18

17 5 0
                                        

Bapak benar. Aku mungkin tidak akan pernah bisa mencapai titik ini tanpa perannya. Darah Bapak mengalir deras dalam tubuhku, termasuk dendam yang kubawa setiap harinya. Bapak menganggapku sebagai benalu, padahal dia sendiri yang menyebarkan racunnya kepadaku.

Jujur saja aku semakin kepanasan tidak terima dengan semua ini. Aku semakin impulsif dan tak terkendali ingin membongkar semuanya di depan media. Namun, Miki dan Tarra melarangku, sebab bisa saja Bapak akan membungkam berita itu dalam-dalam seperti skandal masa lalu keluarganya. Atau mungkin, aku yang malah dituntut untuk kasus pencemaran nama baik. Maka pengakuan ke media bukanlah cara efektif.

Lantas aku akan berterus terang kepada Nala dan Gemmy―tanpa sepengetahuan Bapak. Aku ingin tahu apa reaksi mereka setelah mendengarkan semua ceritaku.

Aku meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Mengeluarkan sebuah amplop cokelat di dalam tasku. Isinya adalah salinan akta kelahiranku dan foto perkawinan Mamak dan Bapak.

"Apa ini, Bitta?" tanya Nala dengan kening berkerut.

Belum sempat aku menjelaskannya, tiba-tiba kehadiran Bapak mengejutkan kami semua. Urat matanya tajam berapi-api melihat amplop yang ada di tangan Nala. Segeralah Bapak merampas amplop itu dan membukanya secara kasar.

"Pergi kau dari sini! Saya tidak ingin melihatmu berada di rumah saya," tegasnya mengusirku secara kasar.

Nala dan Gemmy saling berpandangan. Mereka bingung dengan tingkah Bapak yang seperti kesetanan. Lantas Nala merampas balik amplop yang ada di tangan Bapak. Sekarang giliran Nala yang gemetar melihat foto-foto masa lalu Bapak. Nala meneteskan air matanya menatapku. "Jelaskan sebenarnya apa semua ini? Dan siapa kamu sebenarnya, Bitta?"

Aku mencubit pahaku sekeras tenaga sebelum menjawab pertanyaan Nala. Hatiku terus berucap; sudah seharusnya mereka tahu siapa aku.

"Saya adalah anak kandung dari Bapak Sukaryo," ralat. "Maksudku adalah Karsa Aranantyo. Foto itu adalah foto pernikahan Bapak dan Mamak saya. Dan kehadiran saya di sini adalah ingin mengungkapkan kebenaran kepada kalian―bahwa saya adalah anak dari Bapak."

Gemmy refleks menamparku. Urat matanya tak kalah tajam membara. "Nggak usah ngaku-ngaku. Pergi lo dari sini. Kehadiran lo cuma merusak keluarga gue."

Gemmy mendorongku dengan paksa, sementara Nala masih terisak-isak berusaha menenangkan diri. Lalu Bapak, dia tak berkutik sedikit pun.

"Tunggu." Bapak mencegahku keluar dari rumahnya.

"Bintang, kamu sudah keterlaluan dengan keluarga saya. Kalau kau masih seperti ini, saya tidak akan mau berperan dalam naskah yang kamu buat. Bukan hanya itu saja, sekali lagi kamu bertindak gegabah, apalagi mengakui dirimu di depan media, saya bersumpah akan membuat hidupmu hancur sedalam-dalamnya―meskipun kamu adalah anak kandung saya sendiri. Saya tetap akan tega membunuhmu jika itu bisa membuat hidup saya dan keluarga saya aman. Ingat ucapan saya."

Bapak dan Gemmy menutup pintu dengan kasar. Dengkulku mendadak seperti melayang. Melangkah pun rasanya tidak bisa. Bahkan air mata menjadi kering tidak mau menetes. Aku seperti hilang arah. Runtuh tak berdaya.

Vertigoku kambuh mendadak. Aku mengorek isi tas dan mencari obat vertigo. Kukeluarkan semua isinya dengan tangan gemetar. Sempat impulsif ingin menelan seluruh obat untuk melepaskan rasa sakit ini. Namun yang terjadi, salah satu asisten rumah tangga tak sengaja menabrakku hingga membuat seluruh obat-obat terkapar ke lantai. Kepalaku semakin sakit bak tertusuk paku. Cepat-cepat dia membantuku menelan satu obat dan membawaku ke pos satpam untuk beristirahat sejenak. Aku memejamkan mata selama beberapa menit. Dan setelah membuka mata, satpam rumah memberikanku air hangat. Mereka tampak mengkhawatirkanku. Ketika sudah merasa tenang, aku mulai tersadar bahwa jika tidak ada asisten rumah tangga dan satpam yang membantuku, mungkin saja beberapa menit lalu nyawaku sudah berada di alam baka. Mati konyol demi sebuah pengakuan; mengemis kasih sayang untuk orang yang tidak pernah menganggapku ada.

Star On the StageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang