Selamat membaca
.
.
.
Begitu bell pertanda pulang berbunyi, siswa siswi SMA Nusa berbondong bondong keluar dari kelas. Menyudahi rutinitas wajib mereka, dan kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Namun, ada juga yang masih betah di sekolah. Entah itu kegiatan ekstrakurikuler, nongkrong bersama teman, atau remedial.
Aira dengan cepat memasukkan alat tulisnya ke dalam tas begitu melihat siluet Aidan di jendela kelasnya. Ia hanya ingin cepat pulang, takut diwawancarai oleh ketiga sahabatnya.
"Gue duluan ya, guys." tanpa menunggu balasan lagi, Aira buru-buru berjalan keluar dari kelas.
"Tuhkan apa gue bilang. Pasti Aidan sama Aira ada sesuatu," celetuk Anna sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, namun dengan tatapan yang tak lepas dari pintu kelas.
Linda pun mengangguk, setuju dengan opini Anna. "Sejak Aira dibawa Aidan tadi, sikapnya jadi makin aneh."
Dilain tempat, Aira sedang mengelus dadanya, merasa begitu lega untuk hari ini. Sebab, ia berhasil lolos dari sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Aidan yang sedari tadi memperhatikan tingkah Aira.
"Gara-gara Lo nih!"
"Lah?"
Sampai diparkiran, Aira masih terdiam. Aidan pun dibuat berpikir dimana letak kesalahannya. Mood cewek memang susah untuk dimengerti. Hingga mobil itu berhenti di depan mini market, membuat Aira yang tadinya hanya menatap keluar jendela menoleh pada Aidan.
"Mau es krim nggak?" tanya Aidan.
"Mau lah."
"Ambilin dompet di tas," titah Aidan yang langsung dituruti oleh Aira. Gadis itupun lantas membuka benda hitam yang agak tebal itu. "Buru, yang biru."
"Rasa apa?" tanya Aidan sebelum keluar.
Aira pun tampak berpikir. Menimbang nimbang rasa es krim apa yang ia inginkan. Setelah kurang lebih lima menit berpikir, gadis itu akhirnya membuka mulut. "Terserah."
"Dih, kayak cewek aja lu, Bol!"
Aidan dengan cepat berlari kecil memasuki mini market, menghindari segala bacotan yang akan keluar dari mulut Aira. Pemuda itu langsung menuju ke tempat dimana es krim berada. Ia juga mengambil asal tiga macam es krim. Beralih ke jajaran makanan ringan, Aidan mengambil dua bungkus saja.
Ia pun melangkahkan kaki jenjangnya ke kasir. Meletakkan barang yang ia beli ke meja dan disambut dengan ramah oleh penjaga kasir.
"Totalnya empat puluh satu ribu, Kak. Mau sekalian isi pulsa?" tanya penjaga kasir sembari tersenyum penuh arti.
Aidan balas tersenyum kemudian menyerahnya uangnya, "engga Kak, makasih. Hp saya masih kenyang."
"Duluan ya, Kak, pacar saya udah nunggu." Aidan berbalik setelah mengambil kresek berisi es krim dan makanan ringan yang ia beli, juga uang kembaliannya. "Gini amat jadi orang ganteng," gumamnya.
Aidan segera membuka pintu mobil dan mendapati Aira yang sedang garuk-garuk punggung. Ada saja hal tak terduga yang dilakukan gadis itu.
"Tolong dong, garukin punggung gue. Nggak nyampe nih tangan," titah Aira sesaat setelah Aidan menutup pintu kembali.
"Ck, cebol nyusahin," gumam Aidan tapi tetap saja menuruti perintah Aira. "Yang mana?"
"Ini! Nah, agak bawahan dikit... kerasin dikit, lembek banget sih jadi cowok. Pelanin bego, sakit!"
"Mau lu apa sih Cebol?"
"Nah gitu." Aira memejamkan matanya menikmati garukan yang diberikan Aidan. Walaupun ia tahu jika dibalik punggungnya cowok itu sedang mendumel tidak ikhlas. "Udah, makasih Aidan ganteng," ucap Aira yang kembali menghadap ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Young Marriage
RomancePernah kebayang menikah dengan tetangga sendiri? Terlebih jika kalian tidak pernah akur seperti Tom and Jarry. Itulah yang dirasakan oleh Aidan dan Aira. Kedua remaja itu terlibat perjodohan konyol dari nenek serta orangtua mereka yang mana mengharu...
