Part 38

838 59 12
                                        

Sheila dan Febi berjalan secara terburu-buru di lorong rumah sakit. Mereka sama-sama merasakan hal dejavu, sebab rumah sakit yang dikunjungi ini adalah rumah sakit yang sama di tempat Abel terbaring lemah. Sheila sudah tak tau bagaimana perasaannya ketika sang papa mengabari tentang mamanya. Jelas-jelas ia begitu terpuruk.

Febi berusaha menguatkan Sheila, bagaimanapun juga, Vana tetaplah mamanya Sheila. Mama yang melahirkan sang anak.

Setibanya di depan pintu ruangan yang telah di beri tau, keduanya terdiam dengan langkah yang terhenti. Febi menatap Sheila, ia menggenggam kedua tangannya.

"Calm down, Shei. Ada gue di sini."

Sheila hanya mengangguk dan tersenyum lebar, tak ada kesan-kesan khawatir di wajahnya. Febi cukup terheran. Sheila itu mengapa selalu berpikir positif ya? Padahal mama nya sedang di rawat inap. Ah, mungkin Sheila bukan tipe orang yang bisa menunjukkan kekhawatirannya.

Perlahan, Sheila membuka pintu itu.

Cklek!

"HAPPY BIRTHDAY, FEBI!"

"SELAMAT ULANG TAHUN YANG TELAT, KAK FEBI!"

Febi terdiam, seiring tubuh yang mematung menatap hiasan-hiasan penuh kejutan di ruangan ini. Ia meneliti, sekitar ada 8 orang, bahkan Vana yang di katakan sakit malah ikut merayakan serta memakai topi ulang tahun.

Tunggu sebentar...

Apa maksudnya ini?

Ia menatap Sheila, sang pacar masih tersenyum lebar. Hingga matanya ikut menghilang akibat senyuman itu.

"Selamat ulang tahun, Febi Claudya Kiandra." Ucap Sheila pelan.

Febi masih tak mengerti akan semua ini, ia butuh penjelasan. Dirinya masih terheran-heran sebab semuanya begitu bahagia, tak ada kesan-kesan menegangkan di rumah ini.

"I-ini gimana maksudnya?" Bingung Febi, suaranya bergetar hendak menangis. Namun Sheila langsung sigap memeluk Febi.

"Surprise..." Jawabnya lembut, sembari mengusap lembut kepala Febi. "Semuanya gue yang rencana-in. Buat rayain ulang tahun lo yang ke tunda."

Febi tak dapat menahan air matanya, ia menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan kue ulang tahun yang di pegang oleh Abel. Kalau semua ini memang lelucon semata, mengapa keduanya harus rela-rela pergi ke kota lain? Bahkan dengan akting Vana yang berusaha tidak merestuinya.

"Maaf ya, Feb. Kita semua sengaja nge-prank lo begini. Soalnya Sheila yang ngusulin," Jawab Abel sembari maju membawa kue ulang tahun untuk sang adik, ia menyerahkan kue itu ke Sheila. Agar si perencana kejutan ini menyuruh Febi meniup lilin itu, "Mama Sheila ngerestui-in lo kok. Kemarin cuma becanda doang, nggak serius."

"Kalian kenapa sampe kayak gini sih?" Febi melepaskan pelukannya dari dekapan Sheila, sedang Sheila mengambil alih kue itu. Febi menatap keseluruhan wajah satu persatu, "Seenggaknya jangan bikin gue panik gara-gara Sheila mau ninggalin gue."

Mereka semua tertawa, terkecuali Sheila.

"Ya kali gue mau ninggalin lo gitu aja."

"Sejak kapan lo rencana-in ini?"

"Kemarin, waktu kita di warung bu Mala. Kan, disitu gue ada pegang hp sampe cuekin lo."

Febi berusaha mengingat. Ah, ia ingat sekarang. Ternyata itu alasannya? Saat Sheila nan begitu fokus terhadap ponselnya, dan Febi mengira bahwa itu ialah urusan pekerjaan. Tatapan Febi berubah penuh memandang ke Vana.

"Terus, tante Vana? Tante nggak marah soal.. kita?" Tanya nya hati-hati.

"Enggak kok," Balas Vana sambil tersenyum, ia menggandeng erat lengan suaminya, "Dari awal tante emang udah tau, cuma tante diam aja sampe suami tante sendiri yang tiba-tiba bahas kalian."

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang