Pagi hari ini, langit terasa mendung, sesekali hujan membasahi dedaunan di pohon. Muramnya langit, seperti menggambarkan isi hati Sheila. Sedari tadi ia tanpa henti memainkan gitar. Suara dari ampli salon yang menghasilkan alunan gitarnya telah memenuhi seluruh ruangan.
Koper dan berbagai macam perlengkapan sudah disiapkan. Tiket keberangkatan Indonesia menuju Kanada pun sudah di pesan. Sheila tak mampu menangis, kesedihannya bukanlah kesedihan belaka. Hatinya benar-benar terkoyak, seakan layaknya silet yang memotong-motong hatinya.
Tinggal menunggu satu jam lagi, Sheila akan diantar ke bandara.
Dan pergi, meninggalkan negara ini.
Karena disuruh oleh Vana.
Sheila sudah siap jika kali ini ia harus berpisah lagi dengan Febi. Meskipun ia tak mampu meninggalkan sang kekasih, namun apa daya kalau sang mama tak merestui.
Lalu, apa gunanya kata balikan waktu itu?
Tok tok tok!
Cklek!
"Dek! Buruan loncat ke balkon Febi! Papa bantuin! Ayo buruan!"
Sheila begitu terkejut lantaran Faith menarik kasar tangannya ke pintu balkon, ia menatap sang papa penuh tanya. Mengapa tiba-tiba seperti ini?
"Hah? Kenapa, pa!"
"Udah! Turutin aja kata papa sebelum mama kamu lihat!"
Pandangan Sheila meneliti balkon Febi, disitu terdapat Kiandra dan Febi di belakangnya. Kiandra bersikap siap jika Sheila akan meloncat kesini, tetapi yang membuat Sheila bingung itu mengapa semuanya sangat ingin ia meloncat ke balkon Febi? Aduh, Sheila sih tak masalah kalau di suruh meloncat, dia kan tidak takut apa-apa.
Ia hanya takut kepada Febi.
"Ayo, Shei!" Gertak Febi, mulai merasa tak sabar.
Sheila menurut, ia meloncat tanpa aba-aba dan kontan di tangkap oleh Kiandra. Sang papa saling tatap dengan Kiandra, ia melihat Faith yang tersenyum.
"Vana biar gue yang urus. Tolong bawain Sheila jauh-jauh dari sini."
Kiandra mengangguk mantap, ia membawa Sheila dan Febi untuk ke dalam. Kiandra menyuruh Febi agar segera mencari Dania. Karena di antara anaknya yang bisa membawa mobil hanyalah Dania. Kalau Abel kan tak mungkin, apalagi di posisi dirinya yang belum seratus persen sembuh.
Tatapan Sheila sungguh kebingungan ketika kepalanya di pakai kan kerudung. Sungguh, ini sangat aneh.
"Lo ngapain sih?!" Kesal Sheila, hendak siap melepaskan kerudungnya.
"Diem!" Bentak Febi, "Turutin aja kenapa sih?! Ntar pas di mobil gue jelasin. Sekarang lo buruan kesana, sebelum nyokap lo lihat!"
Sheila mengangguk takut. Ia memang tidak takut jika harus meloncat di ketinggian, tetapi kalau di bentak oleh Febi, tubuhnya langsung gemetar. Dasar Sheila. Takut kok sama yang lebih pendek. Tangannya terus di tarik oleh Febi. Saat Dania muncul di hadapannya, dirinya langsung duduk di kursi kemudi. Sedangkan tubuh Sheila di tarik masuk ke kursi belakang.
Kerudung yang ia pakai telah di lepas oleh Febi. Meskipun pacarnya memilih duduk di samping kemudi, ia tetap membantu Sheila dibelakang.
Dania mulai menjalankan mobilnya, ia membawa dengan kecepatan sedang di antara macetnya perkotaan. Sekarang Sheila perlu penjelasan. Mengapa dirinya di bawa kabur seperti ini? Tinggal setengah jam lagi pesawat akan berangkat.
"Kak Sheila! Maaf banget yah kita tiba-tiba bawain kak Sheila. Tapi ini tuh rencananya papah-mamah sama papa nya kak Sheila. Kita di suruh bawa kak Sheila kabur dari sini, dari pada kak Sheila ke Kanada mending kak Sheila ikut kita aja ke apartemennya kak Febi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
