Part 10

2.6K 129 21
                                        

Pagutan bibir kontan terlepas, seiring waktu yang terus berjalan. Sheila menempelkan dahi mereka, lalu bertatapan dengan penuh puja, kemudian sama-sama tertawa di balik senyum nan lugu.

"Sekarang gue tau, kenapa lo suka banget ciuman walaupun cuman sekali doang lo ngecium gue pas itu."

Sheila tersenyum simpul, binar-binar mata terlihat lewat netra. Tubuh keduanya tak lagi berdansa, hanya ada keterdiaman langkah di tempat, seraya tubuh kian merapat di penghujung.

"Kalo sekarang, udah tau kan?"

Terkekeh pelan, Febi jadi jauhkan wajah. Sebab rona merah di pipi mulai menjalar hingga ke telinga, alhasil kepalanya jadi menunduk, meratapi kaki Sheila dengan penuh senyuman.

"Shei."

"Iya?"

Jawaban Sheila tidak lagi berdehem. Gadis itu hendak mencoba, mengurangi sifat cueknya terhadap si pacar. Siapa tau, nanti keduanya bisa sama-sama jatuh cinta. Untuk sekarang, Sheila dan Febi tidak bisa menganggap kalau mereka sudah cinta, apalagi suka. Takutnya hanya hasrat sesaat.

"Gue nginap di sini ya?"

"Kenapa?"

"Nggak tau.. gue kayaknya suka kalo tidur sambil di peluk lo."

Sekejap menyelesaikan kalimat, Sheila tertawa terpingkal-pingkal. Lalu beranjak menjauh, mendekati kasur seraya telentang nyaman.

"Bisa gitu ya? Yaudah, lo kabarin nyokap. Gue ngantuk, pengen bobo duluan."

"Jangan dulu!"

Sheila memiringkan badan, menghadap Febi dengan penuh spekulasi, "Kenapa?"

"Ntar lo nggak meluk gue kalo bobo duluan!"

Gelak tawa kontan pecah dari si gadis nan tengah telentang di kasur, karena Sheila merasa lucu atas sikap Febi yang terbilang menggemaskan, akhirnya ia tetap membuka mata seraya menunggu Febi mengabari sang mama.

Si gadis bermata monolid menghela napas, kakinya yang jenjang menghampiri Sheila.

"Gue ke pengin bikin band."

Sheila mengamati Febi yang telantang di sampingnya, jadilah mereka telantang saling berhadapan muka.

"Bisa main gitar aja belum."

"Ya! Makanya kita les gitar dulu tiap hari minggu! Trus nanti, pas SMA baru deh kita bikin band," Febi menggerakkan kepala, menatap langit-langit kamar dengan penuh harapan, "Kalo nggak salah, Anin jago nyanyi ya?"

"Iya."

"Kak justin jago main drum kan?"

"Nggak tau."

"Intinya personil gitar udah ada, vokal udah ada, drum juga ada. Tinggal bass doang berarti ya? Oke deh, nekstim kita kasih kejutan!"

"Nggak usah kebanyakan mimpi. Kayak bakal lancar aja."

"Jangan ngejek!" Febi memiringkan badan, enggan menatap Sheila yang sangat menyebalkan. Takutnya ia kelepasan menjambak rambut Sheila di kasur.

"Gue yakin, band kita bakal banyak di kenal orang." Lanjutnya penuh harapan.

Tak menggubris ucapan Febi, Sheila merapatkan tubuh mereka lalu memeluk sang gadis penuh nyaman. Desiran aneh kembali muncul. Nampaknya Sheila tak peduli dengan itu. Kantuk mata mulai menyerang keduanya, musik tidak lagi berbunyi, lambat laun mereka mulai tertidur secara pulas.

***

Untuk kedua kalinya, mereka kembali telat di pagi hari. Kesalahan fatal akibat Sheila dan Febi, lupa memasang alarm, menyebabkan mereka sama-sama telat. Alhasil, tangga di belakang sekolah mereka naiki bersama-sama, namun, terulang lagi kejadian yang dimana Febi takut hendak melompat, padahal ia sudah berada di ambang pagar.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang