Part 31

1.1K 114 32
                                        

"Long time no see, Febi. After 5 years, right?"

"Yea. That's right."

Sheila tertawa pelan. Ternyata hatinya masih sama seperti dulu. Jantungnya masih berdebar kencang. Semua yang ada di ruangan terdiam tanpa kata, membisu seakan ini adalah momen yang sangat tak di inginkan. Walaupun kedua orang tua Febi tidak mengetahui antar hubungan mereka.

Setelah menghilang selama 5 tahun, kini Sheila menemukan Febi.

Mereka bertemu, dengan kerinduan dari lubuk hati masing-masing. Namun, dengan perasaan yang berbeda. Bercampur aduk. Ada rasa rindu, sayang, cinta, dan benci.

Satria berdehem kecil, buru-buru ia menarik lengan Febi agar keduanya tak terjebak ke dalam pertikaian yang tak seharusnya. "Yuk pulang, Feb."

Tidak semudah itu Satria bisa membawa Febi.

Kini, tangan kurus milik Sheila menggenggam erat pergelangan tangan Febi.

"Gue belum selesai ngomong."

Febi tak sanggup, kulit mulus yang menyentuh pergelangannya terasa menyentuh hati. Namun ia kewalahan, di hadapkan antara tengannya yang di tarik Satria dan pergelangan tangan yang di cengkram oleh Sheila.

"Febi perlu istirahat, kalo mau ngobrol, nanti aja." Ucap Satria yang semakin menarik lengan Febi.

Dari pertemuan yang singkat ini-selepas menghilang selama 5 tahun-apakah Sheila akan membuang kesempatan itu? Jelas tidak.

Sheila menaruh bingkisan buahnya ke meja, ia menatap tajam Satria. Tanpa berkata apa-apa, di tariknya tangan Febi mengikuti arah tanpa tujuan.

Sepanjang lorong rumah sakit, keduanya tak ada pembicaraan, benar-benar canggung dengan pertemuan yang sama-sama dari dua belah pihak belum siap untuk bertemu kembali. Satria tidak mengikuti keduanya, ia membiarkan mereka mempunyai ruang dan waktu berdua. Ibaratkan ini adalah caranya untuk membalas kesalahannya di waktu mereka remaja.

Setelah berjalan tanpa tujuan, Febi kontan tersadar dari lamunannya, ia berhenti seraya menahan lengan Sheila agar berhenti dari tiap langkah yang terasa menyedihkan. Matanya menatap sendu punggung belakang Sheila.

"Shei..."

Sheila tak menghiraukan, ia kembali menarik pergelangan tangan Febi ke lobi parkiran rumah sakit. "Ikut gue!"

Cengkraman kasar itu, tak sepadan dengan tubuhnya yang kurus lemah. Selama kurang lebih 5 tahun ini, apakah sang gadis tumbuh dengan benar? Sepertinya tidak. Sheila memasukkan Febi secara paksa ke dalam mobilnya, ia menutup pintu keras-keras.

Sekarang di mobil ini hanya ada mereka berdua-yang masih enggan untuk berbicara meskipun ada beribu-ribu tanya di dalam benak pikiran.

Mengapa mereka harus bertemu?

Ini terlalu menyakitkan bagi Sheila. Ia hampir hilang kewarasan setelah kepergian Febi yang tanpa berkabar-kabar, bahkan ia tidak tau dimana Febi berada waktu itu. Sheila benar-benar kehilangan separuh nafasnya.

Helaan napas keluar dari mulut Sheila, matanya yang terpejam di iringi dengan isi pikiran yang kacau. Ia tidak tau harus memulai percakapan dengan kata apa, kata-kata pun terasa tak cukup untuk mengungkapkan semua isi hatinya.

Sheila benci bagaimana Febi yang meninggalkan tanpa sepatah kata, namun ia juga merindu kepada sosok di sebelahnya saat ini.

"How's life, Shei?"

Setelah beribu kekacauan di dalam kepala, hanya ucapan itu yang mampu Febi keluarkan. Pandangan mata menatap lurus tanpa berkedip, ia tak berani melihat Sheila. Sungguh menyakitkan.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang