Tuhan.
Aku berjalan menyusuri malam.
Setelah patah hatiku.
Persis bagaikan lirik lagu kesukaannya papa-nya. Sheila berjalan menyusuri malam. Mengitari jalan trotoar, bermodal ponsel dan alas kaki sebagai tumpuannya. Serta dress hitam pekat nan masih menempel di tubuhnya.
Sheila tidak tau mengapa dirinya bisa mengungkapkan perasaan labil itu.
Yang ia tau, perasaan aneh sedari dulu adalah perasaan cinta. Perasaan yang menganggap bahwasanya ia jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri.
Sahabat sekaligus tetangga.
Yang sekarang, sudah menjadi mantan.
Tak ada lagi perdebatan kecil mereka di pagi hari, tak ada lagi kejahilan mereka yang selalu muncul, tak ada lagi senyuman dan sapaan. Dan tak ada lagi, sentuhan hangat maupun pelukan hangat di antara mereka.
Yang ada sekarang hanyalah kejauhan.
Sheila menghindari Febi dan Febi tidak mengejar Sheila.
Ia pikir, Febi akan mengejarnya maupun menahannya untuk tidak pergi, nyatanya tidak sama sekali. Ia di biarkan terlena dengan dinginnya malam yang mengusut. Sheila sangat membenci peristiwa ini.
Peristiwa yang membuat mereka jadi putus.
Hancur lebur.
Sejenak, Sheila berhenti dari langkahnya. Ia mengamati ponsel, memesan ojek online yang bisa mengantarkannya selamat hingga ke rumah. Baru beberapa detik ia memesan, notifikasi mas-mas ojek online langsung berubah jadi dalam perjalanan.
Sheila menunggu dengan rasa sedih nan kalut.
Ia tak berhenti menangis, bahkan dirinya sudah berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Kesedihan ini nampak berkepanjangan.
Selepas menunggu beberapa menit, mas-mas ojek online berhenti di depannya. Sheila kontan menengadah, tanpa berbicara langsung naik ke motor.
"Mbak ini asli manusia 'kan?"
Pertanyaan lugu dari mas-mas ojek online serta motor yang mulai melaju pesat membikin Sheila tersenyum, ia tertawa kecil menanggapi ekspresi laki-laki di depannya.
Masa orang secantik ini di bilang bukan manusia?
Di kira hantu kali.
"Saya manusia, mas. Manusia yang sedang patah hati."
Entah dari mana keberanian Sheila berbicara seperti itu, namun mas-mas ojek online tertawa lebar.
"Oh, pantes mbak nya kayak penunggu disitu. Ternyata lagi galau, ya?"
Penunggu?
Astaga.
"Iya, mas. Lagi galau banget gara-gara habis putus."
"Waduh. Orang secantik mbak putus? Saya nggak salah denger 'kan?"
"Nggak kok, mas. Mas nya nggak salah denger. Saya beneran habis putus."
"Siapa cowok yang berani mutusin mbak nya? Aduh. Secantik ini masa di putusin sih."
Sheila tertawa mendengarnya. Ternyata berbicara dengan mas-mas ojek online menciptakan hatinya jadi ceria.
"Saya yang mutusin, mas."
"Loh? Kenapa di putusin, mbak? Emangnya mbak ada masalah apa sama paca—eh, maksudnya mantan—"
"Cuman masalah kecil aja, mas. Mungkin.. emang salah saya aja yang terlalu buru-buru ngambil keputusan." Potong Sheila buru-buru.
"Maaf, mbak, kalo saya bikin mbak nya risih, tapi saya penasaran banget. Masalahnya apa toh, mbak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
