Masih pada waktu dan hari yang sama. Namun bedanya hanya pada tempat.
Sheila pergi ke bar dekat kampus, lebih seperti hidden gem sebenarnya. Ia memesan beberapa minuman alkohol guna menetralisirkan rasa gelisahnya. Tak ada yang tau ia ada disini, sekalipun Luna yang menjadi penyebab dirinya pergi kesini. Akibat hatinya yang kacau balau karena pengakuan jujur Luna.
Jika saja Luna tidak berkata seperti itu, mungkin sekarang ia akan bersiap-siap untuk dinner mereka. Namun semuanya menjadi hancur seketika.
Sheila tidak tau harus bagaimana, salahkan saja perasaannya yang harus seperti ini. Sangat plin-plan.
"Ini udah botol ke empat yang lo pesen," Ucap sang bartender perempuan. Mungkin di atas usia Sheila, "Hebatnya, lo nggak kobam-kobam."
Sheila tertawa lirih, padahal rona merah di pipinya sudah menandakan betapa mabuknya ia saat ini, "Karena gue kuat."
Sang bartender menatap masam ke arah Sheila, "What's the problem? Gara-gara pacar?"
"Yap."
Si bartender memutar lihai gelasnya, ia memberikan satu shot gelas kepada Sheila, "Kenapa tuh?"
Sheila tersenyum tipis, ia meminum satu shot milik bartender tanpa berucap, kemudian dirinya menoleh sekitar. Tak ada orang yang ia kenali disini, pengecualian untuk si bartender. Namanya Chindy. Chindy Caily Inez. Sheila sudah cukup lama mengenal Chindy melalui bar ini, bahkan ia mengetahui siapa sang pacar si bartender.
Hanya ada satu tempat yang memungkinkan Sheila tuk bisa menceritakan masalah percintaannya ke seseorang, yaitu, Chindy. Dengan dirinya yang sama-sama memiliki hubungan sesama jenis, bukankah akan menjadi sangat mudah bagi Sheila menceritakan masalah percintaannya?
"Mantan gue balik di saat waktu yang nggak pas."
"Terus?"
"Pacar gue yang sekarang," Sheila menghentikan ucapannya sesaat, ia meminum alkoholnya lagi, "Kita baru pacaran sehari."
"Buset. Sehari. Pas lo udah punya pacar, mantan lo baru balik gitu?"
"Iya. Waktunya juga nggak tepat kenapa dia harus balik di waktu yang sekarang."
Chindy terkekeh pelan, melihat Sheila itu seperti melihat dirinya sendiri di waktu dulu. Bedanya hanya pada percintaan, "Jadi masalahnya apa?"
"Pacar gue ini nggak tau kalo dia mantan gue. Dan mantan gue juga nggak tau kalo dia pacar gue. Kita nggak sengaja ketemu bertiga, pacar gue ngenalin dirinya ke mantan gue sebagai pacar gue. Disitu awal konfliknya."
"Sorry, lo bisa sebutin pake nama aja gak? Gue agak belibet denger lo ngomongnya kayak gitu."
Sheila tertawa, "Mantan gue namanya Febi. Pacar gue namanya Luna. Febi itu ninggalin gue dari lima tahun yang lalu, pas gue udah coba buat move on dari dia terus pacaran sama Luna, tiba-tiba dia balik dan datang kesini. Jujur aja, gue masih punya perasaan lebih buat Febi. Buat Luna.. gue ngerasa kalonya gue sama sekali nggak ada perasaan sama dia. Perasaan nyaman dari dia itu kayaknya gue anggap dia sebagai kakak gue sendiri, makanya gue nerima ajakan dia pacaran waktu itu."
"Lo jahat banget.." Ucap Chindy dengan wajah tak percaya, "Kalonya lo tau lo nggak punya perasaan buat Luna, kenapa lo pacaran sama dia?"
"Nah itu poinnya, karena gue mau coba move on dari Febi. Makanya gue mau-mau aja pacaran sama Luna."
"Gue nggak paham lagi sama pola pikir lo."
"Ini tuh gara-gara si anjing dateng di waktu yang nggak tepat!" Kesal Sheila, ia menatap Chindy penuh amarah, "Andai aja dia nggak balik kesini, pasti semuanya nggak bakal kayak gini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Fiksi Remaja"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
