Part 24

1.2K 107 26
                                        

Pada dinginnya malam yang menyeruak, pada terangnya bulan yang bercahaya, pada rumput liar yang bergoyang akibat di hembus angin—katakan bahwa Sheila kedinginan. Benar-benar kedinginan sebab berdiri di teras balkon, bersama gitar berada di pangkuannya. Sheila menatap lirih akan kaca jendela kamar Febi, harusnya ia meminta sang papa untuk tidak membuat balkon mereka saling berhadapan seperti ini.

Bahkan, setahun lalu sehabis mereka putus, Febi mengganti gordennya berwarna hitam pekat. Alhasil Sheila sama sekali tidak dapat melihat kegiatan apapun dari luar sini.

Huft, ia menghela napas pelan, di bawanya gitar di pangkuan masuk ke dalam kamar. Sheila menaruh gitar itu di pojok dinding, tangannya mencolok kabel ampli di stop kontak, ia mengambil gitar listrik milik papa-nya yang terpajang rapi di dinding.

Gitar yang masih bagus dan tak pernah di pakai, ternyata masih bisa berfungsi. Dari pada membeli gitar baru, Sheila lebih memilih membeli ampli dan beberapa efek gitar guna memperdalam pengetahuannya tentang gitar listrik. Serta mempraktikkan secara langsung.

"Kabel jack udah ke pasang. Hmmm, pake efek nggak ya? Nggak usah deh, pake efek distorsi dari ampli aja."

Sheila bermonolog seraya mempersiapkan gitar listrik di pangkuannya.

Ia sengaja duduk bersila di tepi ranjang, sambil bersandar, dirinya genjreng senar gitar dari atas ke bawah. Suara gitar dari ampli dengan volume yang cukup nyaring membuatnya sedikit kaget, terutama efek distorsi nan ternyata belum ia atur dengan bagus.

"Delaynya kebanyakan njir."

Sheila kembali berdiri, mendekati ampli lalu mengatur efek di speaker itu. Selepas semuanya telah di atur sedemikian rupa, ia kembali duduk bersandar di tepi ranjang.

"Kuncinya dari A ya?"

Sheila membuka aplikasi YouTube, mencari tutorial intro lagu Terlatih Patah Hati seraya mempraktikkan secara akurat.

Di balik sebuah rumah, alias tetangganya yang di nobatkan sebagai mantan kekasih—terlihat tengah memangku gitar sambil mendengar seksama dari jendela nan di buka sedikit. Tanpa sadar ternyata suara gitar Sheila menembus hingga ke kamar Febi.

Gadis itu, Febi Claudya Kiandra, ia cukup merindu kepada mantan kekasihnya, atau mantan sahabatnya.

Febi yang memiliki ego tinggi, tak bisa berkutik apalagi membujuk duluan.

Ia serahkan semuanya kepada waktu.

Semoga waktu bisa membawa mereka untuk berbaikan.

"Nggak kangen Sheila, Feb?" Ucap Satria tiba-tiba.

Tunggu dulu, jangan berpikir yang aneh-aneh mengapa Satria ada di kamar Febi.

Cowok itu...

Febi baru tau kalau Satria adalah keluarga jauhnya.

Dulu, waktu itu mereka pernah berada di dalam satu mall. Febi bersama keluarganya, Satria bersama keluarganya. Benar-benar tidak di sengaja bahwa mereka akan bertemu di mall.

Dan ternyata, ayahnya Febi alias Kiandra adalah sepupu dari ayahnya Satria. Oleh sebab itu mereka bisa disini sekarang, tanpa bermacam-macam apalagi di tuduh hendak aneh-aneh.

"Nggak." Jawabnya cepat, sambil menancap kabel jack ke gitar listriknya.

Satria yang kelewat mandiri itu, membawa ampli dari rumahnya, hanya untuk gitar bass nya agar bersuara. Ia yang tengah memainkan bass jadi tertawa, jawaban singkat Febi adalah kebohongan semata.

"Nggak mungkin jadi mantan nggak ada kangen-kangenan. Apalagi udah cipokan."

"Congor lo, Sat!"

Satria tertawa terbahak-bahak, ia ingat pada saat kejadian itu, malam nan dimana kedua sejoli itu bertengkar hebat.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang