Part 29

1.4K 107 41
                                        

Malam hari, di sebuah kamar Febi. Suasana tegang, udara terasa berat karena emosi yang tertahan. Sheila menghela napas, sedari tadi terus menunggu seutas kata dari mulut Febi, namun sang gadis masih enggan bersuara.

Febi bingung harus bertindak seperti apa, mengucapkan satu katapun ia bingung. Semua yang di katakan Sheila sangat menyentuh isi hatinya. Dan ia mulai tersadar, bahwa Sheila benar-benar terjatuh lebih dalam, lebih keras.

"S-Shei.." Suaranya bergetar, ia tak sanggup berucap, "Maaf."

Sheila terkekeh pelan, ia mendongak ke atas, air matanya turun tanpa sebab. Mengapa hatinya sangat cepat luluh dengan kata-kata maaf? Mengapa kata-kata maaf dari orang yang di cintainya mampu membuat hatinya lemah seperti ini? Apakah ia akan bersikap lemah kepada pasangannya sendiri?

Lalu harus bagaimana Sheila?

Memulai semuanya dari awal lagi dengan hubungan yang pasti?

Sheila menghela napas panjang, ia menurunkan pandangannya ke Febi yang berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Tetapi ada sesuatu dalam tatapan Febi yang membuat Sheila tidak tahu harus merasa lega atau terluka.

"Kenapa lo selalu kayak gini, Febi? Setiap kita berantem, pasti ujung-ujungnya cuman keluar kata maaf, lo gak pernah ngebalas apa yang udah gue ungkapin. Kenapa harus itu sih jawabannya?" Suaranya terdengar pelan, namun tegas.

"G-gue tau ini salah gue. Gue cuman nggak tau gimana caranya lebih baik dari ini buat ngebalas ucapan lo, gue takut salah bicara, Shei," Suara Febi mulai bergetar, "Gue nggak tau cara memperbaikinya, tapi gue gak bisa bayangin hidup tanpa lo, Shei. Nggak ada lo, nggak ada juga yang ngurusin hidup gue. Cuman lo yang bisa membimbing gue, Shei."

Sheila tertawa kecil, tatapannya terlihat getir, "Lo nggak bisa tanpa gue? Bukannya lo kelihatan bahagia sama mantan-mantan pacar lo itu? Bahkan lo selalu nunjukin kemesraan lo di depan gue."

Hening sejenak, hanya terdengar suara AC di dalam ruangan. Febi mencoba mencari kata-kata, tapi semuanya terasa kosong. Sheila menghela napas panjang, seolah memutuskan sesuatu dalam hatinya.

"Gue sayang sama lo, Febi. Selalu. Tapi... cinta aja nggak cukup kalau cuman gue yang berjuang atau yang menunjukkan. Gue nggak bisa terus-terusan jadi orang yang ngalah, yang pura-pura semuanya baik-baik aja." Sheila berbicara pelan, akan tetapi penuh emosi nan tertahan.

Febi melototkan matanya, ia panik. Tangannya mencoba menggenggam tangan Sheila yang hendak pergi. "Shei, g-gue bisa berubah. gue janji, kali ini gue nggak akan pura-pura bohong di depan lo lagi. Tolong kasih gue satu kesempatan."

Mata Sheila memandang Febi, senyumnya terlihat tipis namun penuh luka, "Kalo gitu, pastiin dulu perasaan lo ke gue. Jangan cuman main-main, gue bukan mainan lo, Febi. Gue capek berharap—"

"Jangan pergi, Shei!" Potong Febi, "Gue butuh lo.. Kasih gue kesempatan buat menunjukkan cinta gue ke lo. Fine! Gue jujur, kalonya gue juga ada rasa sama lo.." Suara Febi benar-benar melemah, hampir seperti berbisik. Air matanya pun turun lagi.

Sheila tersenyum getir, ia mencoba menghapus air mata si pemilik mata indah. Kenapa setelah drama panjang satu tahun menunggu kepastian hubungan kemarin baru terjawab sekarang? "Lo nggak butuh gue. Lo cuman takut sendirian. Dan gue.. gue nggak bisa terus-terusan jadi seseorang yang lo anggap ada saat lo butuh doang. Gue paham banget, lo bilang jujur kayak gini biar gue mohon-mohon ke lo lagi 'kan?"

Namun salah. Pemikiran Sheila terlalu kalut, ia tidak mudah percaya begitu saja. Segala hal yang telah terjadi membuatnya takut akan kepercayaan. Meskipun jika Febi berkata demikian.

Maaf.

Sheila mengambil ponselnya yang terletak sembarangan di kasur, ia berdiri di depan pintu kamar. Febi tetap diam di tempat, gadis itu sama sekali tak sanggup bergerak. Suara mesin AC masih menjadi latar keheningan mereka.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang