Seraya menghembuskan napas kasar, Sheila duduk terdiam di bangku teras. Ia memejamkan mata sejenak. Huft, berpikir lebih keras Sheila.
Bingung.
Tadi, selepas Febi mengantarnya pulang hingga selamat sampai tujuan—juga meminta maaf atas kejadian satu tahun yang lalu—Sheila nampak bimbang. Ia bingung, rasa canggung itu masih ada, sekalipun mereka telah berteman seperti dulu.
Lantas bagaimana?
Entahlah.
Intinya Sheila sudah memaafkan kejadian itu.
Kalau untuk menerima orangnya?
Flashback
"Maksud gue. Emang harusnya begitu. Gue sama lo sahabatan dari kecil, masa jadi pisah gara-gara hal yang.. itu."
Mendengarkan apa yang di ucap oleh Febi, Sheila jadi murung.
Sahabat ya?
Hmmm, gapapa Sheila. Setidaknya kamu pernah berjuang untuk cinta itu.
"Iya. Tau. Nggak usah di perjelas," Sambil menjawab kesal, ia menatap jalanan lenggang, "Gue udah maafin lo dari dulu kok. Emang gue nya aja yang salah. Salah nanggepin kalonya lo ada perasaan lebih juga sama gue."
Deg.
Rasanya kayak di timpa batu.
Febi memicingkan mata, juga menyatukan alis. Ia tidak sependapat dengan kalimat yang keluar dari mulut Sheila. Itu tidak benar, tapi hatinya bingung. Masa dirinya pernah suka sama Sheila? Alhasil kepalanya jadi geleng-geleng, kocak saja rasanya.
"Hmmm." Jadilah satu deheman yang mampu keluar dari pita suara Febi.
Semakin dirinya mencoba menyangkal perasaan itu, semakin juga dirinya merasa ada perasaan lebih. Lalu mengapa?
Mengapa ia bisa ragu dalam perasaan ini?
Perasaan yang belum tentu ada kejelasannya.
Hanya belum, bukan berarti tidak. Ah, mungkin nanti?
Mungkin nanti Febi dapat merasakan hangatnya kasih sayang Sheila. Jelas dengan perasaannya yang juga di balas. Semisalnya Sheila memberi cinta, Febi juga begitu. Hubungan yang sangat sempurna. Tetapi kapan? Febi belum dapat mengerti akan jiwanya. Ia belum paham, mengapa dirinya menyangkal perasaan ini. Dan kenapa, ia tidak merasa suka seperti cinta—orang jatuh cinta pada umumnya.
"Kenapa?"
Febi tengah berpikir, ia mencari cara agar pembahasan ini tidak mengarah ke masalah satu tahun dulu. Hmm, bingung ya?
"Gapapa. Pulang nanti, jangan lupa buka blokir wa gue. Instagram gue juga."
Mengangguk semangat, Sheila pun tersenyum. Seperti itu lah kejadian tadi—yang sekarang ia bingung antara harus membuka blokiran akun sosial media Febi, atau tidak. Karena kalau Sheila melihat pacar-pacar yang Febi posting, hatinya terasa menyakitkan.
Sheila menghela napas pelan, ia ambil handphonenya dari saku celana. Dirinya membuka akun sosial media Febi, dengan tersenyum kecil, tangannya menekan tulisan buka blokir.
Semuanya sudah berakhir.
Mereka telah berbaikan, juga berteman seperti dulu.
Hanya saja, masih ada rasa yang belum padam. Apa mungkin nanti, rasanya secara perlahan akan menghilang. Tetapi ia harap jangan sampai terjadi.
Karena jatuh cinta kepada Febi adalah hal yang tak akan pernah Sheila lupakan.
Sedikit gila dan agak memakan hati, namun ia menyukai hubungan berasaskan tanggungjawab itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Roman pour Adolescents"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
