Part 13

1.5K 115 9
                                        

"Duduk sesuai nomor ujiannya ya. Silahkan di kerjakan, jangan ada yang menyontek."

Sheila memandang penghuni kelas, tak ada Febi disini, ia menjadi sedih lantaran gadis itu menepati bangku di kelas sebelah. Sekarang hanya ada kakak kelasnya yang bercampur dengan anak kelasnya. Beruntung sekali, Justin berada disini, bersama Sheila dan Anin.

Waktu ujian pun di mulai.

Semuanya terlihat serius terhadap kertas ujian di depan mata. Sheila mengerjakan dengan sangat hati-hati, tak sedikitpun soal di ujian ia lewatkan, benar-benar dicermati hingga dasar otaknya mampu menjawab.

Hampir setengah jam mereka berkutat dengan kertas ujian. Sheila berdiri dari duduknya, ia menghampiri meja guru seraya membawa kertas ujian, setelahnya ia keluar dari kelas.

Sheila terduduk di pinggir teras, ia mengamati kelas Febi dari pintu yang terbuka. Pandangan mereka bertemu, bibir Sheila tersenyum manis. Febi pun membalas senyuman Sheila, ia kembali fokus dengan kertas ujiannya.

Tak berapa lama, Justin keluar dari kelas, ia menghampiri Sheila lalu duduk di samping gadis itu. Sedikit memberi jarak sekitar setengah 1 meter.

"Anin itu.. orangnya gimana sih, Shei?"

Justin memulai pembicaraan. Si gadis pintar sedikit melirik ke arah jam tangan, masih ada 20 menit lagi jam istirahat akan berbunyi. Kemudian ia menatap Justin.

"Bawel."

"Selain itu?"

"Centil."

"Ada lagi?"

"Pundungan."

"Oke. Trus?"

"Lucu," Selesai menjawab, Sheila malah menatap Febi yang sangat serius dengan kertas ujian. "Dan cantik."

Sebenarnya Sheila berucap begitu karena memuji figur Febi. Menurutnya, Febi itu benar-benar cewek tercantik dan termanis di sekolah ini. Hanya saja terhalang dengan sikap tengilnya.

"Kalo itu mah udah jelas. Cewek gue emang lucu dan cantik."

"Emang udah pacaran?"

Justin cengengesan, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Soon."

"Sok banget lo."

Justin tertawa terbahak-bahak. Tawanya itu mengundang penghuni kelas menatap mereka, termasuk Febi yang tengah berjalan menghampiri meja guru bersama kertas ujian di tangannya. Febi melangkah keluar dari kelas, ia mendudukkan dirinya di tengah-tengah Justin dan Sheila.

Febi menghela napas berat, "Kenapa sih kalo hari pertama tuh selalu matematika yang di kerjain?!"

"Agama dulu keles!" Sahut Justin.

"Kalo agama, gue masih bisa toleransi. Tapi kalo matematika?!"

"Tanya kepsek sana." Timpal Sheila, sedikit tertawa ketika melihat bu Ratna berjalan ke tengah lapangan.

Febi jadi bergidik ngeri, bukan hanya dirinya saja, Justin pun begitu. Kalau melihat kepala sekolah, mereka selalu teringat dengan kejadian beberapa hari lalu.

"Eh, Tin. Bentar lagi lo kelas sepuluh ya?" Tanya Febi.

"Iya dong," Justin tersenyum tatkala melihat Anin yang duduk di sampingnya. Calon pacarnya itu telah selesai terhadap ujian di dalam kelas. Kepalanya mengangguk atas sapaan Anin, ia kembali menatap Sheila dan Febi, secara bergantian. "Kalian udah belajar gitar?"

"Belum." Jawab Sheila dan Febi kompak.

"Terus kapan mau belajar?"

"Abis ujian."

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang