Part 11

1.8K 124 8
                                        

Sheila tengah bersiap demi pakaian yang akan ia gunakan untuk menonton band Justin dan kawan-kawan. Memakai celana jeans berwarna biru malam serta kaos hitam yang pas di badan—sengaja di masukkan ke dalam celana sekaligus memakai gesper sebagai pelengkapnya.

Terakhir, Sheila ambil jaket jeans di gantungan baju, sangat senada dengan warna celananya. Sheila bercermin menatap keseluruhan tubuh, lengan jaket jeans yang ia kenakan sengaja tidak di gulung, katanya lebih rapi kalau tidak di gulung.

Pesan beruntun dari ponsel Sheila bergetar di atas meja. Sejenak, Sheila melihat jam di layar ponsel.

Jam 7 malam.

Tangannya menyemprot parfum ke segala sisi, wanginya yang unisex mampu memabukkan siapapun.

Mengetahui bahwa sang pacar sudah siap dengan semuanya, ia bergegas pergi dari kamar. Kakinya kontan terdiam mengamati Vana tanpa berkedip, ibu-nya tengah duduk di sofa. Vana sedang menonton berita di televisi.

Indera penciuman Vana terlampau tajam, ia menoleh kebelakang, menatap sang anak yang sangat rapi dengan pakaiannya.

"Mau kemana?"

"Dedek mau jalan sama Febi."

Kalau di rumah sendiri, Sheila kerap di panggil dedek oleh papa dan mama nya. Tentu Febi tak mengetahui hal itu. Jika Febi tau, hancurlah sudah martabat Sheila di ejek-ejek oleh Febi.

"Jangan malem-malem dek."

"Iya."

Sheila berjalan mengitari sofa, menghampiri Vana sekalian mencium punggung tangan sang mama, ia berpamitan lalu melangkah kaki ke luar rumah. Sheila menghidupkan mesin motornya, sekilas ekor matanya melirik ke arah halaman rumah Febi. Bibirnya tersungging melihat adanya sang pacar tengah menenteng helm di teras rumah.

Motor Sheila berhenti di depan pagar rumah Febi, si gadis nakal memakai helm, namun langkahnya terdiam di samping Sheila.

"Kenapa?"

"Gue yang bonceng, Shei."

"Nggak."

"Gue nggak enak sama lo."

"Sama pacar sendiri nggak enakkan?"

Febi mendorong bahu Sheila, fitur wajah bagian pipi jadi merah rona tanpa sebab, padahal hanya karena mendengar kalimat Sheila. Tak mau berlarut-larut dalam kecanggungan dan tak mau berdebat lagi, Febi naik ke jok belakang.

"Ayo."

Sheila menganggukkan kepala. Motor yang di kendarai melaju pelan mengitari jalanan, suasana malam dengan angin nan dingin, terasa menusuk hingga ke relung jiwa. Netra si bermata monolid tengah menatap secara keseluruhan, mulai dari lampu jalanan, pedagang kaki lima, ruko-ruko bangunan hingga sepasang kekasih yang berjalan kaki di trotoar.

Febi merasa lucu ketika si pasangan menggandeng nyaman lengan pasangannya, begitu pula tawa mereka kian terlempar raut bahagia.

Mempunyai pacar memang seindah itu, namun ada syaratnya, yaitu, saling mencintai di antara pasangan.

Ah, kalau di pikir-pikir hubungannya dengan Sheila mulai terbesit rasa khawatir yang berlebihan. Terutama atas kejadian di sekolah tadi. Sheila pingsan. Febi benar-benar cemas, ia sangat khawatir terhadap pingsannya sang pacar. Karena kalau Sheila pingsan, hatinya ikut terasa sakit.

Entah mengapa bisa seperti itu, Febi tak tau juga.

"Band Justin masih set delapan tampilnya."

Febi memulai pembicaraan. Mengingat si ketua basket akan tampil di acara festival—dirinya menjadi kagum terhadap si kakak kelas, semata-mata hanya kagum, tidak berangsur suka.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang