Ujian sudah selesai. Drama dalam waktu seminggu yang terasa singkat akhirnya terselesaikan. Mendekati ending akhir tahun juga mendekati hari libur. Yang artinya, papa Sheila akan pulang sebentar lagi, tinggal menunggu waktu saja.
Febi bersorak gembira. Karena apa? Karena, class meeting yang sering di adakan setelah ujian—tidak ada. Sama dengan, tak ada classmeet hari ini, hanya ada hari libur selama 3 minggu lebih.
Dua minggu lagi, akhir tahun pun telah tiba. Dalam waktu sesingkat ini, Febi dan Sheila mulai beranjak kelas 9.
Tanpa terasa sama sekali.
Di akhir tahun ini, Febi hendak menghabiskan sisa tahunnya bersama Sheila. Pacar sekaligus sahabat.
Kaki Febi kian melangkah ke halaman teras, lalu terdiam tatkala mendapati Kiandra nan tengah merokok di kursi teras, sembari memainkan ponsel—melihat pekerjaan.
Dengan wajah yang ceria, Febi duduk di sebelah Kiandra.
Menyadari kehadiran sang anak tengah duduk di sampingnya, Kiandra menekan putung rokok. Tak merokok lagi karena ada Febi yang tiba-tiba duduk disini. Lantas, Febi menatap heran, dalam hati berkata kalau ia tidak mempan dengan asap rokok, kan, dia juga merokok.
"Tumben nggak main gitar?" Tanya Kiandra, masih fokus dengan ponsel.
"Bukan hobi aku."
"Kenapa? Sayang dong jadi gak ke pake gitarnya."
"Kalo mood, nanti aku main."
Kiandra ngangguk-angguk saja, "Mending kamu ke dalam, nggak usah disini, atau ke rumah Sheila aja sana, asal jangan disini. Papah lagi ngerokok, nggak baik buat kesehatan kamu."
Febi tertawa, merasa lucu dengan rasa khawatir Kiandra. Andai papah nya tau. Bisa mati Febi.
"Kok ketawa?"
"Nggak, pah, ke inget hal lucu aja," Balas Febi, ia menatap ke pintu utama yang di tutup, lalu melirik Kiandra lewat ekor mata, "Papah kenapa nggak ngerokok di ruang tamu aja?"
"Kamu pengen papah di pukul sama mamah kamu?" Febi tertawa lagi saat mendengar penjelasan Kiandra. Papah nya itu mengambil asbak rokok di dekat Febi, memindahkannya ke meja samping, "Mamah kamu kalo lagi marah serem. Papah nggak mau ada perang ke sekian kalinya lagi gara-gara rokok."
"Makanya berhenti ngerokok aja."
"Nggak segampang itu."
Gak anak, gak papah, sama aja. Sama-sama gak bisa berhenti merokok. Alasannya pun sama, tak segampang itu, persis kayak judul lagu.
Karena merasa kasihan terhadap Kiandra yang tertunda merokoknya, Febi memilih masuk ke dalam rumah. Bukan berdiam diri, apalagi menyendiri di dalam kamar, melainkan ia mengambil kunci motor, membawanya ke halaman rumah.
"Mau kemana?" Tanya Kiandra saat melihat Febi yang membuka pagar rumah.
"Nyari angin."
Karena masih pukul 7 malam, Febi memutuskan tuk berjalan-jalan di sekitar tengah kota, hanya berbalutkan kaos lengan pendek serta celana pendek. Cuaca malam tidak terlalu dingin, malahan agak terasa panas. Kadang cuaca di tengah kota memang seaneh itu.
Tanpa tujuan, tanpa rencana, tanpa objek, hanya mengandalkan pikiran otak yang membawa Febi di jalan raya. Matanya melirik kesana-kemari. Melihat secara jelas, memperhatikan pedagang kaki lima, menatap ornamen wisata kota, lalu berhenti di dekat trotoar jalan.
Sekedar tuk melihat handphone, mencari keberadaan temannya yang lagi dimana. Selepas di balas dan di kirim lokasi tempatnya, buru-buru Febi menancap gas motor. Mengais jalanan yang padat kendaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
