Part 20

1.5K 96 19
                                        

"Makasih udah jemput."

Febi turun dari motor, tak lupa, melepaskan jaket yang ia pakai. Di kasihnya jaket itu kepada pemilik aslinya. Sheila mengambil jaket itu dengan senyuman manis yang ia beri kepada Febi.

"Jangan ngambek lagi."

"Iya."

"Jangan tiba-tiba keluar malem kayak gini lagi."

"Iya."

"Jangan sendirian."

"Iya."

"Habis ini, jangan ngerokok. Gue pantau lo dari balkon. Awas aja."

Ah, Febi baru ingat akan janjinya kepada Sheila. Dengan tersenyum lebar dan mengangguk kecil, ia berkata, "Iya, Sheila, iya."

Sheila tersenyum lagi, "Yaudah, masuk."

Agaknya langkah Febi jadi berat untuk mendekati pagar rumah. Tatapannya pun jadi sendu ke arah Sheila. Ia ingin menginap, tapi dirinya terlalu malu untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan. Apalagi posisinya mereka baru berbaikan.

Melihat raut wajah Febi yang berubah itu, Sheila jadi memiringkan kepalanya ke bawah. Sheila ber oh ria, ia mulai paham apa kehendak pacarnya itu.

"Iya, gue nginep. Gue masukin motor dulu." Ucapnya seraya membuka pagar rumah, meninggalkan Febi yang sangat riang sampai-sampai tak segan untuk meloncat kecil.

Sehabis memasukan motornya ke dalam garasi, Sheila menghampiri Febi lagi, mereka berjalan dengan langkah kaki yang sama menuju rumah Febi.

"Kayaknya papah sama mamah udah bobo deh."

"Lo bawa kunci rumah nggak?"

"Nggak."

"Trus ini gimana masuknya bego."

"Hmmm. Ketok jendela Dania aja kali ya? Eh, tapikan dia udah bobo pasti. Apa lagi udah malem gini. Ih, gimana dong, Shei!?"

Sheila menghela napas pelan, "Yaudah, nginep di rumah gue aja."

"Gue takut ketemu nyokap lo."

"Emang kenapa?"

Seraya mereka berjalan untuk keluar dari pagar rumah Febi, ia membuka pagar rumah Sheila, "Bukan takut sih. Lebih kayak, males aja."

"Nggak boleh gitu sama calon mertua."

"Dih? Najis."

Sheila tertawa, ia mengambil kunci motor juga terkait kunci rumah di gantungan kunci itu, "Lo kan' pacar gue." Jawabnya sambil membuka pintu rumah.

Kegelapan langsung menerpa dua netra mereka. Sheila buru-buru mengunci kembali pintu rumahnya kemudian membawa Febi ke tangga. Ia terus menggenggam tangan Febi, tanpa hendak melepas hingga mereka telah sampai di dalam kamar.

"Eh, Shei. Punya charger lebih nggak? Baterai gue low banget, mau nge ces bentar."

Sheila menarik laci meja, mengambil charger berwarna hitam lalu mengambil paksa ponsel Febi yang tengah ia mainkan itu. Sheila langsung meng-charger ponsel Febi tanpa kata apapun.

Huft, kok ada ya manusia se-peka dan se-act of service ini? Tanpa di minta lagi.

Aduh, Febi kan jadi klepek-klepek kalau kayak begini. Eh, tapikan mereka hanya sahabat kan ya? Buat apa juga Febi merasa salah tingkah. Mereka kan hanya sahabat yang statusnya berpacaran.

Aduh, kalau di pikir-pikir, Sheila bikin Febi terbang mulu deh. Bikin melting.

"Biar gue aja yang ngechat nyokap lo," Sheila mengeluarkan ponselnya. Beberapa detik ia mengutak-atik benda elektronik itu. Selepas mengirim pesan kepada Clarissa, ia memberikan ponselnya ke Febi. "Mainin hp gue aja. Hp lo biarin di ces sampe penuh dulu."

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang