Part 34

1.3K 106 39
                                        

2 hari setelah Abel di rawat inap di rumah sakit, ternyata masih belum boleh untuk di pulangkan. Wajar lah masih 2 hari, hanya saja, Abel mulai bosan menatap ruangan putih disini. Apalagi ia hanya sendirian dalam beberapa jam, walaupun terkadang ada temannya yang menjenguk.

Sekarang giliran Sheila yang benar-benar ingin menjenguk dan mengobrol kecil. Ia sudah siap membawa cemilan ringan untuk Abel. Siapa tau sang kakak ipar juga bosan dengan rasa makanan di rumah sakit yang hambar.

Pintu ruangan Abel di rawat-di buka perlahan-lahan-selama 2 hari ini pun, masih belum ada perkembangan di antara Febi dan Sheila. Karena sungguh, ia cukup sibuk akan jadwal kuliahnya yang mepet, belum lagi dirinya belajar mengelola bisnis mamanya yang bercabang-cabang itu. Kadang Sheila merasa pusing melihat susunan proposal dan data-data keuangan dari cafe mamanya.

"Shalom, kak Abel."

"Shalom."

"Udah mendingan?"

"Lumayan. Masih anget badan gue," Abel tertawa sendiri mendengar ucapannya, ia menatap ke arah bungkus Indomaret yang Sheila pegang, "Bawa apa tuh?"

"Jajan."

"Ih! Mau dong!"

Dengan senang hati Sheila memberikan plastiknya ke Abel, ia duduk di kursi samping ranjang, "Kak."

"Iya?" Jawab Abel seraya membuka tiap makanan.

"Kak Abel nggak ada niatan buat nyuruh Febi stay disini aja?"

"Ada sih. Cuman, agak susah."

"Kenapa?"

"Anaknya susah mau nurut, kecuali kalo emang genting banget. Baru dia mau nurut."

"Hmmm," Sheila tampak berpikir. Harus dengan cara apa lagi agar Febi kembali menetap di kota ini, apakah perlu dirinya yang turun tangan langsung? Namun terasa tak mungkin jika Febi langsung mengiyakan perintahnya, "Gimana ya caranya."

"Kalian.. udah baikan ya?"

Sheila mengangguk kecil, ia tersenyum tipis, "Belum sepenuhnya baikan sih. Masih kayak ada canggung dikit gitu."

"Oalah. Gapapa, dari pada musuh-musuhan kayak tahun lalu."

Tangan Sheila menggaruk belakang kepalanya, ia menjadi kikuk karena kehabisan kata-kata jika membahas sang mantan. Apa lagi yang ia hadapi ini ibaratkan kakak iparnya bagi Sheila. Kecanggungan pun jadi menyelimuti di antara keduanya.

"Hmm, kak. Udah dapet kerjaan?"

Aduh, salah bicara. Masalah pekerjaan itu salah satu hal sensitif jika di bahas dengan yang bersangkutan. Tetapi sepertinya itu bukan masalah yang besar bagi Abel, justru ia membalas dengan wajah yang di buat sedih, "Belum nih.."

"Gimana kalo kak Abel kerja di perusahaan mama aja? Kebetulan mama lagi nyari admin cewek. gajinya setara UMR Jakarta. Bisa tuh kakak jadi admin, ntar kalo kinerja kakak bagus bakalan di naikin gajinya."

"Eh, serius? Wih, bisa tuh. Gue belum dapet kerjaan pasti juga sih sekarang. Ntar ya pas udah sembuh."

"Aman. Kak Abel tinggal telpon aku aja."

"Kamu.." Abel memicingkan mata menatap Sheila, "Kamu beneran bakal ngurus cafe-cafe mama kamu ya, Shei?"

"Iya, kak. Mau nggak mau harus. Cuman di bisnis cafe-cafe mama aja, selebihnya masih mama kok yang ngurusin. Apa lagi tuh yang satu, aku lupa, pokoknya perusahaan mama yang bukan cafe, itu tetap di pegang sama mama. Kalo cafe mama yang bercabang-cabang ini bakalan aku yang nerusin."

"Ih, hebat ya. Nggak nyangka padahal dulu kamu sama Febi masih bocah, sekarang kamu udah mau ngurusin bisnis aja."

"Udah waktu dan umurnya, kak."

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang