TYM -27-

184 5 0
                                        

Aidan menatap lembaran kertas ujiannya. Pensil ia jepit diantara hidung dan mulutnya. Pemuda itu kembali memeriksa lembaran soal yang telah ia kerjakan sembari menunggu waktu habis.

Pemuda itu merasakan sesuatu mengenai kepala bagian belakangnya. Mendapati kertas  yang diremas hingga menjadi bola kecil, tergeletak tak jauh dari kaki mejanya. Aidan menoleh ke belakang, ke arah dimana Fadil duduk, berjarak dua meja darinya. Feeling-nya mengatakan bahwa Fadil-lah pelaku dari lemparan itu.

Benar. Pemuda berkulit agak gelap itu sedang menatap Aidan dan remasan kertas tadi secara bergantian. Tatapannya seperti mengatakan 'ambil tuh kertas!'.

Aidan melirik pengawas ujian yang duduk di depan. Pandangan guru itu tak terlepas dari posisi duduknya, jadi Aidan dengan sengaja menjatuhkan pensilnya hingga menghasilkan bunyi.

"Maaf Bu, pensil saya jatuh," ujar Aidan memberi tahu guru yang sedang mengawas.

Guru bertubuh berisi itu hanya menatap sekilas Aidan lalu kembali fokus dengan ponselnya. Aidan mendengus geli, kemudian memungut pensil serta kertas yang dilemparkan Fadil tadi. Perlahan membuka remasan kertas itu dan membaca isi di dalamnya.

1
2
19
24
29
30
44

janji bakal gw traktir
thank u Aidan ganteng lov u

Kampret! Batin Aidan. Namun, Aidan tetap memberikan jawaban untuk Fadil. Kasihan jika temannya itu mengulang satu tahun.

Selesai menyalin jawabannya, Aidan kembali meremas kertas itu menjadi bulatan kecil. Tangan kanannya berisi kertas contekan untuk Fadil, tangan kirinya sibuk membuka kertas ujian, sementara matanya sesekali mengamati guru di depan. Begitu pandangan guru itu teralihkan dari posisi duduknya, Aidan segera melempar contekan untuk Fadil ke belakang. Hanya bermodalkan feeling, semoga saja kertas itu sampai pada Fadil.

Terdengar suara bersin Fadil, menandakan bahwa ia sudah mendapatkan kertasnya. Aidan hanya menipiskan bibir, menahan tawa yang siap meledak kapan saja.

Tak sampai sepuluh menit, bell pertanda waktu ujian selesai berbunyi dengan begitu nyaring.

"Waktu habis! Periksa kembali nama dan nomor ujian kalian sebelum dikumpulkan," perintah guru pengawas. "Letakkan pensil kalian semua!"

Sesuai perintah, seluruh murid yang ada di ruangan itu meletakkan alat tulisnya. Sang pengawas pun berjalan dari meja ke meja untuk mengambil lembar ujian.

"Ibu harap kalian semua lulus dengan nilai yang memuaskan." Si pengawas pun keluar sambil membawa map berisi lembaran kertas ujian.

Ruang ujian yang tadinya tenang kini riuh dengan suara-suara, entah suara syukur atau suara mengeluh. Mereka semua lega, akhirnya ujian telah selesai. Walaupun tak sepenuhnya lega sebab masih harus menunggu hasil ujian.

"Gilee, akhirnya selesai juga ujiannya. Pusing gue," celetuk Fadil yang sudah berdiri di samping Aidan yang masih duduk.

"Hallah, sok pusing lo!" hardik Aidan. Fadil hanya cengengesan sembari merangkul pundak sahabatnya itu keluar dari ruangan kelas. Mereka berdua berjalan ke ruangan sebelah dimana Riyan berada.

"Riyan sayang! Yuhuuu!" teriak Fadil dari ambang pintu.

Semua penghuni ruangan langsung menghentikan kegiatan mereka yang sedang membereskan alat tulis. Kecuali Riyan yang mengabaikan teriakan sahabatnya yang urat malunya itu sudah putus.

"Anjay ... gimana? Lancar nggak Yan?" tanya Fadil yang kini juga merangkul pundak Riyan, jadi ia sekarang menjadi pihak yang berada ditengah.

"Lancar jaya," jawab Riyan dengan santai.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Young MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang