5 tahun kemudian...
"Sus, tolong sediakan kantong darah golongan A. Jangan lupa cek pernapasannya."
Rumah sakit.
Semua orang sibuk terhadap kegiatan masing-masing. Termasuk dokter dan suster yang membantu pertolongan pertama untuk pasiennya. Febi tak henti-hentinya mengkhawatirkan Abel, si kakak sulung mengalami kecelakaan tunggal. Terlihat tubuhnya yang terbaring lemah di ranjang.
Selepas kejadian putus hubungan dengan Sheila, ia memilih pindah sekolah juga pindah kota. Pindah ke kota lain secara memaksa kepada Kiandra. Padahal Febi belum bisa beradaptasi di lingkungan yang baru, namun apa boleh buat kalau rasa patah hatinya yang mengharuskan dirinya untuk pindah ke kota lain.
Febi tak tau, bagaimana kabar Sheila. Febi memutuskan semua hubungannya terhadap Sheila, termasuk kartu nomor yang dengan sengaja ia ganti. Hanya beberapa orang terdekatnya saja yang mengetahui.
Termasuk Satria, sepupu jauhnya. Cowok itu masih sering berbalas pesan dengan Febi. Semata-mata bertanya kabar.
"Dok, ini kepala pasien ke bentur stang mobilnya kenceng banget?" Tanya suster seraya menuntun ranjang yang Abel tiduri menuju ruang ICU.
"Iya. Keliatan dari darah yang bercucuran. Pasien perlu darah tambahan. Jangan lupa nanti di infus."
Tabrakan tunggal yang di alami Abel cukup fatal. Kepalanya terbentur sangat keras ke stang kemudi. Hal yang membuat Abel bisa separah ini hanya karena menghindari kucing yang tiba-tiba melintas di tengah jalanan.
Dengan posisi Abel yang mengemudi kecepatan 155 km/jam, tak ayal kalau dirinya tiba-tiba hilang kendali dan menabrak sebuah pagar pengaman jalan. Abel benar-benar tidak ingat diri dalam mengendarai kendaraan roda empat.
Niatnya, Abel hendak buru-buru ke kota yang Febi tempati, sebab dalam beberapa menit lagi, Febi akan menginjak umur 20 tahun. Namun naas, hari ulang tahunnya menjadi hari yang paling tragis.
Pada jam 12 malam ini.
Febi merasa gelisah, air mata sudah tidak dapat keluar lagi, ia hanya bisa menatap khawatir pada pintu ICU yang tertutup rapat. Sedari tadi tangannya sibuk mengutak-atik ponsel, menghubungi kedua orang tuanya dengan rasa takut.
Ia harap Abel masih bisa bertahan.
Kakaknya itu manusia kuat.
Abel harus tetap hidup, meskipun dunia menghantamnya secara keras.
Helaan nafas terus berhembus tak henti-henti, sang adik duduk menunggu di samping ruang ICU. Febi menatap lurus ke depan, tatapannya begitu kosong, terasa hampa disana. Persis seperti hatinya yang mati rasa.
Selepas putus hubungan dari Sheila, ia tak pernah menjadi perempuan hati murahan. Hatinya itu benar-benar di tutup rapat, ia membutakan dirinya karena tak sanggup jika harus memulai hubungan baru.
Katakan saja bahwa Febi juga memiliki rasa yang benar-benar besar kepada Sheila.
Hal yang paling menyakitkan ketika ia memutuskan untuk pindah kota adalah ketika dirinya tak mau mencari tau tentang kabar Sheila. Sedikitpun tak mau. Kalau ia mencari tau kabar kehidupan sehari-hari Sheila, yang ada hatinya semakin pilu, menahan sakit yang tak sebanding dengan perpisahan mereka kala itu.
Walaupun sudah 5 tahun yang lalu, rasa sakit akan perpisahan itu masih ada.
Sampai sekarang tentunya.
Lagi pula, dengan adanya dan tak adanya Sheila di hidupnya, kehidupan akan tetap berjalan seperti biasanya. Dengan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Novela Juvenil"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
