"Laper nggak, Shei?"
Sehabis bercerita di latar sore hari—yang lebih muda mulai merasa lapar. Lantas bertanya sebab siapa tau Sheila juga merasa lapar. Jadinya kan mereka bisa memulai kegiatan baru berupa hal memasak, bukan hanya saling berpelukan hingga berjam-jam.
"Laper."
"Lo pengen makan apa?"
"Yang ada aja. Kebetulan gue bukan orang yang picky eater."
Febi kontan mengangguk, ia melepaskan pelukan hangat keduanya. Akan tetapi Sheila tak mau, malah menahan sampai Febi kembali jatuh ke dalam pelukannya.
"Please, deh. Gue mau masak, Shei."
"Nggak mau. Disini aja. Nanti aja makannya."
"Gue laper, Shei!" Sembari merengek, Febi meronta-ronta dalam pelukan Sheila.
Sheila memasang wajah masam, ia membiarkan Febi terlepas dari dekapannya. Meski begitu, tubuhnya ikut bangkit mengikuti arah langkah Febi. Yaitu ke dapur, mengambil beberapa alat masak dan bahan makanan.
Tak taunya Sheila malah makin menjadi-jadi. Febi yang lagi menuangkan air ke dalam panci, di peluk dari belakang, sama sekali tak ingin melepaskan pelukannya. Aduh, Sheila kalau lagi mode manja agak merepotkan.
"Lo bisa duduk nggak sih?!" Akhirnya Febi mulai kesal, dirinya kan paling tidak bisa kalau di ganggu seperti ini. Walaupun itu Sheila, ia akan tetap kesal. Apalagi menurutnya Sheila itu agak berlebihan.
Melihat wajah dan suara marah Febi yang menyeramkan, wajahnya langsung kikuk seperti anak kecil yang habis di marahi oleh ibunya. Sheila pun pasrah, menjauhi Febi kemudian duduk di kursi, menunggu si pacar membuatkan makan malam untuk mereka.
"Disini nggak ada gitar ya?" Tanya Sheila berbasa-basi. Ia juga mencoba mengalihkan pandangannya ke sekitar. Kalau menatap Febi, ia jadi takut tak berkutik.
"Nggak ada. Nggak usah nanya yang emang nggak ada disini."
"Jangan galak-galak gitu dong. Serem."
Oh iya. Sheila kok baru sadar ya kalau sekarang Febi benar-benar menjadi lebih galak. Kalau dulu kan kebanyakan bercanda, kalau sekarang kebanyakan serius dan cepat sensi.
Ah tidak, apa jadinya jika ia menikahi Febi? Bisa-bisa Sheila akan selalu tidur di luar karena kesalahan kecilnya.
Bayangkan saja, apakah kalian masih ingat tentang peraturan pertama? Yap, tidak boleh merokok di dalam, harus merokok di luar ruangan, dan tidak boleh melebihi 5 batang sehari. Aduh, ini mah namanya pembunuhan berencana. Meski ini adalah upaya agar dirinya menjaga pola hidup yang sehat, akan tetapi sangat terasa menyiksa bagi Sheila.
Lagi pula anak itu dulunya sangat pencandu berat—Febi—kenapa sekarang jadi sangat sehat ya? Hm, memang aneh. Benar sih, kalau tiap individu bisa berubah sewaktu-waktu.
"Habis makan kita jalan-jalan yuk." Ajak Sheila mencoba mencairkan suasana yang tegang ini.
"Ogah. Lo aja sendiri."
Ya Tuhan..
Sheila salah apa?
"Lo kenapa deh...." Tanya Sheila dengan sangat amat lembut dan hati-hati. Salah sedikit bisa langsung perang dunia ketiga.
"Nggak kenapa-kenapa." Sembari berucap, Febi meletakkan dua mangkok berisi mie kuah ke atas meja. Ia mengambil sendok, lalu di taruh dengan kasar di mangkok milik Sheila.
Sheila sungguh terkejut, perasaan tadi mereka saling mengungkapkan tentang perasaan masing-masing. Apalagi ucapan kata-kata manis. Akan tetapi, kenapa bisa secepat ini berubahnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Jugendliteratur"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
