Ku tak peduli.
Bila ku benar-benar cinta mati.
Ku tak peduli.
Lagu Bukannya Aku Takut milik Juliette terdengar merdu dari si pemilik mata monolid nan tengah bernyanyi, bersama Sheila menjadi gitaris untuk sang istri kesayangan; gadisnya, separuh napasnya.
Lagu ini mengingatkannya pada 5 tahun yang lalu.
Lagu para band Hujan Sore Hari ketika bernyanyi dan bergitar sama-sama di teras rumah.
Kini kedua mempelai yang telah sah menjadi sepasang kekasih itu duduk di teras rumah Sheila. Bukan nya berdua, namun sekeluarga. Sheila, Febi, Abel, Luna, dan kedua orang tua Febi juga kedua orang tua Sheila. Mereka berdiskusi mengenai masa depan Sheila dan Febi.
"Udah dulu gitarnya, Shei." Ucap Febi pelan, setengah berbisik kepada Sheila.
Sang istri menurut serta meletakkan gitarnya.
"Jadi," Tanya Faith sambil menatap Sheila, "Kalian mau tinggal di mana?"
Hingga saat ini, keduanya belum menentukan hendak tinggal di mana. Sebenarnya sudah banyak rumah yang di tawarkan oleh orang tua Sheila, tetapi Sheila menolak. Katanya ia hendak membangun rumah dari hasil uangnya sendiri.
"Masih nyari tanah, pa." Jawab Sheila.
Abel memperlihatkan layar ponselnya ke Sheila, "Coba lo lihat deh. Kemarin temen gue ada jual tanah, ukuran 15 x 30. Siapa tau lo minat."
Sheila menatap ponsel Abel, ia menggeleng kecil seraya melihat Febi, "Jauh. Kita pengennya yang di deket sini aja."
"Agak susah kalo nyari tanah deket sini." Balas Kiandra.
Mencari tanah kosong di sekitaran sini memang susah. Apalagi lahan di sini sudah banyak di isi oleh pemukiman warga. Hanya ada komplek dan beberapa rumah kontrakan.
"Kenapa nggak beli rumah yang di depan?" Tanya Clarissa, ia menunjuk rumah di depan rumah mereka. Disitu tertuliskan bahwa rumahnya di jual tanpa perantara.
Sheila dan Febi kontan menoleh ke arah rumah itu. Rumah berukuran besar, mungkin memiliki luas 20 x 40.
"Buset," Sahut Febi, "Gede banget rumahnya."
"Duit Sheila mana cukup buat beli rumah segede itu." Balas Sheila.
Kalau saat bersama orang tua Febi, ia akan memanggil dirinya lewat nama. Kalau bersama orang tuanya sendiri, ia akan memanggil dirinya dengan dedek. Sedangkan Febi ketika bersama orang tua Sheila, ia konsisten memanggil dirinya dengan aku. Begitu cara para pengantin memanggil dirinya.
"Kan ada papa yang bisa bayarin." Ucap Faith.
"Nggak deh, pa. Dedek mau mandiri sama Febi."
Diam-diam ketiga anak Kiandra tertawa mendengar Sheila berucap seperti itu. Yang di panggil dedek memasang wajah masam, ia ditertawakan karena penyebutan kata dirinya.
"Lucu banget di panggil dedek." Ejek Abel.
Dania sudah tak bisa menahan tawa ngakaknya, "Seorang kak Sheila yang gahar nyeremin gitu manggilnya dedek? Gacor king."
Keluarga penuh hangat itu tertawa terbahak-bahak. Terkecuali Sheila, ia menatap tak suka ke arah semuanya. Beginilah kalau menjadi anak satu-satunya di rumah, pasti akan dipanggil dedek.
Faith menyudahi tawanya, netra mata menatap Sheila, "Dedek kalo mau di bayarin sama papa bilang aja. Kalo mau di ganti juga bisa. Anggap aja dedek ngutang sama papa, tapi bayarnya nanti."
Sheila mengangguk mantap. Sebenarnya bisa saja ia begitu, apalagi tabungan di bank miliknya memiliki uang sebanyak 200 juta. Hasil dari dirinya yang menabung selama mengurusi bisnis cafe sang mama. Sayangnya belum cukup untuk Sheila membeli rumah maupun tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
