Di pagi hari, tepat pukul 4 subuh, Febi berlari dengan terburu-buru ke kamar mandi. Lalu memuntahkan isi semua cairan yang ada di perutnya.
Sheila yang masih tertidur pulas, sontak terbangun saat mendengar suara muntahan dari pintu kamar mandi yang terbuka. Ia meraba-raba sekitar. Tak ada hasil yang di cari, Sheila membuka mata lebar-lebar.
Tubuhnya langsung tersentak, ia berlari ke kamar mandi, melihat Febi yang terduduk dengan wajahnya yang mengarah ke toilet duduk—membikin Sheila panik. Lagi dan lagi, Febi memuntahkan isi cairan dari perutnya.
Sheila membantu Febi, tangannya mengurut tengkuk gadis itu. Rasa kantuknya tergantikan dengan rasa khawatir, "Lo tuh bandel banget ya."
Kepala Febi menengadah, tersenyum ke arah Sheila yang mendelik sinis. Perutnya sudah mendingan sekarang. Ia berdiri lalu menghidupkan keran wastafel, membasuh wajahnya serta berkumur-kumur.
"Maaf."
"Lo sadar nggak sih sama apa yang lo lakuin itu hal yang nggak gue suka?"
"Iya, tau."
"Dan lo, ngelakuin itu lagi," Lirih Sheila, hampir seperti berbisik. Sungguh, hatinya merasa sakit kalau Febi seperti ini. Melakukan hal yang jelas-jelas merusak kesehatan tubuhnya. "Gue gak suka."
Febi sepenuhnya menghadap Sheila, "Maaf."
Hanya kata maaf yang bisa Febi ucapkan.
Sheila memalingkan wajahnya ke samping, sangat enggan menatap wajah Febi yang membuatnya kecewa itu, "Gue muak sama kata-kata maaf lo."
"Ma—oke. Gue janji nggak akan mabuk lagi."
"Gak usah janji kalo lo gak optimis sama omongan lo."
Febi terdiam, bahkan tak tau harus menjawab apa, memikirkan kata-kata pun ia tak sanggup. Merasakan kecewa di gadis itu, ternyata sampai di lubuk hatinya. Ia juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.
Tak ada yang berbicara. Hanya keheningan yang mengisi.
Sheila melangkah pergi dari kamar mandi, nampaknya Febi mengikuti dari belakang, tanpa ada pembicaraan di antara mereka. Sheila pun tak menyuruh Febi tuk pergi, ia biarkan gadis itu mengikutinya hingga ke rooftop rumah.
Rumah Sheila itu sangat istimewa. Walaupun sudah ada balkon di tiap masing-masing kamar, masih ada rooftop di atas rumah, dan kanopi sebagai penghalang paparan sinar matahari.
Sheila duduk di sofa panjang yang di sediakan oleh Faith. Keinginan tuk memiliki rooftop ini pun hasil dari papa-nya sendiri. Karena Faith sangat menyukai suasana langit. Rooftop ini sering di gunakan Faith sekedar melihat sunrise atau sunset.
Pandangan Sheila menghadap ke arah timur, menatap matahari terbit yang terlampau elok. Febi duduk di samping Sheila. Sengaja ia kasih jarak 1 meter, karena rasa canggung dan rasa bersalah tiba-tiba menghampiri benaknya.
Febi melakukan hal yang sama, menatap matahari terbit dari timur.
Febi memikirkan—apa yang harus ia lakukan supaya Sheila tak marah kepadanya? Febi tau suasana hati gadis itu sangat murka, seakan mau marah tapi tak tau harus berbuat apa. Karena Febi, sangat keras kepala dan susah untuk di nasihati lewat kata-kata.
Akhirnya, Sheila hanya bisa mengutarakan seperempat dari isi hatinya, yang kemungkinan kalau seratus persen di ungkapkan, pasti akan berakhir perdebatan yang berkepanjangan. Sheila tak ada tenaga jika harus berdebat dengan Febi.
Ah, Febi tak kuasa kalau harus berdiam-diaman seperti ini.
Dimana sifat bawel Sheila ketika memarahi dirinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
