Part 14

1.4K 104 9
                                        

"Febi mana?"

"Iya tuh, si Febi mana? Biasanya kan selalu bareng sama lo, Shei."

"Di rumahnya lah." Sheila terkekeh pelan.

Sehabis membeli gitar serta memiliki waktu senggang—nalurinya menyuruh Justin dan Satria untuk ke rumahnya. Ketiga remaja itu sedang duduk di kursi teras sambil menatap terik matahari di cakrawala. Aneh, sudah tau panas juga silau, tapi tetap di lihat.

Berlalu, pandangan Sheila turun ke Satria—sedikit tersenyum. Menurut amatan si gadis pintar, Satria itu tampan, memiliki paras gagah layaknya cowok-cowok Indonesia yang suka berprestasi. Memiliki banyak bakat.

"Muka lo mirip Mingyu."

"Mingyu pas masih kurus."

"Mingyu lokal. Bedanya ini Mingyu kurus plus ireng dikit."

"Bangsat."

Justin dan Sheila kontan tertawa begitu mendengar umpatan si cowok mirip Mingyu itu, idol Korea. Lagi pula, Sheila memang benar adanya. Satria memiliki kulit sawo matang tidak seperti Mingyu asli yang memiliki kulit putih.

Kemudian, cowok blasteran Barat itu menatap gitar yang di pangku Sheila. Bibirnya tersinggung, matanya menyipit.

"Gitar Yamaha FG-TA TransAcoustic ya, Shei?" Tebak Justin. Wajahnya menampilkan kondisi muka bangga.

"Iya kali. Mama gue yang milih."

Justin itu tau menahu mengenai semua jenis gitar, terutama gitar yang di pangku Sheila, sangat tak asing bagi dirinya. Walaupun ia jago bermain drum—dulu, dirinya pernah juga menjadi gitaris andalan.

Satria meletakkan gitar akustik Yamaha F310 ke pangkuan Justin. Tadi, sebelum kesini, keduanya sepakat membawa gitar lebih untuk Sheila belajar. Supaya lebih nyaman dan cepat di tanggapi.

Satria itu bermain bass, kalau bermain bass otomatis ia juga bisa memainkan gitar. Bedanya ia membawa gitar nylon atau klasik. Fretboard yang lebih besar, ternyata sangat pas di jari panjangnya.

"Bedanya gitar punya Satria apa, Tin?"

"Suaranya lebih gede."

"Oh."

"Emangnya lo bisa main bass pake gitar?" Sheila dengan mata yang menatap gitar di pangkuan Satria, sedikit mengubah posisi tubuhnya. Jadi bersandar ke kursi.

Satria memetik senar bass, ia memandang Sheila, "Kan ada bass nya juga."

"Gak paham."

"Yaudah lah, langsung ke intinya aja."

"Oke."

Jreng jreng jreng. Suara dari senar gitar terus di mainkan oleh ketiga remaja itu, di iringi sedikit pembicaraan kecil mengenai pemahaman akan gitar. Lamban laun, Sheila mulai lancar menekan senar, jarinya pun sudah mulai memerah. Sebentar lagi jarinya akan kapalan. Persis seperti ciri-ciri khas seorang gitaris.

"Coba main satu lagu." Ucap Satria.

"Lagu apa?" Justin berdehem kecil. Tangannya sesekali memetik senar gitar, kemudian menatap Sheila yang tampak gembira dengan praktek ini. Praktek belajar gitar maksudnya.

"Bukannya Aku Takut."

"Bego! Itu pake petikan anjir!"

"Kan ada rhythm nya dikit?"

"Terserah lo dah."

"Terus gue ngapain?" Sheila meng-genjreng asal gitarnya.

"Lo rhythm. Tapi genjreng ke bawah. Sekali gitu aja."

Us Relationship Never EndsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang