Luna benar-benar menggiring Sheila hingga ke rumah. Sheila sempat menawarkan Luna untuk mampir, namun gadis itu menolak mentah-mentah karena sudah terlalu malam katanya. Jadinya Sheila hanya mengangguk serta berterimakasih kepada Luna yang telah menggiringnya hingga selamat.
Ia langsung memasukkan motornya ke dalam garasi, saat hendak membuka ganggang pintu, ia terdiam melihat ada cowok—yang ia akui pacar Febi, walau sebenarnya sudah putus—seolah menunggu di depan pagar rumah gadis itu. Dari awal Sheila sampai di tempatnya berpijak hingga Luna telah pergi pun, cowok itu sama sekali tak melirik ke arahnya, benar-benar fokus ke jendela kamar Febi. Berharap sang empu rumah untuk keluar mungkin?
Sheila hanya memasang wajah masamnya. Pemandangan ini, sudah berkali-kali ia lihat. Ia bisa menebak kalau Febi sudah memutuskan cowok itu.
Setiap mendekati akhir bulan, Febi selalu memutuskan cowok-cowok itu, entah apa alasannya, yang Sheila tau kalau Febi di besok harinya telah memiliki pacar baru. Jadilah Sheila penasaran, menunggu di hari esok akan seperti apa pacar baru Febi.
Ia pandang lagi cowok itu. Namun dari posisi yang berbeda. Sheila telah masuk ke dalam rumah, kemudian pintu utama sedikit ia buka, sedangkan dirinya menilik dari kaca jendela. Baru beberapa detik ia menatap—Febi keluar dari rumah, menghampiri cowok itu dengan tergesa-gesa.
Plak!
Wow.
Sheila tercengang.
Ia benar-benar terkejut akan sisi ganas Febi yang tak segan menampar pipi cowok itu.
Yang di tampar pipinya hanya menatap nanar.
"Kita tuh udah putus! Ngapain lo berdiri di depan rumah gue dari tadi, hah?! Kayak mau maling tau gak! Lo nggak malu apa di liatin tetangga?!"
Sheila menajamkan indera pendengarannya.
"Febi. Aku mohon banget, kasih aku penjelasan kenapa kamu tiba-tiba putusin aku tanpa sebab kayak gini. Bukannya kemarin kita baik-baik aja? Kenapa? Kenapa kamu putusin aku, Feb? Kenapaa?"
"Gue udah bosen sama lo! Puas?!"
Harusnya dari kalimat Febi yang menyakitkan ini, cowok itu bisa sadar. Tapi nyatanya tidak. Bahkan, cowok itu berusaha untuk menggapai tangan Febi, tapi di tolak mentah-mentah.
"Apa sih. Yang kurang. Dari aku?"
Cowok itu terbata-bata mengucapkan tiap kalimatnya. Air mata sudah berlinang di penghujung pipi. Sheila seperti mendapati tontonan penghibur dari di landa hatinya yang galau.
Namun, ia langsung sedih.
Alasan ia patah hati kan karena Febi.
"Nggak, gak ada yang kurang. Emang gue nya aja yang bermasalah disini. Dari awal gue nggak pernah serius sama lo, bosen itu cuman alibi gue untuk putus dari lo! Gue mohon, tolong jauhin gue, lupain gue. Gue nggak pernah beneran sayang sama lo. Itu semua cuman permainan gue."
Wah.
Sheila benar-benar terkesiap mendengarnya.
Mengerikan.
Ternyata Febi sangat lihai dalam memainkan hati seseorang. Sampai-sampai, cowok itu berlutut, meminta mereka agar bisa balikan lagi.
"Please, i'm begging you. Aku nggak bisa tanpa kamu Febi. Aku nggak bisa, aku nggak bisa kalonya kita putus, aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu, Feb. Tolong biarin aku termakan sama semua acting dan kebohongan kamu itu, asalkan cintai aku lagi, kasih aku kasih sayang yang kamu berikan secara pura-pura itu."
Aissss.
Naas sekali nasibmu bung...
Sheila sudah tak sanggup melihat tontonan di depan mata ini, ia tutup pintunya rapat-rapat lalu pergi ke kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
