[ Selesai // 04092024 ]
_______
Ini adalah kisah sederhana tentang keseharian Iris Chalondra Jovanka, seorang gadis cantik dengan kehidupan yang tampak biasa. Namun, ada satu hal yang membuat hari-harinya selalu penuh warna-kehadiran seorang cowok y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• SELAMAT MEMBACA •
°°°°
Pagi itu, kelas XI sedang ribut seperti biasa. Setelah jam olahraga, anak-anak kembali ke kelas dengan keringat masih membasahi seragam mereka. Beberapa anak masih bermain bola di dalam kelas, meskipun sudah dilarang oleh guru mereka. Iris, yang baru saja duduk di bangkunya, sedang mencoba membuka buku catatan untuk pelajaran berikutnya. Dia merasa sedikit lelah, tetapi tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Bara, si anak jahil kelas yang selalu punya cara untuk mengganggunya.
Bara, yang baru saja masuk ke kelas dengan bola basket di tangan, langsung melihat Iris dan senyum nakal langsung menghiasi wajahnya. Dia mendekati beberapa teman dan mulai berbisik, mengatur strategi kecil untuk mengerjai Iris. Bara memang terkenal dengan keusilannya, dan kali ini, dia punya rencana sederhana tapi efektif. Dengan hati-hati, Bara mengambil ancang-ancang, lalu menendang bola basket di tangannya ke arah kaki Iris. Bola itu bergulir cepat ke arah meja Iris dan menghantam kaki mejanya dengan keras. Buku catatan Iris terhempas dari meja, dan botol airnya jatuh dan terbuka, menumpahkan isinya ke lantai.
"Bara! Apa-apaan sih lo!" teriak Iris, berusaha menahan amarahnya yang mulai memuncak. Wajahnya memerah, tidak hanya karena kaget, tapi juga karena malu. Beberapa teman sekelas tertawa kecil melihat reaksi Iris yang kesal.
Bara tertawa lepas, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Hahaha, santai aja, Ris! Gue cuma mau oper bola, eh, malah kena meja lo."
"Gue lagi duduk santai, Bara! Lo enggak lihat apa?!" Iris membalas dengan suara yang makin tinggi, matanya menatap tajam Bara yang masih tertawa.
Bara hanya mengangkat bahu, masih dengan senyum jahilnya. "Yah, salah sendiri kenapa lo enggak siap, sih? Anggap aja lo lagi latihan tangkap bola, biar reflek lo makin bagus, haha!"
Iris mendengus marah. "Gue lagi nggak mau main, Bara! Lo tuh selalu aja gangguin gue!"
Tapi Bara tidak peduli. Dia malah semakin puas dengan respons yang didapatnya. "Yah, kalau lo enggak mau diganggu, jangan tegang terus, Ris. Lo terlalu serius, hidup tuh butuh tawa," katanya sambil tertawa lebih keras.
Sementara beberapa teman sekelas ikut tertawa, Iris benar-benar marah kali ini. Dia berdiri, menggulung lengan seragamnya, dan menatap Bara dengan penuh kemarahan. "Lo tuh benar-benar bikin gue kesel, Bara! Lihat aja nanti, gue bakal bales keusilan lo ini!"
Bara hanya terkekeh, tampaknya tidak sedikit pun merasa terancam. "Bales aja, Ris, gue siap kapan aja!" ujarnya sambil tertawa keras, puas dengan kekacauan kecil yang ia ciptakan.
Iris kembali duduk, mencoba menenangkan dirinya yang kesal, tetapi dalam hatinya, dia bertekad untuk tidak membiarkan Bara menang begitu saja. Satu hal yang pasti, keusilan Bara kali ini tidak akan berlalu tanpa balasan.
-0-0-0-0-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.