Part 18

1.4K 113 10
                                        

Ada satu bagian pada perempuan, yang sangatlah peka bila di sentuh oleh lelaki.

Di manakah bagian itu?

Maukah kau tahu?

Lagu Rahasia Perempuan milik Ari Lasso mengalun indah di penjuru ruangan kamar Febi. Gadis itu tengah menyanyi seraya berjoget kecil di lantai, ia memandang Sheila—nan kebetulan ada disini—mencoba menyuruh untuk berjoget bersama.

Sheila tidak tau lagu ini, namun ia merasa geli ketika mencermati lirik lagu yang Febi nyanyikan. Alhasil, ia pun menertawai pacarnya.

"Lo nggak tau liriknya ya?" Tanya Sheila.

"Enggak. Gue nyanyi yang penting lagunya asik. Udah, gitu aja," Febi lanjut bernyanyi, hingga bait terakhir. Kemudian ia mengganti lagu, lalu duduk di samping Sheila. "Emang kenapa?"

Sheila membuka ponselnya, mencari lirik lagu Rahasia Perempuan di Google. Sehabis itu, ia memberikan ponselnya ke Febi, "Coba lo baca. Pahamin liriknya."

Febi menurut, ia membaca hingga habis. Matanya menatap Sheila penuh bingung, "Nggak paham."

"Lagu mesum."

Bahkan, orang awam seperti Sheila pun tau kalau lagu ini memang mengarah ke hal yang dua puluh satu plus-plus.

"Hah?"

"Masa lo nggak paham sama liriknya? Gampang banget loh di cerna."

"Emang apa sih? Coba jelasin lebih detail."

Sheila mengambil ponselnya dari tangan Febi, "Nih. Coba dengerin ya. Sentuhlah dia tepat di hatinya, dia' kan jadi milikmu selamanya. Dari sini paham nggak?"

"Enggak."

"Kalo kata mesumnya, grepe tete."

Febi menampar kecil pipi Sheila serta mendengus sebal, "Anjing. Mesum banget lagunya. Kok, gue baru tau ya?"

"Makanya, kalo dengerin lagu tuh pahamin juga liriknya," Sheila tersenyum miring, ia menatap jahil ke arah Febi, "Mau coba?"

"Coba apanya?"

"Itu, liriknya."

"Bangsat!"

Sheila tertawa mendengar umpatan Febi. Gadis itu sangat terang-terangan menawar hal mesum tanpa di curigai oleh Febi. Si gadis nakal sedikit menjauh dari Sheila, ia mengeraskan speakernya lebih nyaring.

"Udah cukup lo cipok gue. Jangan sampe grepe-grepe juga."

Mendengar ucapan Febi, Sheila tersenyum masam. "Kalonya kita udah SMA, lo mau nggak?"

"Nggak! Jangan harap deh!"

"Gue janji gak kencang-kencang kok remesnya."

"Tai, Shei! JANGAN DI LANJUT OMONGANNYA. GUE POTONG LIDAH LO!"

Sheila tertawa terbahak-bahak, ia merasa lucu atas kesalnya sang pacar. Ketika matahari mulai memancarkan hawa panas, keduanya langsung berlari keluar kamar, kemudian menuju kulkas di dapur sambil membawa gelas di tangan masing-masing.

Febi mengambil teko plastik dari dalam kulkas, lalu menuangkan air ke gelas.

"Bagi." Ujar Sheila.

Dengan senang hati, Febi menuangkan air di gelas Sheila. Selepas meletakkan teko ke tempat semula, keduanya duduk berhadapan di meja dapur.

"Jadi gimana liburannya?"

Sheila meletakkan gelasnya di meja. Oh iya, di pikir-pikir liburan mereka bagaimana ya? Sheila itu bingung, kadang pengen liburan, kadang pengen di rumah aja. Rasanya ia tak bersemangat dengan liburan tahun ini.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang