"Selamat malam. Para tamu undangan yang berbahagia, karena acara resepsi pernikahan akan segera dimulai sesaat lagi, kami mengundang hadirin sekalian untuk turut menyambut orang tua, saudara dan kebahagiaan kedua mempelai dengan berdiri di sisi kiri dan kanan membentuk pagar cinta bagi mereka."
Pada hari Minggu yang cerah, pelaksanaan pernikahan Sheila dan Febi di lakukan dengan haru perasaan. Semua yang ada di gedung ini berdiri, menyaksikan pembawa acara tersebut nan tengah berbicara di depan. Gedung ini di hiasi dengan sangat cantik, terlebih foto pernikahan Sheila dan Febi—terpampang jelas.
"Dengan penuh kebanggaan, mari kita sambut kedua mempelai yang sah ini. Tunangan kita, Sheila Zivana Faith dan Febi Claudya Kiandra."
Sheila berjalan di dampingi oleh Faith dan Vana, mereka terlihat seperti keluarga penuh misterius. Mulai dari Faith, berjalan dengan gagah bersama tatapan tajam khasnya, sembari menuntun Sheila di tengah-tengah.
Vana melemparkan senyuman tipis, berbeda dengan Sheila yang benar-benar datar. Setelah berdiri di atas panggung, tatapannya pun kian meneliti seluruh hadirin.
Kemudian Febi beserta kedua orang tuanya berjalan ke arah panggung. Tatapan semua hadirin tertuju pada mempelai terkasih. Terutama Sheila, tatapan yang tajam berubah penuh puja saat melihat sang istri.
Benar-benar cantik.
Gaun putihnya, riasan wajahnya, senyuman manisnya, benar-benar cantik.
Bukan hanya Sheila yang terpaku, Febi juga terpaku melihat penampilan Sheila. Dirinya memakai gaun yang sama, juga riasan wajah yang sama. Keduanya benar-benar cantik dengan penampilan masing-masing.
Sheila dan Febi berdiri saling berhadapan. Mereka tersenyum, Sheila berucap pelan meskipun Febi tak mendengarnya. Akan tetapi Febi dapat mengerti lewat pergerakan mulut Sheila.
Cantik.
Katanya.
"Dan hadirin kami mengajak anda untuk melayangkan pandangan anda kepada screen yang berada disamping saya, kita akan saksikan sedikit moment mengenai perjalanan cinta dari ke dua mempelai di dalam video prewedding dan pemberkatan mereka mari kita saksikan bersama."
Semuanya tampak fokus terhadap video prewedding Sheila dan Febi. Seraya menonton, Sheila dan Febi saling menyenggol, mereka tertawa selepas video keduanya di tampilkan. Juga tertawa mendengar kata-kata orang terdekatnya di akhir video.
"Selanjutnya, mari kita dengarkan ucapan dari kedua mempelai dengan perasaan haru. Sebelum pemberkatan nikah dan pembacaan doa di mulai, mari kita dengarkan sejenak."
Sheila dan Febi di berikan mic oleh salah satu tim yang bekerjasama dalam pernikahan ini, mereka di suruh berbicara mengenai isi perasaan masing-masing, juga menemani para sambutan hadirin. Sheila menarik napas, ia terasa gugup tatkala seluruh mata menatap ke arahnya.
Tangannya tiba-tiba di genggam oleh Febi. Tatapannya begitu terkejut, namun sang istri hanya tersenyum, seakan mencoba untuk menenangkan hati Sheila.
"Jujur sampai sekarang, saya masih nggak nyangka kalo saya bisa nikahin dia di hadapan saya."
Sorak tawa terdengar menggelegar ketika Sheila berbicara kikuk. Sheila yang merasa canggung lantas menatap Faith, ia seperti meminta tolong harus berbicara apalagi dirinya sekarang. Sheila itu 'kan termasuk orang yang tidak bisa mengungkapkan isi hatinya lewat perkataan.
Sang papa hanya tertawa melihat respon sang anak, ia pun bingung harus membantu Sheila dengan cara apa.
Dan Sheila, jadi terpikirkan pada kata-kata di tiktok. Ia berdehem, lalu berbicara, "Tidak perlu kata-kata yang penting bukti nyata. Karena saya telah menjadikan dia sebagai istri saya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Relationship Never Ends
Teen Fiction"Dih? Siapa juga yang mau sama lo?! O-G-A-H, OGAH!" -Sheila Zivana Faith "Eh anying! Lo pikir gue mau sama lo?! NAJIS!" -Febi Claudya Kiandra "Lo gila!" "Kalo gue gila, terus lo apa dong!?" "Lo stress tau gak! Masa ke angkringan pake kolor hello k...
