Part 35

1.2K 96 34
                                        

Hari sudah mulai malam.

Selepas kejadian enam orang yang menjelaskan semuanya—Sheila dan Febi berada di salam satu mobil yang sama. Mereka saat ini berhenti di pinggir jalan. Karena sebelumnya, mereka hendak pulang dari rumah sakit.

Keduanya menjadi saling terbuka akibat penjelasan dari drama itu, bahkan rasa-rasa canggung di dalam diri mereka sudah tak ada.

"Mau rokok?" Tawar Sheila seraya mengeluarkan kotak rokoknya.

"Boleh."

Karena keduanya sama-sama di landa pikiran yang kacau, mereka merokok di dalam mobil, tak lupa sedikit membuka kaca jendela. Sheila membantu menghidupkan rokok Febi, sedikit tertawa sebab cara memegang rokok Febi terlihat aneh.

"Saking lamanya lo nggak nyentuh rokok, tangan lo jadi aneh cara megangnya."

Febi ikut tertawa atas ucapan Sheila, asap rokok keluar dari mulutnya, "Kurang kopi, Shei."

"Mau ke angkringan?"

"Shei, masalahnya gue cuman pake kolor doang ini." Jawabnya seraya menatap celana pendek yang ia pakai bergambarkan Hello Kitty. Dampak kagetnya perihal kejadian itu, ia sampai tak sempat berganti celana. Untung saja rumah sakit lagi sepi-sepinya tadi.

"Nggak masalah. Lo tetap cantik mau kayak gimana pun."

Febi terkekeh pelan. Ia sedikit salah tingkah. Puji-pujian sheila masih membuatnya kesenangan. Ternyata benar, mantan adalah hal terindah dari apapun.

Sheila dan Febi sama-sama mematikan kedua rokok mereka, speaker di mobil memutar lagu Mari Bercinta milik Sheila On seven. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dalam benak Febi. Seraya mobil mulai berjalan—ia menatap Sheila dari samping.

"Gue penasaran deh kenapa nama lo Sheila. Sedangkan nama tengah sama nama belakang lo 'kan ngambil dari nama mama dan papa lo."

"Hmm?" Sheila menatap sekilas ke arah Febi. Tiba-tiba sekali gadis itu bertanya perihal dirinya, "Lo nggak tau ya? Kalonya papa itu, suka banget sama band Sheila On Seven. Makanya nama gue di kasih nama Sheila."

"Aahh, i see. Pantes aja nama lo cuman Sheila doang."

"Iyaa. Gara-gara itu." Kaca jendela mobil, dengan sengaja ia buka lebih lebar, agar keduanya dapat menikmati angin malam ini. Kalau dulu 'kan, mereka selalu menggunakan motor untuk menikmati angin malam. Kalau sekarang, semuanya sudah berbeda.

"Lo tau?" Tanya Sheila. Febi langsung menggeleng sebagai jawabannya. Sheila tertawa kecil, pandangannya kembali lurus ke jalanan, "Akhir-akhir ini gue jadi kepikiran pengen namain anak gue dari nama band."

"Oh ya? Siapa tuh?"

"Rain. Dari band The Rain."

"Ada alasan, kenapa lo ngambil dari nama band itu?"

Sheila berhenti di lampu merah, ia menatap sekeliling guna mencari angkringan. Terakhir, tatapannya terkunci ke mata monolid Febi.

"Karena lagunya. Lagu Terlatih Patah Hati itu menggambarkan kita banget."

Febi sedikit meneguk ludah, "Gi-gimana?"

"Maksud gue, bukan nama anak gue. Tapi anak kita. Gue kepikiran kalo semisalnya kita punya anak, gue mau namain anak kita jadi Rain."

Febi mengalihkan pandangannya ke samping. Apa-apa an ini, ia jadi teramat salah tingkah mendengar keinginan Sheila.

"Nggak bapak, nggak anak, sama aja. Sama-sama mau namain anaknya dari nama band. Kayak nggak ada nama lain aja."

"Gapapa dong. Biar jadi ciri khas."

Sheila tertawa lepas sesudah berucap. Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini suasana di dalam mobil terasa hening, hanya lagu dari speaker mobil yang terdengar. Keduanya tak ada canggung, mereka sama-sama menikmati perjalanan indah ini.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang