Part 27

1.1K 102 9
                                        

"Gitaris udah ada. Vokalis udah ada. Drummer juga udah ada. Sisa.. bass nya mana?" Justin melirik kesana-kemari, mencari kehadiran Satria nan belum muncul sama sekali. Lalu ia terdiam sejenak menatap Sheila dan Febi. Mereka benar-benar canggung, ia melihat jarak mereka berdiri sangatlah berjauhan. "Satria udah otw belum?"

"Udah di depan." Sambil menjawab, Febi coba untuk mengatur-atur suara gitarnya.

Kemudian Justin mencoba suara drumnya. Lalu Anin mengetes suara mic.

Sedangkan Sheila? Ia mencoba curi-curi pandang ke arah Febi, sebelum akhirnya ia meng-genjreng gitar sekali. Sheila menekan pedal efek distorsi, suara yang di hasilkan dari gitar ini masih menggunakan efek clean. Kalau ia memakai efek overdrive, nantinya malah menyatu dengan rhythm.

Cklek!

"Hi bitch. Sorry telat dikit, ada kendala di jalanan. Biasa, macet," Satria langsung mengambil gitar bass-nya, ia berdiri di samping Febi, "Udah pada ready semua 'kan?"

"Aman," Jawab Justin sumringah. Ia menatap Anin dengan senyuman cinta, lalu menatap Febi yang kebetulan melihat ke arahnya, "Feb, di intro pake efek overdrive. Ntar kalo Sheila udah selesai melodi, lo ganti ke efek clean ya."

"Oke."

"Trus kalo udah masuk ke lirik tak satupun yang aku sesali langsung ganti pake overdrive lagi. Pake efek itu terus sampe lagunya selesai. Rhythm nya jangan kecepatan, kita pake tempo santai aja. Dan lo, Shei. Tanpa gue jelasin kayaknya lo udah ngerti 'kan?"

Sheila mengangguk, "Iya."

"Gue ngapain?" Tanya Satria.

"Atur aja, abang 'kan panitia."

"Bangsat."

Mereka tertawa mendengar umpatan Satria. Beberapa detik mereka menertawai Satria, Justin mulai memberi arahan. Dan Febi—sebagai RHYTHM—mulai meng-genjreng gitarnya. Sheila mendengarkan dengan seksama, sampai pada akhirnya ia memasuki intro melodi lagu itu.

Entah ini hanya perasaan mereka saja atau bukan, mereka melihat seakan-akan cahaya di band ini hanya tertuju pada dua gadis remaja itu. Melupakan bahwa mereka masih dalam mode musuhan.

Setelah hampir setengah jam mengulik lagu itu, Justin meminta waktu break. Sekedar untuk minum air putih maupun melihat kondisi alat musik masing-masing.

"Eh, gue baru inget," Justin menaruh botol minum di samping kakinya, "Untuk pendaftaran event ini, kita harus punya nama band. Dari awal sampe sekarang kita sama sekali nggak pernah kepikiran bikin nama band. Kalian ada saran nggak?"

Sheila terdiam beberapa detik, ia memikirkan suatu hal nama yang membuat bibirnya tersenyum geli. Dirinya menatap Justin penuh harapan.

"Hujan Sore Hari."

Febi memiringkan kepalanya, ia agak keheranan dengan nama band yang di buat Sheila. Bukan hanya dirinya saja, mereka bertiga pun sama halnya kebingungan.

"Karena gue suka hujan di sore hari," Sheila tersenyum simpul. Sekilas melirik Febi lewat ekor mata, "Hujan-hujanan di waktu sore. Hujan-hujanan di waktu pulang sekolah. Hujan-hujanan di taman bermain. Gue suka itu."

Satria hampir menyemburkan cairan dari mulutnya. Ia kontan menatap Febi, dirinya sudah menebak kalau gadis itu tengah salah tingkah sendiri sambil di tutupi sebisa mungkin. Mungkin Sheila berkata seperti itu ada maksud dan tujuannya kepada Febi.

Lihatlah sekarang, Sheila menyembunyikan wajahnya dengan cara menghadap ke arah Justin.

Posisi mereka itu seperti ini. Justin berada di paling belakang karena ia adalah drummer, kemudian Anin tepat di depan Justin dengan jarak kisaran 1 meter, lalu di samping kirinya ada Sheila dan Satria, sedangkan Febi di sebelah kanannya.

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang