue makin marah. Kenapa sih lo harus pergi? Kenapa lo harus ninggalin gue sendirian dengan semua kenangan ini?"

Dia menaburkan beberapa bunga mawar putih di sekitar makam, seolah-olah setiap kelopak mewakili rasa rindu dan kemarahan yang mendalam. "Lo bikin semua jadi susah, Bara. Tapi di saat yang sama, gue juga tahu betapa lo penting buat gue. Walaupun kita sering musuhan, lo selalu punya tempat khusus di hati gue dan sekarang, tempat itu kosong tanpa kehadiran lo."

Dengan langkah yang berat, Iris berdiri dan menatap batu nisan terakhir kali. "Gue janji bakal terus maju meskipun gue masih merasa marah dan kehilangan. Tapi hari ini, gue cuma mau bilang, gue rindu banget sama lo. Gue rindu semua kejahilan lo, semua pertengkaran kita, dan semua hal yang bikin gue ngerasa hidup."

Dia meninggalkan makam Bara dengan hati yang penuh campuran rasa. Langit semakin gelap, dan meskipun Bara tidak ada lagi di sampingnya, kenangan dan emosi yang dia tinggalkan akan selalu hidup dalam setiap langkah yang Iris ambil. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya, tapi dia tahu, dia harus terus melangkah, meskipun ada kekosongan yang tak akan pernah terisi kembali.

-0-0-0-0-

°°°°
04 September 2024

SSS2; Star of UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang