Niat awal pulang ke rumah hendak istirahat tidak jadi, malahan sekarang ia dan Dania telah duduk nyaman di dalam mobil milik sang ayah. Ternyata diam-diam, Dania sangat pandai mengendarai mobil. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sama sekali tak bisa menyetir kendaraan roda empat.
Febi itu terbiasa memakai motor ketimbang menaiki mobil, sebab, Febi ialah salah satu orang yang tak tahan dengan AC mobil. Kalau AC di kamar ia bisa saja menahannya, namun kalau di AC mobil, ia tak mampu. Contohnya sekarang, perutnya terasa mual meskipun baru 20 menit dirinya berada di dalam mobil.
"Kak Sheila semenjak nggak ada kakak jadi aneh banget."
"Aneh kenapa lagi?"
"Selain di sekolah, kak Sheila tiap habis magrib suka duduk di taman itu." Tunjuk Dania ke salah satu taman yang menjadi saksi biru terpisahnya mereka dan awal pertemuan mereka.
Ah, sudah 5 tahun tak melihatnya. Ternyata taman ini sudah di rawat dengan sangat baik, tidak seperti 5 tahun yang lalu—terlihat lusuh.
"Eumm, okey. Terus?"
"Kakak masih inget sama PS depan komplek? Tempat PS yang sering kakak mainin waktu dulu."
"Iya, inget."
"Nah, kak Sheila sering bawa temen-temennya kesana. Ih, kok Dania jadi ngasih info kayak begini sih? Padahal Dania tuh niatnya nggak mau kepoin apapun tentang kak Sheila, tapi hampir setiap hari Dania selalu papasan sama kak Sheila! Makanya Dania sampe hapal sama kegiatan kak Sheila yang macem-macem gini."
Febi tertawa mendengarnya, padahal tak masalah kalau Dania mau menceritakan apapun tentang Sheila. Lagi pula, hampir 5 tahun juga Febi tak mendengar kabar apapun tentang Sheila. Makanya ia masih tak percaya kalau Sheila bisa sangat berubah seperti ini.
Di pikir-pikir, kesan dirinya meninggalkan Sheila ternyata bisa sangat berdampak ya. Aduh, Febi benar-benar kacau membuat Sheila seperti ini.
"Nggak papa. Lagian kakak juga kepo sama dia."
Dania memutar malas bola matanya, ia menghidupkan lampu letting sembari melirik lewat cermin, "Kakak ada masalah apa sih sama kak Sheila? Kayaknya besar banget ya sampe asing kayak gini. Yah, nggak asing banget sih, cuman kerasa aja canggungnya kayak gimana. Bukan canggung deh, dari yang aku lihat, kayaknya kak Sheila benci banget sama kakak."
Kekehan kecil terdengar dari samping, Febi hanya dapat tertawa walaupun terasa sesak di dada. Apakah ini baik? Febi tidak tau harus berbuat apa pada saat itu. Kalau saja semuanya di bicarakan dengan dua pihak yang sama-sama mau memahami, ia yakin mereka sudah membuat banyak kenangan di kota ini. Atau bahkan keduanya sudah tinggal bersama di dalam satu rumah yang sama.
"Kepo."
"Ih!"
Belum saatnya Dania mengetahui tentang mereka, biarkan waktu yang menjawab semuanya.
Tak terasa selama di perjalanan yan membuat perut Febi mual, akhirnya mereka telah tiba di depan gerbang sekolahnya dulu. Ah, gerbang yang penuh kenangan ketika menunggu di jemput oleh orang terdekat.
Dania membuka kaca mobil, ia mendekati pos satpam, "Pak! Ijin masuk ya! Ada yang mau di ambil sama bu Meli."
"Oh, silahkan, nak! Masuk aja."
Pak satpam membukakan pintu gerbang, kini mobil yang di kendarai oleh Dania telah masuk ke lahan parkir guru. Saat mobil telah terparkir rapi, jari Dania kontan menunjuk ke arah mobil di seberang.
"Tuh, bener 'kan dugaan Dania. Ada mobilnya kak Sheila."
Febi ikut menoleh ke arah yang di tunjuk Dania, mobil sedan yang di kendarai Sheila pagi tadi. Ternyata memang benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Fiksi Remaja"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
