Part 15

1.5K 109 14
                                        

Karena Kucinta Kau, banyak cinta yang mendekat.

Ku menolak.

Karna hanya kau yang ku inginkan.

Lagu Karena Kucinta Kau - BCL mengalun merdu di teras rumah Sheila. Keempat remaja tadi jadi bertambah satu personil. Siapa lagi kalau bukan Aninda Ratya Kale? Yang sekarang sedang bernyanyi karena tuntutan Justin dan Febi.

"Nggak nyangka suara Anin sebagus ini." Satria sebenarnya sarkas, tapi beneran bagus. Gimana dong?

"Siapa suruh lo di kelas make earphone terus! Padahal gue sering nyanyi di kelas."

Justin menatap tak suka dengan pembicaraan dua remaja itu, ada rasa cemburu di hati. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka kan hanya sebatas teman sekelas, tidak lebih. Ah, Justin mengutuki perasaannya sendiri yang selalu berlebihan itu.

Sedangkan di waktu dan tempat yang sama, dua sejoli tampak asik dengan gitar mereka. Sheila menatap jari-jari jemari Febi tengah menekan senar gitar. Secara reflek, Sheila membenarkan posisi jari Febi. Kuncinya salah.

Langit malam agak mendung kali ini. Mungkin beberapa jam kemudian, hujan akan turun lagi.

Melihat Sheila sangat fokus dengan jari-jarinya, Febi jadi tersenyum, "Kunci D Minor gimana sih?"

"Gini."

"Oh. Kalo D?"

"Gini."

"G Minor?"

"Gini."

"A Minor?"

"Gini."

"E—"

"Hp kan ada!"

Febi tertawa menatap wajah Sheila yang bersungut. Mengerjai Sheila memang menyenangkan, apalagi dengan ekspresi wajahnya saat kesal. Febi suka detik-detik wajah sebal Sheila.

"Gue nggak paham kalo baca tab."

"Baca tab gampang, malahan lebih enak belajar pake tab dari pada liat tutorial di YouTube."

"Apa bedanya?"

"Di YouTube sering nggak ada tampilan tab nya."

Menjelaskan secara rinci, Sheila seakan paham tentang gitar. Tahu menahu sehabis di jelaskan oleh Justin. Mempunyai coach teman sendiri—jauh lebih gampang di cerna. Begitu gitar yang di pangku beralih ke samping, Sheila berdiri ke ruang tamu, mengambil cemilan di meja supaya memiliki kesan yang baik terhadap tamu rumah.

"Dih? Tiap gue ke rumah lo nggak pernah tuh di suguhi cemilan, minuman aja nggak pernah." Febi jadi kesal, tangannya merebut toples kecil dari dekapan Sheila, memakan cemilan itu hingga sisa setengah. Si tuan rumah hanya mendelik malas, kemudian memberi cemilannya ke tiga orang itu.

"Thanks, Shei."

Sheila menangguk sebagai jawabannya.

"Eh guys. Sheila sama Febi coba belajar lagi main gitarnya. Ntar kalo ada duit, kita latihan di studio yuk?"

Sheila menatap Justin, mengangkat alis karena tak suka, "Harus banget latihan di studio?"

"Nggak gitu, Shei. Maksudnya tuh. Kan, seru kalo latihan di studio. Ada drum, ada bass, ada mic, ada gitar. Kurang apa lagi? Ada ampli nya juga. Beuh! Lo kalo main melodi pake gitar listrik langsung berasa jadi Malcolm Young!"

"Astaga, Justin," Balas Satria, menampilkan wajah sedih ketika gitaris favoritnya di bawa-bawa, "Orang yang lo sebutin udah meninggal.. ah! Jadi sedih lagi kan gue!"

"Udah lama juga loh? Masa lo masih sedih sih, Sat?"

"Tin. Sebenarnya gue nggak suka di panggil Sat. Kesannya lo pada kayak lagi bangsat-bangsatin gue."

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang