Kembali lagi ke dunia dua remaja yang berstatus keluarga jauh.
Febi masih mencoba untuk menghapal kunci gitar bersama Satria yang mencoba mengulik bass dari lagu itu-Terlatih Patah Hati-lagu yang akan mereka tampilkan di minggu depan.
"Brengsek banget lo, Feb."
Apa lagi sih?! Febi sudah diam sedari tadi.
Menanggapi ucapan Satria hanya membuatnya darah tinggi dan emosi. Apalagi pembahasannya tidak jauh dari Sheila.
"Apa njing?!"
"Lo tuh.." Melihat adanya kesempatan untuk menjitak kepala Febi, Satria kontan menaruh gitar, "Udah setahun lebih macarin anak orang sana-sini tapi cintanya cuman ke Sheila anjing!" Ucapnya dengan menggebu-gebu.
"Aduh anjing, sakit ege!"
Satria merasa kesal bahwa temannya sekaligus keluarga jauhnya menjadi brengsek dalam percintaan. Wajahnya yang polos, diam-diam pemain.
Coba bayangkan, sudah berapa banyak cowok yang Febi sakiti?
Dalam setahun lebih, Febi telah memiliki 16 mantan dalam waktu singkat. Tidak sampai sebulan-putus. Alasannya? Karena bosan. Padahal dari awal, Febi memang tidak memiliki ketertarikan apapun terhadap mereka semua.
"Lo kenapa sih? Tiba-tiba jadi sasimo gini. Semenjak lo ngebuktiin kalonya lo cuman labil tentang perasaan lo ke Sheila itu, lo sama sekali nggak pernah serius sama hubungan lo yang sekarang-sekarang," Satria mengambil gitarnya kembali, ia memetik satu senar lalu memandang Febi dengan tajam, "Biar apa lo kayak gitu? Biar di notice Sheila? Biar Sheila cemburu? Childish tau nggak! Lo kayak gini tuh kesannya hati lo murahan banget anjing. Orang yang kayak Sheila nggak mungkin bakal notice lo yang kayak begini, mungkin dia udah ilfeel sama lo sekarang. Inget, karma itu nyata, Feb."
"Apa sih, Sat? Tumben banget lo ngurusin gue. Eh, inget ya, ini tuh cuman belum nemu orang yang pas aja makanya jadi pada nambah mantan melulu. Ntar kalo udah nemu yang sama-sama nerima pasti bakalan berhenti kok sifat playgirl gue! Untuk sekarang mah, emang lagi nggak ada yang pas, belum waktunya aja."
"Bukan nggak ada, tapi lo yang menutup hati lo buat orang yang pengen jadi penghuni di hati lo! Astagaaa, Febi, Febi. Lo tuh nyadar nggak sih? Selama ini, lo sengaja menutup pintu hati lo karena masih ada rasa sama Sheila. Mau sampe kapan pun lo nerima cowok-cowok di luar sana, nggak bakal ada yang mungkin lo bisa serius sama mereka, karena dari diri lo sendiri, lo emang nggak pernah mau membuka pintu hati lo. Dari awal, lo udah membutakan diri lo terlebih dahulu."
"Hah? Lo ngomong apa sih? Jadi makin ngaco nih bicaranya. Inget ya, Sat. Satria maksudnya. Gue tuh, enggak ada, rasa apapun, sama Sheila. Enggak ada, Sat. Enggak ada. Titik gak pake koma." Jawab Febi penuh penekanan di tiap kata.
"Kalonya lo emang nggak ada rasa sama Sheila, kenapa lo malah menghindar tiap nggak sengaja papasan sama dia? Bahkan, gue nggak tau kenapa lo mau-mau aja pas di kasih tau Justin kalonya band kita bakal comeback lagi. Hayoloh, kenapa? Emang gak canggung kalo semisalnya kita berlima bareng-bareng lagi? Ada Sheila loh, Feb. Mantan lo, tetangga lo, sahabat lo, temen cipokan lo itu. Masa, di pikirin lo nggak terbesit satupun kalonya ini tuh, masalah yang besar bagi lo sendiri?"
Mendengar ucapan Satria itu, sontak Febi mengkerut dahi. Gitar yang ada di pangkuannya ia anggurkan sebentar, ponselnya yang berada di atas paha ia pindah ke lantai. Dari awal hingga sekarang, dirinya memang duduk bersila sedari tadi.
Berbeda dengan Satria yang duduk di pinggir ranjangnya.
Kadang kalau Satria kesini tuh, bisa seenaknya.
Sheila aja yang berkali-kali nginap disini selalu minta izin kalau mau naik ke kasur atau mau memegang benda apapun di kamar Febi. Bahkan, Sheila yang sudah di anggap kayak anak sendiri sama mamah-nya pun, kadang masih malu-malu kucing kalau masuk ke rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
