Part 19

1.3K 103 10
                                        

Sekarang ini, sudah jam malam. Tadi sore, Sheila dan Febi sempat berdebat akibat rokok, namun yang memenangkan perdebatan kali ini ialah Sheila. Sungguh, Febi tak bisa menjawab ucapan terakhir Sheila.

Apalagi, ucapan Sheila terus berputar di ingatan Febi.

"Kalonya lo kecewa, masih ada gue yang lebih kecewa sama lo."

"Gue nggak bisa apa-apa kalonya lo sendiri yang nggak mau punya inisiatif."

Arrrgghhh!

Febi benci ini!

Febi benci harus merasa bersalah karena ucapan seseorang saja!

Dari dulu, sebelum Sheila over protective terhadap dirinya yang merokok, mana pernah Febi merasa bersalah akibat ada yang melarangnya merokok.

Tapi kali ini..

Mengapa rasanya pertahanan dinding Febi yang keras jadi runtuh?

Seolah, Febi baru kali ini merasakan bahwa sikapnya di tangani oleh seseorang.

Febi menghela napas kasar, mungkin ini karena egonya yang memang tinggi. Ia menatap jaket Sheila yang masih tergantung di kaitan baju. Aduh, Febi hendak mengembalikan jaket itu, namun rasanya canggung.

Harus bagaimana Febi sekarang?

Haruskah ia menyuruh Dania untuk mengembalikan jaket itu kepada Sheila?

Tapi keliatan banget dong, kalo Febi se-egois itu.

Akhirnya si gadis pemilik mata monolid itu mengurungkan niatnya.

Namun kalau di pikir lagi, bukankah ini terlalu berlebihan jika mereka akan terus diam-diaman? Sudah lah, lebih baik Febi menurunkan egonya. Kalau begini terus, yang ada mereka takkan pernah berbaikan.

Segera dirinya mengambil jaket Sheila. Buru-buru menuruni tangga lalu berlari kecil di halaman rumah. Sesampainya di kediaman Sheila, ia berhenti sejenak. Menarik nafas dalam-dalam kemudian di hembus secara kasar.

Tok tok tok!

Ketukan pertama belum di buka, bahkan sudah 15 detik.

Tok tok-

Cklek!

"Sia—"

Sheila terdiam. Matanya agak melotot.

Mereka saling bertatapan mata satu sama lain.

Hal yang membikin Sheila terkejut itu karena kepalan tangan Febi berhenti di depan wajahnya. Oleh sebab itu ia terdiam dan sedikit terkejut. Terkejut karena Febi menghampirinya kesini.

"Mau balikin jaket."

Sheila mengangkat satu alis, di lihatnya Febi yang tak berani menatap matanya.

"Sorry." Lanjut Febi.

"For what?"

"Sore tadi."

"Oh."

"Gue janji nggak akan ngerokok lagi."

Sheila menatap heran, tak percaya dengan ucapan Febi. Sungguh, ia tak percaya dengan janji Febi yang berhenti merokok. Dulu saja pernah bilang seperti ini, tak selang satu hari, gadis itu kembali merokok lagi.

Haruskah Sheila percaya?

"Oke."

Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Sheila. Oke nya yang di maksud Sheila bukan berarti ia percaya. Dirinya hanya tak mau memperpanjang masalah ini. Lagian kan orang pecandu rokok mana mungkin bisa berhenti, yang ada hanya menyiksa dirinya sendiri.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang